Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal (Shutterstock.com)

Jujur saja, saya sedang kesal. Bahkan bisa dibilang sangat kesal. Penyebabnya bukan karena macet, bukan karena kendaraan rusak, dan bukan pula karena terlambat bangun. Penyebabnya adalah sebuah hajatan pernikahan yang menutup jalan umum di dekat kos saya sampai-sampai tidak ada akses yang bisa dilalui kendaraan. Akibatnya, saya yang setiap hari berangkat kerja menggunakan motor harus memutar otak mencari cara agar tetap bisa sampai ke tempat kerja tepat waktu.

Saya sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan orang yang mengadakan hajatan. Pernikahan adalah momen yang membahagiakan. Semua orang tentu ingin merayakan hari istimewanya bersama keluarga, kerabat, dan tetangga. Di banyak daerah di Indonesia, mengadakan resepsi di lingkungan rumah juga sudah menjadi tradisi yang umum. Saya memahami hal itu dan tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun, masalah mulai muncul ketika hajatan tersebut menggunakan jalan umum sampai menutup akses warga lain secara total. Di sinilah saya mulai bertanya-tanya, apakah kebahagiaan satu keluarga harus dibayar dengan kesulitan banyak orang?

Tidak ada jalan alternatif

Pagi itu saya bersiap seperti biasa untuk berangkat kerja. Motor sudah siap, tas sudah siap, dan saya memperkirakan perjalanan akan berlangsung normal seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi, ketika keluar dari kos, saya langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa jalan telah ditutup oleh tenda hajatan. Bukan sekadar menyempit atau hanya bisa dilewati satu kendaraan secara bergantian, melainkan benar-benar tertutup sehingga motor tidak bisa lewat sama sekali.

Saat itu saya benar-benar bingung. Motor saya ada, bensin penuh, kondisi kendaraan baik-baik saja, tetapi saya tidak bisa menggunakannya karena akses keluar tertutup. Rasanya seperti memiliki kunci tetapi tidak ada pintu yang bisa dibuka.

Yang membuat saya semakin kesal adalah tidak adanya solusi yang jelas. Tidak ada jalur alternatif yang memadai. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada penghuni kos atau warga sekitar. Juga tidak ada informasi mengenai bagaimana orang-orang yang harus bekerja, sekolah, atau memiliki urusan penting bisa tetap melintas.

Akhirnya saya tidak punya pilihan selain meninggalkan motor di kos. Saya berjalan kaki mencari akses keluar yang memungkinkan. Karena kondisi lingkungan yang cukup sempit, saya bahkan harus melewati jalur yang tidak biasa. Rasanya sangat merepotkan hanya untuk mencapai jalan utama.

Setelah berhasil keluar dari area tersebut, saya masih harus mencari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja.

BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

Kenapa sih hajatan harus nutup jalan? Kan itu milik publik!

Di situlah rasa kesal saya semakin memuncak. Saya memiliki kendaraan pribadi yang seharusnya membuat perjalanan lebih mudah dan efisien. Namun karena jalan umum dipakai untuk kepentingan sebuah acara pribadi, saya terpaksa naik angkutan umum. Waktu perjalanan menjadi lebih lama, tenaga lebih banyak terkuras, dan biaya transportasi pun bertambah.

Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa hajatan hanya berlangsung satu atau dua hari sehingga sebaiknya dimaklumi saja. Saya memahami sudut pandang tersebut. Akan tetapi, menurut saya, persoalannya bukan soal durasi acara, melainkan soal penghormatan terhadap hak orang lain.

Jalan umum adalah fasilitas publik. Jalan dibangun agar masyarakat dapat beraktivitas, bekerja, bersekolah, berdagang, dan menjalankan berbagai keperluan sehari-hari. Ketika jalan tersebut ditutup total untuk kepentingan pribadi, maka fungsi publiknya hilang untuk sementara waktu. Yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan acara tersebut.

Bayangkan jika ada warga yang harus mengejar jadwal kerja penting. Bayangkan jika ada mahasiswa yang harus mengikuti ujian. Lalu, bayangkan jika ada kurir yang mengantar barang, pasien yang membutuhkan kendaraan, atau bahkan keadaan darurat yang memerlukan akses cepat. Semua itu bisa terganggu hanya karena jalan yang seharusnya dapat digunakan bersama berubah menjadi lokasi pesta.

Juga, aturan menggelar hajatan di jalan raya sebenarnya tidak mudah. Tidak bisa sembarangan. Tapi ya, itulah kenyataannya.

Saya bukan orang yang anti terhadap tradisi hajatan kampung. Saya juga tidak menuntut agar semua acara harus digelar di gedung mewah. Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk menyewa tempat khusus. Akan tetapi, setidaknya harus ada upaya untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat sekitar.

Misalnya dengan menyisakan akses kendaraan, menyediakan jalur alternatif yang layak, atau memberikan pemberitahuan jauh-jauh hari kepada warga yang terdampak.

Toleransi itu berjalan dua arah

Masalahnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang menganggap penutupan jalan untuk hajatan sebagai sesuatu yang otomatis harus diterima oleh semua orang. Jika ada yang mengeluh, mereka dianggap tidak toleran atau tidak menghargai kebahagiaan orang lain. Padahal keluhan tersebut muncul karena adanya gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari.

Menurut saya, toleransi seharusnya berjalan dua arah. Warga sekitar memang perlu memahami bahwa ada tetangga yang sedang mengadakan acara penting. Namun penyelenggara hajatan juga harus memahami bahwa tetangga mereka memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan kebutuhan mobilitas yang sama pentingnya.

Penggunaan jalan umum untuk acara pribadi seharusnya tidak membuat orang lain kehilangan akses terhadap lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Apalagi sampai membuat seseorang tidak bisa menggunakan kendaraannya, terlambat bekerja, atau harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mencari jalan keluar.

Oleh karena itulah saya merasa kesal dengan hajatan yang menutup jalan secara total. Bukan karena saya iri terhadap acara pernikahan tersebut, dan bukan pula karena saya tidak menghargai tradisi. Saya kesal karena hak pengguna jalan diabaikan. Ketika saya harus meninggalkan motor, berjalan kaki jauh, lalu naik angkutan umum hanya untuk berangkat kerja, rasanya sulit untuk menganggap situasi seperti itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kebahagiaan sebuah pesta memang layak dirayakan. Namun kebahagiaan itu tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kenyamanan dan hak banyak orang yang hanya ingin menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jalan umum tetaplah jalan umum, dan kepentingan bersama seharusnya tidak kalah penting dibanding kepentingan sebuah hajatan.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version