Menghargai Telemarketer dengan Nggak Perlu Marah-marah Saat Menerima Teleponnya

Artikel

Seto Wicaksono

Selalu ada tantangan dari setiap pekerjaan, apa pun jenis dan bagaimana cara kerjanya. Salah besar jika menganggap saat ini, di zaman yang serba cepat ini, tidak ada pekerjaan yang tidak melibatkan target. Apalagi jadi seorang staf telemarketing. Dikit-dikit dikasih target dan wajib tercapai.

Jujur saja, saya sendiri tidak asing dengan tugas dan tanggung jawab telemarketing, bagaimana proses kerja dan kesulitannya karena memang pernah berada di ruang lingkup ini. Saya juga hampir selalu berbincang secara langsung dengan para user, team leader, maupun staf telemarketing untuk berbagai kebutuhan.

Barangkali, kita semua juga menyadari bahwa selain target, salah satu tantangan terbesar menjadi seorang telemarketer adalah telepon yang sering kali ditolak oleh para calon nasabah.

Sekalinya telepon diterima atau direspon, malah diketusin. Sekalinya nggak diketusin dan diterima dengan baik teleponnya, udah jelasin tentang produk dan lain sebagainya, eh belum tertarik sama produk yang ditawarkan. Yang paling parah, malah dimarahin karena dianggap mengganggu dan bikin risih.

Padahal, kita semua seharusnya bisa menghargai para telemarketer. Nggak perlu sampai dimarahin, dibentak, atau dicaci maki kalau dapat telepon tentang penawaran produk. Mereka itu lagi kerja, usaha, untuk menafkahi diri sendiri dan/atau keluarga.

Apalagi, para telemarketer juga selalu memulai percakapan dengan sopan dan ramah sesuai dengan SOP yang berlaku.

“Halo, selamat pagi. Saya dengan … dari PT ingin menawarkan produk/jasa … berkenan jika kita lakukan percakapan saat ini, Pak/Bu?”

Begitu kira-kira awal mula percakapan yang mereka lakukan.

Meski tidak bisa dimungkiri, biasanya setelah itu mereka akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk meraih ketertarikan pelanggan agar mau menggunakan dan/atau membeli produk yang ditawarkan. Bahkan tak jarang menggunakan nada bicara yang sangat antusias dan smiling voice yang memukau.

Baca Juga:  Suka Duka Menjadi Mahasiswa “Nglaju”

Sayangnya, antusias dan semangat bekerja mereka tidak dibalas dengan hal serupa. Sebagai pelanggan, menolak atau tidak tertarik dengan suatu penawaran sangatlah wajar. Yang tidak wajar adalah menolak sambil marah-marah, apalagi sampai mencaci maki. Dan tidak sedikit telemarketer yang mengalami hal tersebut. Namun, karena sudah terbiasa dan mental sudah terasah, mau tidak mau harus tetap berusaha menelepon calon pembeli lainnya.

Oleh karena permasalahan tersebut, saya akan coba menawarkan alternatif bagaimana cara merespon telepon dari para telemarketer tanpa harus marah-marah dan tetap menghargai usaha mereka sebagai sesama manusia sekaligus pekerja biasa yang sedang mencari nafkah.

#1 Tidak perlu merespon teleponnya, diamkan saja

Ya, daripada diterima teleponnya tapi marah-marah begitu tahu itu dari telemarketer, lebih baik didiamkan aja kan panggilannya? Pasalnya, tidak sedikit dari kita yang sudah bisa membedakan mana telepon dari telemarketer, mana yang bukan. Jadi, ya sudah, tidak perlu direspon. Kalau memang risih dan terus menerus menelpon, ya aktifkan aja fitur silent-nya.

Jangan salah paham. Yang perlu saya tegaskan pada poin ini adalah, tidak merespon pun termasuk hak pelanggan dan bukan berarti menghambat rezeki seseorang. Mau bagaimana pun, proses jual-beli itu melibatkan kesepakatan bersama dengan cara sebaik mungkin.

#2 Jika terlanjur merespon teleponnya, beri penjelasan sebaik mungkin bahwa kita belum tertarik

Saya sudah terbiasa merespon telepon yang masuk dari mana pun, dari telemarketer salah satunya. Saya tidak merasa keberatan sedikit pun saat ia menjelaskan berbagai keuntungan jika menggunakan produknya. Dan kalaupun tidak tertarik, saya terbiasa menyampaikan penolakan secara baik-baik.

“Mas/Mbak, mohon maaf sebelumnya. Saya tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan. Agar bisa lebih efektif dan efisien kejar target, telepon ini saya akhiri aja, ya. Barangkali setelah nelepon saya, ada calon pembeli yang lebih potensial. Terima kasih.”

Baca Juga:  Belajar dari One Piece: Tak Semua Orangtua Mengerti Passion Anaknya

Itu yang selalu saya sampaikan. Syukur jika bisa memberi semangat tambahan. Setidaknya, saya sudah menyampaikan penolakan sebaik yang saya bisa. Sebab, saya paham, jadi seorang telemarketer itu tidak mudah. Tapi, di sisi lain, saya juga harus menggunakan produk sesuai kebutuhan. Tidak bisa semuanya saya beli begitu saja.

Hal tersebut saya lakukan, karena saya merasa ada hal yang jauh lebih baik dalam merespon telepon dari para telemarketer ketika tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan dibanding harus marah-marah.

Lagipula, nggak semua telemarketer yang menelepon ingin menawarkan produk, kok. Kadang, beberapa diantaranya hanya melakukan survey kepuasan pelanggan saja, atau sekadar melakukan upselling jika sebelumnya kita sudah menggunakan produk tertentu. Jadi, jangan suuzon dulu.

BACA JUGA Cara Menjadi Master of Something dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.