Apa sih Pentingnya Meminta Terawan Tampil ke Publik?

Artikel

Avatar

Berhentilah meminta Menteri Kesehatan Letjen Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad. buat tampil ke publik. Ia bukannya tak mau bicara soal penanganan Covid-19. Terawan justru sedang menjalankan laku #dirumahaja yang direkomendasikan pemerintah pada awal wabah. Sungguh suri tauladan yang masya Allah.

Itu satu versi teori konspirasi ala saya.

Teori versi lain, barangkali Terawan sedang “dirumahkan” oleh Presiden. Ibarat pemain sepak bola, Terawan itu kiper utama yang keterlaluan sering blundernya, lalu anjlok kasta menjadi kiper ketiga.

Soalnya, di awal pandemi, Terawan adalah salah satu pejabat yang lantang cuap-cuap menyangkal keberadaan virus corona di Indonesia. Mulai dari ajakan buat enjoy saja saat ancaman wabah mengintai, arahan memakai masker hanya untuk yang sakit, sampai bilang Covid-19 bisa sembuh sendiri.

Alhasil, Presiden kemudian membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada 13 Maret 2020. Terawan hanya diberi jabatan normatif selaku pengarah. Ketua Gugus Tugas dijabat Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo dan Juru Bicara Gugus Tugas dijabat Kolonel CKM (Purn.) Achmad Yurianto.

Setelah Gugus Tugas menjalankan perannya, frekuensi Terawan muncul ke publik menurun. Ia lalu kalah pamor dari Achmad Yurianto yang tampilan masker dan batiknya selalu dinanti setiap sore. Juga kalah dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atau Menteri Segala Urusan Koordinator Kemaritiman dan Investasi Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan, M.P.A.

Setelah Gugus Tugas dibubarkan dan Presiden Jokowi membentuk Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Terawan tak kunjung jadi starting lineup. Menkes hanya menjabat sebagai wakil ketua komite bersama lima menteri lainnya.

Walau begitu, menteri yang ditransfer dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di awal musim pembentukan kabinet itu memang sempat curi-curi peran dari bangku penonton. Sekali-dua kali dia bicara di depan wartawan. Eh, itu pun masih blunder.

Baca Juga:  Konflik Khofifah-Risma Adalah Contoh Sinetron yang Baik

Misalnya, setelah ditegur Presiden soal serapan anggaran kesehatan yang rendah pada 28 Juni 2020, Terawan justru bilang ke Badan Anggaran DPR bahwa serapan yang rendah disebabkan jumlah pasien yang sakit sedikit.

Pun saat Anies Baswedan mengumumkan kedaruratan situasi wabah di Ibu Kota dan hendak menarik rem darurat pada medio September 2020, Menkes malah berujar rumah sakit di Jakarta masih sanggup menampung pasien.

Publik kembali mengelus dada.

Nah, melihat Terawan yang belum kapok blunder, apa sih pentingnya mendesak doi buat tampil ke publik lebih sering? Apalagi sampai bikin kumpulan meme ala tim Mata Najwa agar Menkes nggak malu-malu lagi bicara ke media. Duh, norak banget.

Sudah, serahkan saja posisi “penjaga gawang” dalam pertandingan melawan pandemi, ke kiper yang kemampuannya lebih paripurna. Toh, Luhut Pandjaitan–yang ditunjuk Jokowi buat menekan angka kasus Covid-19 di sembilan provinsi–cukup menguasai banyak hal. Ia berpengalaman di bidang militer, politik, hingga bisnis tambang dan kelapa sawit. Nggak perlu deh orang kesehatan cawe-cawe terlalu dalam soal penanganan pandemi. Serahkan semuanya pada TNI, Polri, dan Pam Swakarsa yang mau dihidupkan lagi itu.

Iya, saya tahu kalian pasti rindu sama jokes bapak-bapak ala Terawan Agus Putranto. Saya tahu, kalian juga merasa Kementerian Kesehatan perlu dapat porsi lebih banyak dalam penanganan wabah. Namun, tolong mengertilah, saat ini Pak Menkes sedang berlatih keras buat naik kasta lagi jadi kiper utama. Kalau kiper pertama cedera, Terawan pasti bakal masuk daftar pemain cadangan. Nah, kalau kiper kedua cedera…

… ya kiper pertama yang sudah prima dimainkan lagi lah.

BACA JUGA Menteri Terawan Tak Lagi Sama, Sebuah Teori Konspirasi

Baca Juga:  Selain Masker, 4 Produk Rambut dan Dapur Ini Juga Laris Manis selama Pandemi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
78


Komentar

Comments are closed.