Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pemerintah Akui Istilah New Normal Salah. Lho, Bukannya Sudah Serbasalah sejak Awal?

Emerald Magma Audha oleh Emerald Magma Audha
19 Juli 2020
A A
istilah new normal salah diganti adaptasi kebiasaan baru mojok.co

istilah new normal salah diganti adaptasi kebiasaan baru mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya baru baca kabar kalau pemerintah akhirnya mengakui bahwa mereka salah dalam menggunakan istilah “new normal” selama masa pandemi Covid-19. Katanya istilah new normal mesti diganti menjadi adaptasi kebiasaan baru. Alasannya sih, istilah new normal yang sering digaungkan pemerintah belum cukup dipahami masyarakat.

Gaes, kalian pada cengok nggak sih? Kalau saya… banget. Rasanya pengin bilang langsung ke pemerintah, “Oh, baru nyadar?!”

Diksi new normal mulai dipropagandakan pemerintah sejak Mei lalu dalam narasi utama “berdamai dengan Corona”. Dan sebelumnya, pemerintah sendiri telah menargetkan agar “kurva Corona harus turun pada bulan Mei apa pun caranya”, disertai dengan “kurva Juni dan Juli di posisi sedang dan ringan”.

Alih-alih turun, faktanya justru sebaliknya. Beberapa waktu setelah penerapan new normal, Juni kemarin justru mencetak rekor kasus baru harian sampai nembus seribu kasus, dan itu bertahan selama berhari-hari.

Lalu Juli ini, muncul rekor baru lagi, pertama kalinya ada 2.657 kasus harian. Melihat data-data itu, saya jadi bertanya sendiri. Apa sih new normal yang dimaksud pemerintah harus dicapai “apa pun caranya” Mei lalu?

Semula saya mengira, ketika pemerintah mengetahui jumlah kasus belum turun pada Mei lalu, mereka akan ekstraserius menangani corona. Misalnya dengan memperketat PSBB, memperbanyak tracking kasus, menaikkan insentif untuk tenaga kesehatan, dan memperluas cakupan masyarakat yang menerima bansos.

Soalnya data udah bicara. PSBB, dalam studi oleh Media Wahyudi Askar dkk., terbukti efektif membatasi pergerakan masyarakat dan menekan penyebaran virus. Menurut beberapa skenario dalam studi itu, angka penyebaran kasus bisa ditekan cukup signifikan sampai titik terendah selama PSBB diperketat dan terus dioptimalkan (terutama untuk daerah yang kasusnya tinggi). Sebaliknya, skenario PSBB yang diperlonggar merupakan skenario terburuk karena diprediksi bikin lonjakan kasus yang tajam.

Namun, pemerintah lebih memilih menggemakan new normal. Termasuk dengan bikin lomba video yang oleh Kemendagri dibikin berhadiah ratusan miliar.

Baca Juga:

Apa sih Pentingnya Meminta Terawan Tampil ke Publik?

Mudik di Masa Pandemi: Lebih Horor Ketimbang Menetap di Jakarta

Padahal banyak pihak sudah mengkritik dan mengingatkan langkah pemerintah agar jangan terburu-buru menerapkan new normal jika kondisinya tidak memungkinkan. Pemerintah sendiri menyampaikan, penerapan new normal harus dengan protokol kesehatan yang ketat.

Namun, menurut Ahmad Arif, dalam komunikasi massa, publik biasanya hanya menangkap kesan pertama yang menyenangkan, lalu mengabaikan anjuran berikutnya yang memberatkan. Apa yang dikatakan Ahmad Arif ada benarnya. Bahwa kesan pertama yang ditangkap masyarakat dalam narasi new normal cenderung fokus ke kehidupan yang telah berjalan normal kembali.

Menurut I Nyoman Sutarsa dkk., narasi new normal dapat membangun rasa aman yang semu. Oleh karena adanya anggapan bahwa pandemi telah terkendali. I Nyoman Sutarsa dkk. pun mengingatkan pemerintah untuk menyertakan stategi komunikasi risiko yang lebih efektif bagi masyarakat lokal jika ingin terus memberlakukan new normal.

Dari situ, semestinya pemerintah belajar untuk memperbaiki manajemen komunikasi publik dalam situasi wabah agar tepat dan komprehensif. Alih-alih menimbulkan kesan “menyalahkan” masyarakat dengan komentar semacam, “Masyarakat cuma fokus pada kata ‘normal’-nya saja.”

Di sisi lain, yang lebih penting bukanlah soal istilah new normal itu salah atau nggak, atau mana istilah yang lebih tepat. Pemerintah nyatanya sudah salah sejak awal dalam menerapkan kebijakan new normal secara terburu-buru.

Pada 16 April lalu, WHO memunculkan istilah new normal dalam protokol panduannya bagi negara yang ingin melonggarkan kebijakan penanganan Covid-19. Dalam panduan itu, sebelum negara melonggarkan kebijakan, ada enam kriteria yang harus dipenuhi.

Saya nggak perlu paparin semua kriteria itu. Atau menganalisisnya secara ndakik-ndakik apakah semua kriteria itu sudah dipenuhi pemerintah atau belum. Kita bisa lihat hanya dari kriteria pertamanya, yaitu: penularan Covid-19 telah terkontrol.

Untuk mengetahui terpenuhi/tidaknya kriteria pertama itu, kita cukup mengajukan pertanyaan retoris semacam, “Sudahkah penularan corona terkontrol sebelum pemerintah mulai menggemborkan new normal pada Mei lalu?”

Kalau pertanyaan retoris tadi belum cukup, mau tidak mau saya perlu menyampaikan repetisi atas jawaban pertanyaan tadi. Bahwa alih-alih mengetatkan kebijakan penanganan wabah saat kurva Mei (sampai Juni-Juli) gagal turun, pemerintah malah nyaring menarasikan new normal.

Terlepas dari semua paparan tadi, saya sadar betapa dilematisnya pemerintah dalam memilih lebih mengutamakan mana, antara kesehatan atau ekomoni. Dan saya merasa salut dan bangga atas sikap pemerintah yang rela mengakui kesalahan pemakaian diksi new normal. Ini seriuuus….

Siapa tahu kan, dari pengakuan salah itu menjadi titik awal bagi pemerintah untuk mengakui sejak awal mereka sudah salah. Misalnya, pengakuan kesalahan karena kurang antisipatifnya langkah pemerintah, yang malah meremehkan Covid-19 sejak awal dengan berbagai kelakar pejabat.

Atau misalnya lagi. Pengakuan kesalahan soal bermasalahnya pelaksanaan program Kartu Prakerja saat pandemi ini. Berdasarkan temuan KPK, metode pelatihan daring dalam program Kartu Prakerja berpotensi fiktif, tidak efektif, dan merugikan keuangan negara. Atau pengakuan kesalahan lainnya.

Saya membayangkan, kalau saja semua kesalahan-kesalahan itu tidak terjadi, mungkin saja sekarang ini kita sedang menikmati keadaan “new normal” yang sejati: penyebaran virus bisa ditekan dan terkendali, sekaligus denyut ekonomi yang menggeliat.

BACA JUGA Rakyat Protes New Normal, Pemerintah Berlalu dan tulisan Emerald Magma Audha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: adaptasi kebiasaan barunew normalwabah corona
Emerald Magma Audha

Emerald Magma Audha

Penyuka bolu kukus gula jawa dan wafer coklat

ArtikelTerkait

panduan merawat mobil selama pandemi bengkel mojok.co

Panduan Merawat Mobil yang Jarang Dipakai Gara-gara Pandemi

26 Mei 2020
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Merindukan Sepak Bola Indonesia lewat Cerita Lucu Para Pencintanya

20 Juli 2020
mahfud MD

Mahfud MD Guyon Corona Seperti Istri, Untung Nggak Nyinggung Bola Soalnya Pasti Lebih Bahaya

27 Mei 2020
tiket kereta, Berbagai Hal Ini Bisa Kamu Lakukan Saat Sumpek di Kereta

Anak Rantau Mari Menangis, Harga Tiket Kereta Sekarang Setara Tiket Pesawat

10 Juni 2020
panduan new normal

Apa yang “New” dari Kitab “Panduan New Normal” yang Dikeluarkan Badan POM?

27 Mei 2020
Dari Mbak Nora Kita Belajar, Kebebasan Ekspresi Bukan Tanggung Jawab Pasangan 5 Hal Yang Bisa Diteladani Kaum Muda dari Sosok Jerinx ilmu pengetahuan dan teori konspirasi

3 Cara Menjadi Penggiat Teori Konspirasi

30 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.