Paterson: Berpuisi dan Menjadi Biasa-biasa Saja Bukanlah Masalah – Terminal Mojok

Paterson: Berpuisi dan Menjadi Biasa-biasa Saja Bukanlah Masalah

Artikel

Perputaran hidup yang itu-itu saja. Bangun, kerja, istirahat,bercinta dan begitu berulang dalam hidup. Tidak ada sentuhan konflik yang dramatis. Apakah menarik? Yang pasti membosankan. Menjadi manusia memang harus menjadi sesuatu yang menarik. Menjadi sesuatu yang harus memukau manusia lain. Yang harus membuat semua orang mengakui bahwa ekisistensi itu ada. Wajar memang, manusia perlu eksistensi dalam hidup.

Di tengah hidup yang biasa-biasa saja. Manusia suka melampiaskan apa yang terjadi dalam hidupnya lewat berbagai hal. Melalui game, bacaan, hingga berpuisi. Manusia perlu pelampiasan dalam hidupnya. Dan menjadi orang yang biasa-biasa saja tentu juga perlu pelampiasan. Begitu yang dilakukan Paterson dalam hidupnya.

Saya sangat tergelitik untuk menulis tulisan tentang seorang Paterson. Dia yang hadir sebagai karakter utama di film ini. Ya judul filmnya memang Paterson. Setelah saya memaknai film tersebut selama satu jam, saya akhirnya menemukan pesan tersirat yang ingin disampaikan film ini. Hidup biasa-biasa saja itu bukanlah sebuah masalah. Apalagi jika dikombinasikan dengan sebuah puisi. Penyair dan hidup yang biasa-biasa saja adalah kombinasi terbaik.

Ketika menonton film ini, jujur tingkat menguap saya sangat tinggi. Film ini memang diciptakan untuk memberikan kebosanan tingkat tinggi. Bayangkan saja, selama satu jam yang dilihat hanya aktivitas kehidupan seorang manusia selama satu minggu yang itu-itu saja. Tidak ada apapun hal yang spesial dalam hidupnya.

Lantas apakah film Paterson adalah film sampah yang membosankan? Ya jika kamu tidak tertarik dengan literasi, tidak jika kamu menyukai William Carlos William. Film Paterson dihadirkan bagi mereka yang menyukai dunia membaca, menulis dan berpuisi. Film ini hadir bagi mereka yang merasa hidupnya seperti seorang Paterson, biasa-biasa saja.

Baca Juga:  #DearMeTenYearsAgo: Seperti Bermetamorfosis, Alay adalah Fase Kehidupan

Hal lain selain hidup yang biasa-biasa saja dalam film Paterson adalah bagaimana sang karakter utama Paterson digambarkan sebagai seseorang yang suka berpuisi. Dengan wajah datar yang nyaris minim ekspresi. Paterson si sopir bis menciptakan puisi-puisi indahnya ketika ia hendak menyupir hingga merenung di sebuah kamar khusus di rumahnya. Paterson muncul sebagai seorang penyair yang tidak ingin puisinya diketahui dunia. Ia membuat puisi untuk dirinya sendiri dengan hidupnya yang biasa-biasa saja. Kombinasi unik seorang penyair yang di mana orang-orang berbondong-bondong memerkan karya tulisnya untuk dinikmati banyak orang. Dan Paterson, puisinya hanya istrinyalah yang mengetahui. Dan ketika istrinya meminta ia membacakan puisi yang ia ciptakan pun, Paterson tidak pernah mau membacakannya.

Saya merasa tertampar dengan apa yang diperlihatkan oleh Paterson. Dengan puisinya yang alami dan indah, ia justru menyembunyikannya dari dunia. Sedangkan saya justru selalu membagikann tulisan saya yang sering tidak ada faedahnya ke orang lain. Saya ingin pengakuan dan ternyata Paterson tidak. Saya paham ternyata keindahan dan kehebatan berawal dari rasa malu untuk dilihat banyak orang. Sifat Paterson ini mengingatkan saya dengan J.K Rowling. Semua berasal dari rasa malu.

Film Paterson membuat saya berpikir setelah menontonnya, bagaimana film ini bisa menjadi film dengan konsep yang sangat biasa. Semua sangat biasa mulai dari alur dan konsep film, semuanya terlalu biasa. Namun ternyata itulah pesan dari film ini. Kehidupan manusia memang seperti itu, seperti yang ada di film Paterson. Kehidupam memang semembosankan itu. Hanya saja antitesis dari rasa bosan itu diselipkan lewat semangat hidup yang tinggi dari sang istrinya, Laura. Film ini adalah film jenius yang sengaja memberi rasa bosan menjadi sebuah pembelajaran yang bermakna.

Baca Juga:  ‘Another Round’, Film tentang Alkohol dan Guru Sejarah Membosankan

Paterson dan Laura sang istri adalah dua dunia yang berbeda. Paterson yang membosankan dengan Laura yang sangat menyenangkan. Laura memang karakter yang membuat saya bertanya-tanya, hidupnya sangat penuh energi dan semangat walau sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Hingga saya menonton sampai akhir barulah saya belajar bahwa Laura adalah padanan sifat masyarakat modern dalam memandang arti hidup dan kebahagiaan. Laura adalah sosok istri yang apa adanya, tidak menuntut banyak dan punya cita-cita. Laura adalah gambaran dari sebuah kemandirian seorang istri ideal tanpa menuntut sang suami secara berlebih. Dengan membuat kue dan cita-citanya menjadi seorang penyanyi, Laura hidup dengan senyuman hampir setiap hari. Laura bahagia dengan aktivitasnya di rumah. Laura bahagia dengan cita-citanya. Dan Laura melakukan sesuatu dengan cita-citanya. Laura belajar gitar untuk menunjang cita-citanya menjadi penyanyi dan Laura membuat kue untuk cita-citanya menjadi seorang pebisnis kue yang sukes. Laura adalah sosok ideal mereka yang punya mimpi dan melakukan sesuatu terhadap mimpinya.

Film yang unik dan penuh makna menurut saya. Paterson si supir bis yang suka berpuisi dengan hidupnya yang biasa-biasa saja bisa menjadi film yang akan biasa-biasa saja jika kita tidak pahamn maknanya. Hal-hal sederhana dari sebuah korek api dan cintanya seorang Paterson kepada sang istri adalah sebuah kepekaan ala Paterson yang juga harus kita terapkan ketika menonton Film Paterson.

Baca Juga:  Elegi Sapi di Hari Raya Idul Adha

Jangan lupakan juga bagaimana indahnya seorang penyair dalam meluapkan perasaanya. Paterson adalah seorang penyair yang dia sendiri risih dengan status tersebut. Paterson menciptakan puisi-puisinya lewat pengalaman sehari-hari. Lewat kehidupannya yang biasa-biasa saja itulah dia membuat sesuatu yang berbeda. Ia menjadi pribadi yang sangat peka di tengah karakternya yang terlihat tenang dan pendiam. Ia sering mendengarkan percakapan para penumpang bisnya setiap hari. Melalui hal itu, Paterson belajar bahwa puisi lahir dari kehidupan. Puisi lahir dari realitas jiwa-jiwa manusia. Puisi sesederhana itu.

Dari semua kesederhanaan yang dapat saya tangkap dalam film ini. Saya melihat ternyata kehidupan memang seperti yang ia tunjukkan. Hidup saya saat ini berputar soal kuliah, tugas, pulang dan begitu lagi esoknya. Mungkin ketika saya sudah bekerja kelak,aktivitas kehidupan saya juga itu-itu saja. Saya sadar ternyata selama ini manusia mencari sesuatu yang berbeda hanya untuk sesuatu yang sesaat.  Bahwa ternyata manusia itu adalah pencari eksistensi yang sangat narsis. Tidak mau menjadi biasa-biasa saja dan itu-itu saja.

Lalu apakah menjadi biasa-biasa saja, tidak bisa berkarya dan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup? Lihatlah adegan terakhir film Peterson.




Komentar

Comments are closed.