Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
7 Juni 2026
A A
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jujur saja, saya sedang kesal. Bahkan bisa dibilang sangat kesal. Penyebabnya bukan karena macet, bukan karena kendaraan rusak, dan bukan pula karena terlambat bangun. Penyebabnya adalah sebuah hajatan pernikahan yang menutup jalan umum di dekat kos saya sampai-sampai tidak ada akses yang bisa dilalui kendaraan. Akibatnya, saya yang setiap hari berangkat kerja menggunakan motor harus memutar otak mencari cara agar tetap bisa sampai ke tempat kerja tepat waktu.

Saya sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan orang yang mengadakan hajatan. Pernikahan adalah momen yang membahagiakan. Semua orang tentu ingin merayakan hari istimewanya bersama keluarga, kerabat, dan tetangga. Di banyak daerah di Indonesia, mengadakan resepsi di lingkungan rumah juga sudah menjadi tradisi yang umum. Saya memahami hal itu dan tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun, masalah mulai muncul ketika hajatan tersebut menggunakan jalan umum sampai menutup akses warga lain secara total. Di sinilah saya mulai bertanya-tanya, apakah kebahagiaan satu keluarga harus dibayar dengan kesulitan banyak orang?

Tidak ada jalan alternatif

Pagi itu saya bersiap seperti biasa untuk berangkat kerja. Motor sudah siap, tas sudah siap, dan saya memperkirakan perjalanan akan berlangsung normal seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi, ketika keluar dari kos, saya langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa jalan telah ditutup oleh tenda hajatan. Bukan sekadar menyempit atau hanya bisa dilewati satu kendaraan secara bergantian, melainkan benar-benar tertutup sehingga motor tidak bisa lewat sama sekali.

Saat itu saya benar-benar bingung. Motor saya ada, bensin penuh, kondisi kendaraan baik-baik saja, tetapi saya tidak bisa menggunakannya karena akses keluar tertutup. Rasanya seperti memiliki kunci tetapi tidak ada pintu yang bisa dibuka.

Yang membuat saya semakin kesal adalah tidak adanya solusi yang jelas. Tidak ada jalur alternatif yang memadai. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada penghuni kos atau warga sekitar. Juga tidak ada informasi mengenai bagaimana orang-orang yang harus bekerja, sekolah, atau memiliki urusan penting bisa tetap melintas.

Akhirnya saya tidak punya pilihan selain meninggalkan motor di kos. Saya berjalan kaki mencari akses keluar yang memungkinkan. Karena kondisi lingkungan yang cukup sempit, saya bahkan harus melewati jalur yang tidak biasa. Rasanya sangat merepotkan hanya untuk mencapai jalan utama.

Setelah berhasil keluar dari area tersebut, saya masih harus mencari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja.

Baca Juga:

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

Seni Bertahan Hidup di Musim Kondangan: Panduan Strategis agar Dompet Tak Sekarat dan Berakhir Melarat

BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

Kenapa sih hajatan harus nutup jalan? Kan itu milik publik!

Di situlah rasa kesal saya semakin memuncak. Saya memiliki kendaraan pribadi yang seharusnya membuat perjalanan lebih mudah dan efisien. Namun karena jalan umum dipakai untuk kepentingan sebuah acara pribadi, saya terpaksa naik angkutan umum. Waktu perjalanan menjadi lebih lama, tenaga lebih banyak terkuras, dan biaya transportasi pun bertambah.

Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa hajatan hanya berlangsung satu atau dua hari sehingga sebaiknya dimaklumi saja. Saya memahami sudut pandang tersebut. Akan tetapi, menurut saya, persoalannya bukan soal durasi acara, melainkan soal penghormatan terhadap hak orang lain.

Jalan umum adalah fasilitas publik. Jalan dibangun agar masyarakat dapat beraktivitas, bekerja, bersekolah, berdagang, dan menjalankan berbagai keperluan sehari-hari. Ketika jalan tersebut ditutup total untuk kepentingan pribadi, maka fungsi publiknya hilang untuk sementara waktu. Yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan acara tersebut.

Bayangkan jika ada warga yang harus mengejar jadwal kerja penting. Bayangkan jika ada mahasiswa yang harus mengikuti ujian. Lalu, bayangkan jika ada kurir yang mengantar barang, pasien yang membutuhkan kendaraan, atau bahkan keadaan darurat yang memerlukan akses cepat. Semua itu bisa terganggu hanya karena jalan yang seharusnya dapat digunakan bersama berubah menjadi lokasi pesta.

Juga, aturan menggelar hajatan di jalan raya sebenarnya tidak mudah. Tidak bisa sembarangan. Tapi ya, itulah kenyataannya.

Saya bukan orang yang anti terhadap tradisi hajatan kampung. Saya juga tidak menuntut agar semua acara harus digelar di gedung mewah. Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk menyewa tempat khusus. Akan tetapi, setidaknya harus ada upaya untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat sekitar.

Misalnya dengan menyisakan akses kendaraan, menyediakan jalur alternatif yang layak, atau memberikan pemberitahuan jauh-jauh hari kepada warga yang terdampak.

Toleransi itu berjalan dua arah

Masalahnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang menganggap penutupan jalan untuk hajatan sebagai sesuatu yang otomatis harus diterima oleh semua orang. Jika ada yang mengeluh, mereka dianggap tidak toleran atau tidak menghargai kebahagiaan orang lain. Padahal keluhan tersebut muncul karena adanya gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari.

Menurut saya, toleransi seharusnya berjalan dua arah. Warga sekitar memang perlu memahami bahwa ada tetangga yang sedang mengadakan acara penting. Namun penyelenggara hajatan juga harus memahami bahwa tetangga mereka memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan kebutuhan mobilitas yang sama pentingnya.

Penggunaan jalan umum untuk acara pribadi seharusnya tidak membuat orang lain kehilangan akses terhadap lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Apalagi sampai membuat seseorang tidak bisa menggunakan kendaraannya, terlambat bekerja, atau harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mencari jalan keluar.

Oleh karena itulah saya merasa kesal dengan hajatan yang menutup jalan secara total. Bukan karena saya iri terhadap acara pernikahan tersebut, dan bukan pula karena saya tidak menghargai tradisi. Saya kesal karena hak pengguna jalan diabaikan. Ketika saya harus meninggalkan motor, berjalan kaki jauh, lalu naik angkutan umum hanya untuk berangkat kerja, rasanya sulit untuk menganggap situasi seperti itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kebahagiaan sebuah pesta memang layak dirayakan. Namun kebahagiaan itu tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kenyamanan dan hak banyak orang yang hanya ingin menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jalan umum tetaplah jalan umum, dan kepentingan bersama seharusnya tidak kalah penting dibanding kepentingan sebuah hajatan.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2026 oleh

Tags: Hajatanhajatan di jalan rayajalan rayaPernikahan
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

tidak kawin

Para Tokoh Terkenal Saja Ada yang Tidak Kawin, Kenapa Kita Harus?

3 Agustus 2019
4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus terminal mojok.co

4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus

25 November 2020
Tiga Catatan Penting Soal Pernikahan Orang Kaya dan Miskin Usul Muhadjir Effendy

Tiga Catatan Penting Soal Pernikahan Orang Kaya dan Miskin Usul Muhadjir Effendy

22 Februari 2020
ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

25 Maret 2022
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.