Panduan Menggunakan Kata ‘Akang’ buat Orang Non-Sunda – Terminal Mojok

Panduan Menggunakan Kata ‘Akang’ buat Orang Non-Sunda

Artikel

Berbicara mengenai serba-serbi kebudayaan Jawa Barat, mesti membahas juga kata “akang”. Supaya lebih ringkas dan mudah menyebutnya, kata ini biasa disingkat menjadi “kang”. Gubernur Jawa Barat pun yang punya nama Ridwan Kamil disapa Kang Emil oleh khalayak luas.

Orang-orang yang bukan orang Sunda umumnya menganggap bahwa kata “akang” sebatas sebutan untuk lelaki Sunda. Apalagi bagi yang nggak menetap di Jawa Barat. Kata “akang” pun sudah terdaftar dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Artinya, ‘kakak kandung laki-laki’.

Padahal, di Tanah Pasundan, penggunaan kata “akang” nggak hanya sebagai sebutan untuk kakak laki-lak atau sebutan untuk lelaki Sunda. Supaya tidak salah kaprah, saya akan berikan panduan menggunakannya. 

#1 Pengganti kata “kamu” kepada rekan sebaya agar obrolan terasa lebih akrab dan dekat

Dalam Bahasa Sunda, ada beberapa kata yang artinya “kamu”. Antara lain, “anjeun”, “didinya”,“maneh”, dan “sia”. Nah, umpamakan kita bertemu dengan seseorang yang baru kita kenal. Usianya sebaya dengan kita.

Supaya obrolan terasa lebih akrab dan lebih dekat, daripada menggunakan “anjeun”, “didinya”, “sia”, atau “maneh”, kita lebih baik menggunakan kata “akang” sebagai pengganti kata “kamu”. . Kata ini bisa juga disertai nama orang yang bersangkutan. Misalnya, “Akang Asep, apa kabar?”

Dalam siaran radio berbahasa Sunda, penyiar biasanya menggunakan kata sapaan ini agar lebih dekat dengan pendengar lelaki. 

Baca Juga:  Cover Lagu Orang Lain atau Lagumu Dicover Orang Lain?

#2 Panggilan untuk orang dewasa yang namanya belum diketahui

Umpamakan, kita orang non-Sunda yang sedang berada di Bandung. Kita ingin pergi menuju stasiun. Tapi, nggak tahu jalan menuju stasiun. Kita lalu bertanya kepada warga setempat. Pada titik ini, kata “akang” bisa digunakan sebagai panggilan kepada orang yang namanya tidak diketahui. Kita bisa menggunakan pertanyaan begni, “Kang, kalau jalan ke stasiun lewat mana?” dan “Terima kasih, Kang”.

Cara ini terasa lebih membumi dan bersahabat daripada memanggilnya dengan sebutan “anjeun” atau “didinya”. Kata “anjeun” atau “didinya” cenderung bernuansa formal dan nggak pas dipakai dalam percakapan santau. Sedangkan kata “maneh” dan “sia” digunakan kepada rekan yang sudah dekat dan akrab karena lebih informal dan menunjukkan kedekatan penuturnya.

#3 Panggilan untuk orang yang usianya lebih tua

Kalau kita sebagai orang yang berusia lebih muda langsung menyebut nama orang yang berusia lebih tua, memang terasa kurang sopan. Kata “akang” bisa juga diikuti oleh nama orang yang bersangkutan. Saya sendiri seringkali dipanggil demikian oleh rekan-rekan saya yang usianya lebih muda. Mungkin seperti panggilan “Mas” dalam bahasa Jawa.

#4 Panggilan untuk orang yang dihargai

Sapaan ini bisa juga untuk orang yang dihargai. Terlepas apakah orang tersebut usianya lebih tua atau lebih muda. Misalnya, kalau kamu perempuan bukan orang Sunda yang punya kekasih atau suami orang Sunda, walau usia pasangan lebih muda, kamu bisa menyebut “akang” kepadanya. Misalnya, suami atau kekasih kamu namanya Asep. Kamu bisa memanggil dia dengan panggilan “Kang Asep”. Terasa lebih romantis, bukan?

Contoh lainnya, kalau kamu punya atasan orang Sunda yang usianya lebih muda, kamu bisa memanggilnya dengan sapaan ini juga. Istri saya pun yang merupakan wanita Jawa asal Pati Jawa Tengah dan juga lebih muda usianya, memanggil saya “akang”. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, akrab disapa Kang Emil. Sebab, blio adalah orang nomor satu di Jawa Barat.

#5 Bisa digunakan dalam situasi formal atau santai.

Selain dalam percakapan sehari-hari, kata ini bisa juga digunakan dalam situasi formal. Ambil contoh, kamu adalah orang non-Sunda yang menjadi pembawa acara pernikahan. Kamu bisa menggunakannya. Misalnya, “Terima kasih atas kedatangan akang-akang dalam acara pernikahan ini.”

Itulah, panduan menggunakan kata “akang”. Semoga tulisan ini membantu orang-orang non-Sunda yang belum lama menetap atau yang akan menetap di Tanah Pasundan. Tidak ada salahnya membumi buat mengaplikasikan pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

BACA JUGA Penggunaan Kata ‘Aing’ dalam Bahasa Sunda untuk Pemula dan tulisan Rahadian lainnya.

Baca Juga:  4 Kuliner Bandung yang Sudah Menyandang Status Legendaris
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.