Tobey Maguire Berperan Epik di Film Spider-Man Terbaik. No Debat, No Kecot! – Terminal Mojok

Tobey Maguire Berperan Epik di Film Spider-Man Terbaik. No Debat, No Kecot!

Artikel

Raden Muhammad Wisnu

What a good time to be alive. Saya sangat bersyukur bisa hidup di dunia ini karena lahir pada 1992. Generasi saya menyaksikan begitu banyak perubahan dalam hidup, mulai dari pemakaian disket hingga flashdisk, kaset pita hingga era Spotify, dan menyaksikan banyak film-film superhero yang dulu hanya kami saksikan lewat komik dan film kartun. Oleh karenanya saya berani menobatkan Tobey Maguire sebagai pemeran film Spider-Man terbaik.

Saya ingat ketika saya kelas 4 SD ketika Spider-Man (2002) pertama kali muncul di bioskop. Semua orang di lingkungan terdekat saya membicarakannya dan saya merasa tertinggal karena tidak menyaksikannya di bioskop. Saya hanya menyaksikannya di DVD beberapa bulan setelahnya.

Tidak hanya itu, berbagai stasiun televisi Indonesia menayangkan trailer film ini setiap beberapa jam sekali. Banyak anak SD memakai tas bergambar Spider-Man, alat tulis bergambar Spider-Man, hingga buku tulis bergambar Spider-Man, baik merchandise original ataupun bajakannya. Hype ini terus berlanjut hingga Spider-Man 2 (2004) dan berkurang saat Spider-Man 3 (2007), yang dianggap gagal.

Meskipun hampir dua puluh tahun berselang dari perilisan pertamanya, Spider-Man yang diperankan Tobey Maguire adalah Spider-Man terbaik yang pernah saya saksikan, jauh dibandingkan dengan Andrew Garfield dan Tom Holland. Kalau ditanya mana film Spider-Man terbaik ya tentu yang dibintangi Tobey Maguire, lainnya lewat. Tentu, saya punya alasan.

#1 Jauh lebih berkesan

Jauh sebelum era cinematic universe ala Marvel dan DC berkembang, Spider-Man (2002) bisa saya katakan sebagai gerbang pembuka dari kejayaan film superhero, bahkan gerbang pembuka bagi Trilogy Batman karya Christopher Nolan. Tanpa adanya Tobey Maguire sebagai Spider-Man, tidak akan ada Trilogy Batman, DC Extended Universe maupun Marvel Cinematic Universe. Memang, tahun 2000, X-Men difilmkan dua tahun sebelum Spider-Man, namun kesuksesan Spider-Man kala itu jauh di atas X-Men. Saya ingat betul, pertama kali menyaksikan Spider-Man dalam wujud manusia, bukan wujud kartun, saya betul-betul merinding.

#2 Musik pembuka yang epik

Musik pembuka di Trilogy Spider-Man karya Sam Raimi sangatlah membuat saya merinding. Bahkan keseluruhan 23 film Marvel Cinematic Universe saja tidak bisa dibandingkan dengan musik pembukanya. Tidak banyak film di zaman sekarang yang memiliki musik sekuat ini.

Musik yang ditulis oleh Kyle Cooper dan dimainkan oleh Danny Elfman seakan merepresentasikan sesuatu yang “amazing” akan terjadi dari detik pertama. Dari logo Columbia yang mengacungkan lampu hingga penggambaran tentang bagaimana seorang superhero lahir, bagaimana seorang penjahat bangkit, dan bagaimana seorang legenda ditampilkan. “With a great power, comes great responsibility.” Semuanya dikemas dengan sangat baik.

#3 Simbol kedewasaan Spider-Man

Spider-Man yang diperankan oleh Andrew Garfield dan Tom Holland memiliki grafis yang jauh lebih mengagumkan daripada Spider-Man yang diperankan Tobey Maguire, tentu saja. Apalagi Spider-Man versi Tom Holland bergabung dalam Marvel Cinematic Universe. Namun, saya dapat menyimpulkan, bahwa Spider-Man yang sesungguhnya adalah Tobey Maguire. Andrew Garfield hanyalah “Spider-Teen” yang fokus pada drama percintaannya. Sedangkan Tom Holland hanyalah “Spider-Boy” yang fokus pada kekonyolan yang dibuatnya.

Memang, jika merujuk pada komik dan kartunnya, Andrew Garfield dan Tom Holland merepresentasikan Spider-Man yang jenaka, tidak seserius Tobey Maguire. Namun, proses pendewasaan sesungguhnya hanya dialami oleh Tobey Maguire. Dari seorang anak SMA yang sering dibully hingga menjadi superhero. Dari seorang anak SMA yang hanya bermimpi untuk menjadi kekasih Mary Jane Watson hingga menjadi seorang yang menyebalkan di Spider-Man 3 karena pengaruh symbiote.

Puncaknya ada di film Spider-Man 2 ketika Tobey Maguire kehilangan kekuatannya karena patah hati melihat Mary Jane yang akan menikahi John Jameson, orang yang dijuluki sebagai Pahlawan Nasional Amerika karena dia adalah astronot pertama yang bermain rugby di Bulan. Tidak hanya itu, dia pun gagal dalam sejumlah mata kuliahnya di universitas dan dipecat dari Daily Bugle karena foto yang dia ambil dianggap tidak bagus oleh bosnya, J. Jonah Jameson yang merupakan ayah dari John Jameson.

Belum lagi, dia dituduh oleh sahabatnya sejak kecil, Harry Osborn bahwa dia telah mengkhianatinya dengan merebut kasih sayang ayahnya, Norman Osborn, dan merebut cintanya, Mary Jane. Hal ini juga diperparah dengan Harry Osborn yang menganggap Peter Parker berusaha melindungi Spider-Man. Padahal Spider-Man dituduh telah membunuh Norman Osborn.

Andrew Garfield dan Tom Holland tidak mengalami hal sekompleks ini dalam hidupnya. Bahkan, mereka berdua tidak mengalami bagaimana bokeknya seorang Peter Parker sehingga harus bekerja sebagai pengantar pizza sembari berkuliah fisika dengan status beasiswa di universitas di Kota New York yang sibuk, sekaligus menjadi Spider-Man, menyelamatkan orang lain secara sukarela. Inilah kekuatan sejati dari Tobey Maguire sebagai Spider-Man. Tidak heran jika film Spider-Man terbaik bagi saya adalah yang diperankan oleh Tobey Maguire.

#4 Adegan yang sangat berkesan

Andrew Garfield bisa saja memiliki kostum yang ciamik dilengkapi dengan perangkat web-shooters di lengannya yang keren. Tom Holland bisa saja memiliki kostum Spider-Man karya Tony Stark dan ikut bertarung melawan Thanos. Namun, tidak ada yang bisa menandingi adegan Tobey Maguire sebagai Spider-Man yang berciuman dengan Mary Jane. Terlalu legendaris. Sebuah ciuman dalam keadaan terbalik pada dini hari yang gerimis. Sangat romantis dan berkesan.

Pun, tidak bisa dibandingkan dengan adegan Tobey Maguire yang berusaha menyelamatkan kereta di Spider-Man 2 ketika melawan Dr. Otto Octavius. Sebagus apa pun adegan pertarungan Andrew Garfield melawan Electro dan adegan pertarungan Tom Holland melawan Thanos.

Akhir kata, Tobey Maguire adalah Spider-Man yang memiliki sisi gelapnya tersendiri, lucu, dan seimbang sebagaimana harusnya jika dibandingkan dengan Andrew Garfield dan Tom Holland. Dengan ini saya telah memilih film Spider-Man terbaik versi saya. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada mendiang Stan Lee yang telah menciptakan Spider-Man, yang saya anggap sebagai karyanya yang terbaik. Karyamu abadi dan menginspirasi banyak orang!

Sumber gambar: YouTube Everything Always

BACA JUGA Mari Bersepakat bahwa Rocky Adalah Film Olahraga Terbaik Sepanjang Masa dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Baca Juga:  Kepada Sony Pictures, Spider-Man Sudah Tak Membutuhkanmu Lagi Meski Pernah Jalan Bersama
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
55


Komentar

Comments are closed.