Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pake Tas Branded KW, Salah atau Benar?

Zainab Tahir oleh Zainab Tahir
25 September 2020
A A
4 Hikmah dari Aksi Arie Untung 'Buang' Tas Prancis Mahal terminal mojok.co

4 Hikmah dari Aksi Arie Untung 'Buang' Tas Prancis Mahal terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Satu waktu saya dikontak seorang teman yang titip dibelikan tas branded merek Hermes. Buat dipakai ke kantor, katanya. Sempat saya mau menolak, secara saya tuh masuk golongan yang lehernya mendadak kaku setengah menciut kalau lewat etalase mewah di mal-mal besar, termasuk etalase butiknya si Hermes ini. Tapi, ternyata yang dititip si temen itu Hermes KW, bukan tas mentereng yang nentengnya berasa bawa Rubicon di tangan.

Akhirnya saya mengiyakan. Saya pun ngider di seputaran Mangga Dua, dan dengan mengerahkan kemampuan tawar-menawar, berhasil membeli Hermes KW Super, yang kata mbak penjualnya, tipe Birkin Shiny Bordeaux. Walau KW, harganya lumayan juga: satu juta rupiah! Harga segitu jelas murah banget dibanding banderol tas aslinya yang kata Google sekitar 70.000 dolar AS (setara Rp1 miliar lebih 45 juta). Uang segitu mah bisa beli rumah tipe cluster di daerah Serpong!

ADVERTISEMENT

Jangan tanya seyakin apa saya dengan tas branded KW itu. Saya miskin referensi untuk membedakan yang KW dan asli. Saya tidak tahu aslinya Hermes itu sehalus apa. Pun saya tidak pernah meraba-raba aneka rupa jenis tas KW meski hanya atas nama keingintahuan. Banyak tulisan yang mencoba memandu pembaca membedakan tas branded original dengan tas branded KW, tapi tetap saja kita perlu terbiasa memegang barang itu untuk tahu bedanya kan?

Kita di Indonesia pasti tidak asing soal produk kopi yang ditempeli logo brand terkenal. Yang paling umum ditemukan beredar di seputaran Tanah Abang, Glodok, dan Mangga Dua sih, ya Chanel, Louis Vuitton, Dior, Hermes, dan Furla. Menariknya, produk KW ini juga memiliki kelas, dari premium, super, KW 1 hingga KW 3.

Saya berasumsi, pembagian kelas dalam dunia per-KW-an ini menentukan kelas sosial pemakainya. Derajat pemakai tas Chanel kualitas super tentunya beda dengan penenteng Chanel KW 3, terutama dari sisi kemampuan ekonomi. Kalau yang pake aslinya sih nggak usah dibahas.

Bisnis barang palsu itu menjanjikan. Tahun 2016 lalu, OECD mengestimasi nilai peredaran produk palsu ini sampe 461 triliun dolar AS yang mana 13 persennya dari produk berbahan kulit. Tas atau dompet atau sepatu masuk kategori ini.

Dengan memanfaatkan pragmatisme penggunanya yang senang bisa punya barang bermodel bagus tapi murah, juga bisa nampang-nampang trendi di kalangan sesama pemakainya, hubungan produsen dan konsumen jadi langgeng dalam jalaran akar jual-beli barang palsu. Hukum pun tidak bersuara lantang.

Oh iya, saya pernah nonton drama fashion Korea yang salah satu scene-nya menggambarkan tas palsu bisa beredar lebih dulu dari produk aslinya. Lah, tahunya dari mana desain aslinya seperti itu? Mula lingkarannya dari mana coba? Ih, walau drama ternyata bikin mikir ya.

Baca Juga:

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

4 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Perempuan Sebelum Tinggal di Kos Campur

Kenapa orang memilih tas branded KW?

Saya pernah membaca beberapa tulisan yang menjelaskan alasan orang memilih membeli tas atau dompet merek terkenal tapi palsu. Rerata sih bilang karena suka modelnya, tapi tidak sanggup membeli yang asli. Juga ada yang ngaku bosenan jadi berabe kalau beli aslinya. Kebayang dong, bosen pake Hermes Birkin Shiny terus mau ganti ke Himalayan Birkin. Udah macam bosen pake Mercedes Benz A Class terus ganti ke Hummer gitu. Subhanallah bener.

Terus, ada juga yang tidak tahu tas yang mereka beli itu jiplakan merek terkenal. Mereka cuma suka modelnya gitu. Ada pula yang beraroma dendam karena harga tas aslinya dianggap keterlaluan dan tidak peka terhadap kemiskinan. Lah gimana itu jal?

Saya percaya, ketika kita memutuskan membeli tas branded KW, tidak ada urusan moral dan hukum yang ditimbang. Yang ada, kita menginginkan barang itu, kita senang, kita puas barangnya di tangan.

Salahkah?

Saya meyakini, banyak yang menyadari ada isu etika dan pelanggaran hak cipta ketika satu produk dipalsukan dan dikonsumsi. Kalau dalam dunia akademik, plagiasi adalah cedera terbusuk yang baunya abadi. Namun, apakah ini juga berlaku dalam industri fashion? Saya tidak yakin, meskipun sudah ada pagar berupa undang-undang.

Di negara kita ada Undang-undang yang langsung menyorot masalah pemalsuan merek, UU 15/2001 tentang Merek. Di Italia, kalau kita petantang-petenteng dengan Gucci palsu, bisa berakhir sebatang kara di penjara kalau ketahuan.

Ada yang berdalih, pemalsuan itu baik-baik aja karena tidak ada aduan kerugian dari brand-brand besar yang dipalsukan. Memang sih, menurut saya pamor Hermes, Gucci, Dior tidak akan turun hanya karena peredaran produksi yang memalsukannya (atau malah jadi makin terkenal sehingga prestise pengguna aslinya bertambah?). Brand-brand besar memiliki loyalis yang hampir tidak mungkin tergoyahkan sampai beralih membeli yang palsu ketika mereka tahu harga (dan kualitasnya) jauh di bawah aslinya. Lihat saja selebritas yang kerap memamerkan tentengan tas menterengnya, konsisten selayaknya brand ambassador.

Salah nggak sih kita pake tas atau dompet atau sepatu atau barang palsu lainnya? Normatifnya, kita bisa disalahkan atas pelanggaran pidana menggunakan barang palsu, dengan syarat ada yang mengadukan. Begitu juga produsennya. Di luar konteks hukum ini, saya lebih suka menjawab: tergantung niat kita membeli barang palsu itu.

Kalau kita mau nipu sesama, petantang-petenteng berlagak barang yang kita pake itu asli padahal belinya KW, ya salaaah. Tapi, kalau belinya karena seneng modelnya dan ogah ngeluarin duit yang bombastis demi sebuah fanatisme merek dan keaslian, saya kok galau mau bilang salah apa nggak. Apalagi kalo duit ratusan juta sisa beli tas KW disumbangin buat bangun sekolah atau hal-hal yang bermanfaat untuk orang banyak.

Selain itu, tidak mudah juga menyalahkan orang yang membeli barang palsu karena ketidaktahuan mereka. Banyak lho orang di kampung yang memakai tas atau dompet Louis Vuitton karena tidak tahu itu bajakan merek terkenal. Pembeli model ini hanya konsumen lugu yang memerlukan pencerahan. Dan bisa jadi, setelah mengetahui pun mereka tidak peduli karena bagi mereka, yang terpenting adalah fungsi dan kepuasan memakai tas tersebut.

Lagian, pengguna itu ada di hilir dari aliran besar pasar pemalsuan. Di hulu kan ada produsen, kemudian supplier, seller, trus reseller, barulah sampai ke tangan pembeli lugu. Dan, jangan lupa, ada pemerintah sebagai regulator dan pengontrol aliran. Dalam lingkaran industri seperti ini, saya lebih suka membebankan porsi kesalahan terbesar pada mereka sebagai yang memiliki akses untuk memutus mata rantai, daripada menyalahkan konsumen realistis yang mencandui tas-tas bergaya namun murah.

Terus, posisi saya sebagai barisan garis keras pencinta tas, dompet dan sepatu, bagaimana? Saya menyerahlah kalau harus puasa dua bulan demi menenteng Fendi atau memakai sepatu Louboutin. Sadar diri saya, gaes. Dengan kantong yang kalau dirogoh lah kok bocor, saya nggak akan rela mengubek-ubek Tanah Abang, Mangga Dua, dan Glodok cuma buat beli tas branded KW yang rasanya kok tetap mahal.

Tidak ada urusan terbebani secara moral atau hukum dalam posisi tersebut. Lebih pada saya memahami kemampuan kantong dan ternyata saya cukup percaya diri menenteng kresek di antara barisan para fashionista.

Bagaimana dengan Anda, pembaca budiman?

Photo by Laura Chouette on Unsplash

BACA JUGA Menebak 5 Karakter Perempuan dari Cara Membawa Tas 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2020 oleh

Tags: Perempuantastas branded kwtas kw
Zainab Tahir

Zainab Tahir

Pencinta rumah, penyuka traveling, pemuja laut.

ArtikelTerkait

ibu rumah tangga rendah diri istri aktivis rumah tangga suami sibuk mojok.co

Ya, Pantas kalau Ibu Rumah Tangga Jadi Rendah Diri

26 Juli 2020
5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual terminal mojok.co

5 Film Indonesia tentang Kekerasan Seksual

10 Desember 2021
Alasan Perempuan Sangat Suka Makan Seblak

Alasan Perempuan Sangat Suka Makan Seblak

23 Februari 2023
5 Alasan Cewek Lebih Suka Jajan Dibandingkan Cowok

5 Alasan Cewek Lebih Suka Jajan Dibandingkan Cowok

8 Agustus 2024
Memangnya Perempuan yang Kita Anggap Good Looking Tak Boleh Mengeluh? mojok.co/terminal

Memangnya Perempuan yang Kita Anggap Good Looking Tak Boleh Mengeluh?

10 Maret 2021
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan

17 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri Kerap Dianggap Tempat Paling Rapi di Dunia, padahal Justru Sebaliknya, Titik Kumpul Masalah dan Kekacauan!

29 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja Mojok.co

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja

29 Juni 2026
Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya Mojok.co

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

30 Juni 2026
Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.