Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Orang Tua Kita Bisa Beli Rumah karena Negara Belum Bobrok (Banget), Bukan karena Tidak Foya-Foya!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
26 Agustus 2025
A A
Beli Rumah Makin Berat di Ongkos, Mending Sewa Rumah (Unsplash)

Beli Rumah Makin Berat di Ongkos, Mending Sewa Rumah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kenapa kita, generasi muda, tidak bisa beli rumah?

Jika kalian bertanya pada orang sok keras, pasti yang disalahkan adalah gaya hidup. Entah hobi ngopi, healing, atau kegiatan yang dinilai foya-foya. Berbeda dengan orang tua kita yang selalu berhemat dan hidup sederhana. Tapi apa benar?

Sebelum makin terpuruk dan mengutuk, aku ingin buka mata kalian. Kita tidak bisa beli rumah bukan karena gaya hidup. Bukan juga karena tidak hidup sederhana. Tapi karena negara ini sudah bobrok. Lebih jauh lagi, kita tidak bisa beli rumah karena generasi sebelumnya merebut jatah!

Opini yang menyalahkan gaya hidup itu jelas tolol! Bukannya menunjuk masalah utama, malah menyederhanakan isu nasional dengan kopi dan healing. Masalah hunian adalah kanker yang dibiarkan menggerogoti negara bertahun-tahun. Lalu kita yang kena getahnya dan siap diamputasi sistem ekonomi!

Orang tua kita adalah generasi emas properti

Mungkin kita sering mendengar kisah perjuangan berat orang tua (Generasi X). Tapi konteksnya untuk memotivasi kita agar mau kerja keras. Ketika bicara kemampuan beli rumah, orang tua kita adalah generasi emas. Mereka hidup produktif di masa ketika beli rumah masih masuk akal.

Pertama, ketersediaan properti masih melimpah. Terutama dengan dorongan pembangunan Perumnas oleh pemerintah. Beberapa daerah yang kini jadi area pedestrian dulunya adalah tanah berharga amat murah. Sebagai contoh di Jogja, daerah Seturan yang kini mewah itu dulu adalah desa yang dikepung kebun tebu.

Kedua adalah sistem kredit rumah yang lebih ramah. Selain sistem bunga tetap, biaya DP masih terjangkau upah pada masa tersebut. Umumnya bunga KPR yang dirilis BTN adalah 5% dengan sistem flat. Ini membuat alokasi biaya hidup lebih tertata. Meskipun upah minimum nasional masih 40 ribu, dan rerata upah karyawan tetap adalah 100 ribu per bulan.

Harga rumah di masa itu juga tergolong masih masuk akal. Harga rumah yang ditetapkan pemerintah adalah 7 juta. Dengan upah 100 ribu dan cicilan 35% dari gaji, maka butuh 16 tahun untuk melunasi. Bandingkan sekarang, rata-rata rumah tipe 41-60 dihargai 300 juta. Dengan upah 4 juta dan skema cicilan sama, butuh 17 tahun untuk lunas.

Baca Juga:

Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Sebentar, kok mirip ya? Nah, inilah angka jebakan. Karena ada faktor lain yang membuat orang tua kita lebih bisa beli rumah.

Orang tua kita hidup di situasi indah, jadi bisa beli rumah

Beli rumah tidak pernah sederhana, karena ia melibatkan urusan biaya hidup kita. Berarti juga dipengaruhi situasi pekerjaan dan kehidupan sosial. Nah, orang tua kita ada pada masa yang lebih indah dari kita.

Pertama adalah sistem kerja yang lebih memberi keamanan. Sektor kerja formal lebih mudah diakses orang tua kita. Tentu berbeda dengan kita yang saat ini belum menemukan realisasi 19 juta lapangan kerja. Menjadi karyawan tetap di sektor formal tidak hanya memberi kepastian nafkah. Tapi mempermudah akses pinjaman ke bank.

Kelimpahan properti juga memberi kondisi indah. Apalagi untuk di daerah sekitar kota. Orang tua kita tidak berebut hunian, bahkan jika ikut program pemerintah. Dukungan program Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional) dan Taska bukan hanya pemanis. Tapi program serius dan memberi manfaat, meskipun pada akhirnya juga bobrok. Tapi masih lebih hebat daripada ide Tapera.

Model konsumsi dan kebutuhan hidup juga memberi ruang untuk menabung. Bukan karena tidak foya-foya, tapi memang harga kebutuhan hidup lebih terjangkau. Inflasi dari 1980 sampai 1995 selalu stabil di bawah 10%. Sistem pengeluaran juga lebih sederhana. Tentu berbeda dengan pengeluaran kita hari ini yang bisa 3-4 kali UMR. Bukan untuk foya-foya, tapi agar kerja lebih lancar dan waras.

Terakhir, dunia begitu ideal di masa itu hingga tidak melahirkan generasi roti lapis. Pengeluaran bulanan bisa difokuskan untuk keluarga sendiri. Sehingga masih ada sisa untuk tabungan dan membeli properti. Sialnya, mudahnya membeli properti akan menyumbang situasi rumit di generasi kita.

Hidup kita lebih rumit, dan negara bikin sulit

Apakah kita hidup di dunia yang sama dengan orang tua? Tentu saja. Tapi situasinya berbeda. Tidak ada lagi hidup yang sederhana. Menabung dan beli rumah bukan lagi sebuah hal lumrah. Tapi kemewahan yang tidak semua orang bisa rasakan.

Perkara kesenjangan properti saja sudah membuat sesak. Kini gaji kita sudah jutaan. Tapi harga properti juga naik ratusan juta. Seperti simulasi sebelumnya, selisih harga properti dan upah hari ini lebih lebih besar. Tapi jebakan tambahan kini membuat properti makin tidak terjangkau.

Selisih biaya hidup dan upah jelas berbeda. Generasi orang tua kita memiliki kebutuhan hidup lebih sederhana. Sedangkan kita memiliki pos pengeluaran baru yang sebelumnya tidak ada. Tapi jangan dikira ini foya-foya. Biaya sosial seperti ngopi dan healing bukan hanya konsumtif, tapi juga produktif. Baik membangun relasi ataupun meningkatkan motivasi kerja. Model interaksi sosial ini berbeda jauh dibanding 2-3 dekade silam.

Dari berbagai sumber, kebutuhan hidup generasi x pada masa produktif menghabiskan sekitar 60% dari upah. Masih ada sisa 40% untuk tabungan dan menyicil properti. Sedangkan kebutuhan hidup hari ini bisa mencapai 90% dari upah. Jendela tabungan makin kecil dan kerentanan makin terasa. Jangan lupa, masih ada pajak yang terus mencekik lebih erat tiap tahunnya.

Hidup tanpa keamanan sosial, kok mikir beli rumah

Posisi rentan juga disempurnakan model pekerjaan hari ini. Sektor informal, kerja lepas, hingga gigs economy mendominasi dunia kerja usia produktif hari ini. Selain membutuhkan biaya yang dikeluarkan pribadi, keamanan finansial juga makin lemah. Dunia kerja yang tidak pasti juga menjadi tantangan ketika pengajuan pinjaman dan KPR pada bank. Akses hunian murah makin rumit bagi generasi hari ini.

Sistem KPR hari ini yang lebih umum menggunakan sistem bunga mengambang juga jadi tantangan. Kini kita harus lebih cermat mengajukan kredit, serta memiliki proyeksi valid perihal penghasilan. Bahkan kerja di sektor formal tetap merasakan rumitnya KPR yang jadi solusi paling mudah punya rumah.

Kelangkaan properti akibat investasi yang dilakukan generasi X juga menambah kerumitan. Akses untuk pemenuhan kebutuhan hunian kini bersaing dengan investasi non-produktif. Kemudahan akses di masa lalu dan kemapanan finansial orang tua kita ternyata ikut menyumbang ancaman.

Tapi tidak semua orang tua semapan itu. Maka lahirlah masalah tambahan: generasi kue lapis! Jangankan menabung untuk beli rumah. Kita harus menafkahi dua sampai tiga keluarga sekaligus. Meskipun tidak semua mengalami, tapi kerentanan sosial satu ini ikut menambah kekacauan.

Masih banyak lagi ancaman yang membuat kita kehilangan keamanan sosial. Menabung makin sulit, tapi properti tetap tidak terbeli. Apakah kita perlu mengutuki sendiri? Tidak! Karena pemerintah punya andil paling besar dalam derita kita.

Salah siapa kita tidak bisa beli rumah? Salah Pemerintah!

Kenapa aku ajak kalian menyalahkan pemerintah? Karena mereka adalah arsitek derita ini!

Pemerintah sudah lepas tangan dari tanggung jawab menyediakan hunian. Tidak ada lagi program berbasis kesejahteraan seperti Perumnas dan KPR bunga tetap. Pemerintah membiarkan urusan hunian ditelan mekanisme pasar bebas. Mengubah kebutuhan primer menjadi investasi. OJK yang sejatinya punya kendali juga membiarkan sistem perbankan melakukan diskriminasi pada angkatan kerja muda.

Pemerintah hanya menyediakan solusi hambar. Program KPR FLPP hanyalah obat pereda nyeri dari kanker properti. Tapera bahkan lebih parah! Setelah pemerintah gagal mengendalikan pasar properti, mereka memaksa kita menerima dampaknya.

Apakah kita harus puasa ngopi dan healing? Silakan saja, karena tidak ada dampaknya! Frugal living mungkin bisa memberi harapan, tapi jika tidak bisa mendapat KPR juga untuk apa? Bayangkan ini: kalian di usia 60 tahun harusnya menimang cucu. Tapi kalian malah sibuk melunasi KPR yang entah kapan berakhir. Atau di usia senja kalian tetap tidak punya hunian. Terus membayar uang sewa sampai mati.

Tidak perlu dibayangkan. Karena gambaran itu sudah pasti kita alami. Kecuali pemerintah sedikit waras dan mulai serius mengurus kekacauan pasar properti. Tentu saja percuma karena semua sudah terlambat. Jadi silakan nikmati hidup sebagai kontraktor: orang yang ngontrak seumur hidup. Inilah masa depanku, kamu, dan anak cucu kita.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hancurnya Mimpi Saya Punya Rumah di Jogja karena Harga Rumah di Jogja Begitu Tinggi!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2025 oleh

Tags: beli rumahharga rumahkenaikan harga propertirumah kprsimulasi KPR
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kecamatan Tembalang, Tempat Terbaik bagi Kalian yang Ingin Hidup di Semarang, tapi Budget Pas-pasan

Kecamatan Tembalang, Tempat Terbaik bagi Kalian yang Ingin Hidup di Semarang, tapi Budget Pas-pasan

9 Maret 2024
Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

22 November 2025
Panduan Menabung untuk Membeli Rumah ala Yu Ja-seong di 'Monthly Magazine Home' terminal mojok

Panduan Menabung untuk Membeli Rumah ala Yu Ja-seong di ‘Monthly Magazine Home’

15 Juli 2021
Suka Duka Rumah Generasi Milenial di Kabupaten, Jalanan Berlubang hingga Defisit Tempat Hedon terminal mojok

Suka Duka Rumah Generasi Milenial di Kabupaten, Jalanan Berlubang hingga Defisit Tempat Hedon

6 Juli 2021
6 Benefit Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Banyak Orang

6 Benefit Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Banyak Orang

17 Maret 2023
Wacana Tenor KPR 35 Tahun Bahaya, Malah Bikin Waswas Gen Z dan Milenial

Wacana Tenor KPR 35 Tahun Bahaya, Malah Bikin Waswas Gen Z dan Milenial

12 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Orang Bangkalan Madura yang Ternyata Beragam Mojok.co

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis
  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.