Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pasar Dupak Magersari: Potret Nyata Saat Kota Surabaya Tidak Menyediakan Ruang, Warga Pinggiran Membuat Ruangnya Sendiri

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
6 Januari 2026
A A
Pasar Dupak Magersari, Wujud Perjuangan Orang Surabaya (Unsplash)

Pasar Dupak Magersari, Wujud Perjuangan Orang Surabaya (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pukul 04:30 WIB Surabaya adalah waktu di mana kota ini mulai menyapa matahari. Langit yang mulai terang dan gemuruh bising kendaraan bermotor di jalan, menandakan kota ini sudah terjaga sejak beberapa waktu sebelumnya. Potret ramai tentu terlihat dari titik-titik ekonomi seperti pasar, tidak terkecuali Pasar Dupak Magersari. 

Suara manusia yang saling bersahut, tawar-menawar barang, sesekali di sela-sela proses berunding harga itu, tawa terdengar. Tapi, di tengah semua itu, suara peluit melengking bersamaan dengan terdengarnya bunyi sirine palang Kereta.

Terdengar lantang seruan, “Awas, sepure lewat,” dari sosok paruh baya. Beberapa pedagang juga berseru: “Mingger, mingger, awas diseruduk.” 

Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Pasar Dupak Magersari memang jadi pasar tumpah yang letaknya berdampingan (bahkan bisa disebut di tengah-tengah) dengan rel kereta yang masih aktif. 

Selang beberapa saat kemudian, kereta dari Pasar Turi Surabaya melintasi pasar tersebut. Memecah kerumunan yang sebelumnya terjadi. Setelah kereta lewat, kerumunan yang pecah itu kembali menyatu.

Setidaknya, selama beberapa minggu terakhir, Pasar Dupak Megarsari jadi destinasi belanja saya. Sehingga, fenomena tersebut yang awalnya tampak memprihatinkan, menjadi sesuatu yang berangsung-angsur saya maklumi.

Pasar Dupak Magersari, wujud konsensus masyarakat Surabaya

Pasar Dupak Magersari buka sejak dini hari. Tampak pedagang menggelar dagangan dengan gerakan yang tegas tapi tak kaku, seperti orang yang sudah berkali-kali mengulang adegan yang sama. 

Pedagang sayur, lauk, plastik, timbangan, uang kembalian, semua bergerak tanpa skenario yang diatur. Hentakan dan gesekan barang dagangan menghasilkan bunyi seperti orkestra yang dinikmati semua orang yang ada di pasar tersebut.

Baca Juga:

Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pasar ini adalah wujud bagaimana sebuah konsensus dari masyarakat Surabaya bertahan melintasi waktu. Beberapa catatan mengungkapkan bahwa pasar ini sudah ada sejak tahun 70-an. Dan itu dibenarkan oleh pedagang setempat. Pasar ini tidak tumbuh sekadar dari ide liar, tapi tumbuh dari sebuah kesepakatan karena beberapa pertimbangan.

Beberapa pertimbangan masyarakat Surabaya

Pertama, karena pasar yang berlokasi di Kecamatan Bubutan, Surabaya, ini adalah ruang kosong yang dekat dengan permukiman warga. Hal ini membuatnya jadi pilihan strategis bagi masyarakat kala itu untuk membuka titik ekonomi yang menghidupi lingkungan sekitar. 

Kedua, lokasi Pasar Dupak Magersari dekat dengan simpul ekonomi, yaitu Pasar Turi. Sehingga para pedagang bisa ikut menikmati arus masuk pembeli dan barang dari pusat grosir tersebut. Pasar yang menempel pada pusat keramaian menjadi keuntungan tersendiri bagi para pedagang.

Ketiga adalah tradisi warga Surabaya di bantaran rel yang sejak lama berhadapan dengan status ruang yang “abu-abu” (lalu ia mengeras jadi kebiasaan lintas generasi). Lokasi ini menjadi saksi terciptanya konflik-legal dan keseharian negosiasi yang bikin ruang di pinggir rel terasa seperti wilayah yang bukan sepenuhnya resmi, tapi juga bukan kosong. Sebab statusnya yang sudah dihuni, dipakai, dan dihidupi puluhan tahun.

Isu dengan PT KAI

Warga Pasar Dupak Magersari sempat punya isu dengan PT KAI. Saat itu, PT KAI punya rencana untuk membangun jalur double track. Oleh sebab itu, PT KAI ingin mensterilkan lahan pinggir rel dari bangunan. Warga yang sudah lama menempati area itu selama puluhan tahun mempersoalkan rencana PT KAI. 

Terutama karena, dalam pandangan warga, PT KAI tidak menunjukkan bukti kepemilikan lahan dan lebih merujuk pada Undang-Undang Perkeretaapian. Situasi ini terekam dalam penelitian Universitas Airlangga yang dimuat di Jurnal Politik Muda (Vol. 2 No. 3, 2013). 

Riset itu menjelaskan bagaimana ketegangan antara proyek double track dan klaim ruang hidup warga kemudian memicu lahirnya Komunitas Warga Pinggir Rel (KWPR). Ini sebagai gerakan perlawanan untuk mempertahankan lahan, termasuk melalui upaya-upaya yang berujung pada tertundanya pembongkaran serta terbukanya jalur bantuan/dukungan dari Pemkot (proses sertifikasi tanah) dan respons DPRD (dorongan judicial review atas UU No. 23/2007).

Warga Pasar Dupak Magersari dan kewaspadaan

Konflik ini berlangsung lama. Sebuah kondisi yang membuat orang di sekitar Pasar Dupak Magersari jadi terbiasa hidup dengan kemungkinan ditertibkan sewaktu-waktu. Hal ini terlihat dari banyaknya pedagang di Pasar Dupak Magersari yang statusnya adalah generasi penerus orang tua mereka dulu. Di sisi lain, pembeli juga ada yang sudah jadi pelanggan puluhan tahun.

Dari sisi KAI, keberadaan pasar tersebut dianggap membahayakan dan dilarang (ruang manfaat jalur KA), tetapi di lapangan pasar tetap berjalan. Oleh karena itu, sebagai mitigasi, KAI mengimbau masinis untuk membunyikan klakson peringatan dan menurunkan kecepatan di area itu terbatas (disebut maksimal sekitar 30 km/jam) karena ada tikungan/lengkung jalur.

Tapi sekali lagi, tuntutan kebutuhan dan konsensus kolektif membuat risiko besar itu seperti sudah jadi latar. Mereka menyadari bahaya yang ada, tapi tidak cukup kuat untuk menghentikan pasar. Mereka pun mengklaim, sejauh ini tidak terjadi insiden selama berpuluh-tahun pasar berdiri.

Boleh jadi karena warga sudah memahami dan terbiasa dengan ritme bunyi dan jadwal kereta. Ada semacam hafalan kolektif yang tertanam, yaitu kapan harus mulai, memadatkan transaksi, dan berhenti. 

Pagi-pagi sekali ramai, lalu perlahan mereda sebelum siang. Seolah-olah semua orang sepakat bahwa hidup di sini harus selesai cepat, karena di atas rel, waktu bukan milik pedagang. Waktu milik kereta.

Tapi yang paling penting, mereka juga paham satu hal yang lebih krusial dari urusan nafkah, yaitu nyawa. Sirene itu bukan sekadar bunyi, melainkan perintah paling masuk akal untuk berhenti dulu. Sebab, mereka tidak ingin pulang membawa uang belanja, tapi rumah menyambutnya dengan tangis hanya karena satu momen lengah.

Sejarah Surabaya yang terabaikan

Pasar Dupak Megarsari ini terasa seperti sejarah yang terabaikan dari dokumen perencanaan Kota Surabaya. Ia lahir bukan karena Surabaya menyiapkan ruang, tetapi karena hidup yang menuntut mereka menciptakan ruang. 

Sebab, ketika tempat yang resmi terlalu mahal, jauh, dan penuh dengan aturan, warga pinggiran harus memutar otak untuk menemukan celah ruang yang tersisa. Sekalipun celah itu berupa bantaran rel yang tiap pagi bisa berubah dari pasar menjadi lintasan tragedi. Di pasar itulah mereka membangun ruangan ekonominya sendiri.

Pasar Dupak Magersari adalah gambaran bagaimana kota besar seperti Surabaya membiarkan sebagian orang mengais ekonomi di ruang yang tersisa. Pemerintah tentu tidak salah untuk menuntut kerapian dan keselamatan, tapi seharusnya itu dibarengi dengan kesadaran penuh soal sebab kekacauan. 

Pada akhirnya, di kepala saya, Pasar Dupak Magersari bukan tentang pasar yang ada di rel, melainkan tentang manusia yang selalu menemukan cara untuk hidup. Bahkan ketika hidupnya bukan tempat yang disiapkan untuk hidup.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan ‘Parkir Gratis’!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2026 oleh

Tags: Pasar Dupak Magersaripasar tuript kaiSurabaya
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Solusi untuk Bandara Juanda Supaya Nggak Merepotkan Lagi (Unsplash)

Solusi untuk Bandara Juanda Supaya Nggak Merepotkan Lagi

9 Juli 2023
Sampoerna Splash Royal Ungu Wujud Fomo yang Gagal (Unsplash)

Sampoerna Splash Royal Ungu 16: Kegagalan Lain dari HM Sampoerna Sekaligus Wujud Fomo Pabrik Rokok dari Surabaya Itu

19 Oktober 2023
Stasiun Surabaya Gubeng- Simbol Perpisahan dan Kemarahan (Pexels)

Stasiun Surabaya Gubeng: Simbol Perpisahan dan Kemarahan yang Menjadi Satu

28 Januari 2025
Kecamatan Gunung Anyar Surabaya, Tempat Terbaik untuk Hidup di Surabaya: Sepi, Tenang, tapi Akses Tetap Mudah

Kecamatan Gunung Anyar Surabaya, Tempat Terbaik untuk Hidup di Surabaya: Sepi, Tenang, tapi Akses Tetap Mudah

29 Oktober 2025
KA Kertajaya, Solusi Terbaik Mahasiswa Malang Kaum Mendang-mending

KA Kertajaya, Solusi Terbaik Mahasiswa Malang Kaum Mendang-mending

1 April 2023
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Waru Sidoarjo, kecamatan penuh keistimewaan dan kemudahan, paling top di Sidoarjo!

17 Juli 2026
Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.