Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Lampung tapi Nggak Bisa Bahasa Lampung? Banyak

Desi Murniati oleh Desi Murniati
22 Juni 2020
A A
pulau mahitam lampung bahasa lampung orang jawa transmigran bahasa jawa mojok.co

pulau mahitam lampung bahasa lampung orang jawa transmigran bahasa jawa mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari saat saya sedang membahas orang-orang yang tinggal di Lampung bersama teman saya. Teman saya yang berasal dari Sumatera Selatan bilang, “Peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung nggak related ya sama masyarakat di Lampung.” Sebagai bagian dari masyarakat yang tinggal di Lampung saya sangat setuju. Saya lho lahir di Lampung, dari kecil tinggal di Lampung, dan juga ber-KTP Lampung, tapi saya tidak bisa bahasa Lampung. Beda banget sama teman saya yang aslinya suku Jawa dan karena dia tinggal di Baturaja, dia bisa bahasa daerah setempat. Bahkan dari aksen tampak jelas dia Sumatera Selatan banget.

Ketidakmampuan saya dalam berbahasa Lampung sering menjadi bahan debat di antara saya yang keturunan transmigran Jawa dengan teman saya yang asli suku Lampung. Saya pernah dibilang, “Udahlah nggak usah pakai bahasa Jawa, di sini kan di Lampung ya pakai bahasa Lampung.” Tidak hanya teman-teman, dosen di kampus juga menjadi orang yang sensitif ketika saya dan teman-teman ngobrol pakai bahasa Jawa.

ADVERTISEMENT

Kami bukannya nggak mau pakai bahasa Lampung, tapi kami emang nggak bisa. Lha wong ngomong bahasa Indonesia aja sering keceplosan bahasa Jawa. Lagian, ketidakbisaan kami juga ada alasannya.

#1 Lingkungan berbahasa Jawa

Dulu, saat terjadi transmigrasi dari Jawa ke Lampung, masyarakat yang dipindahkan hidup berkelompok. Satu kampung isinya orang Jawa semua dan hal tersebut terjadi sampai sekarang. Makanya jangan heran jika berkunjung ke Lampung dan mendapati satu kampung masyarakatnya berbahasa Jawa, berbahasa Sunda, berbahasa Lampung, atau berbahasa Bali. Di kampung saya lebih dari 90% masyarakatnya merupakan suku Jawa dan dari kecil anak-anak diajari bahasa Jawa oleh orang tuanya. Kami bisa bahasa Indonesia karena tontonan yang ada di televisi atau ketika sudah masuk sekolah. Bahkan di sekolah-sekolah pun kami tetap menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi antarteman. Makanya, jangan heran jika saya tiba-tiba bilang, “Aduh bahasa Indonesianya ini apa ya?”

#2 Orang Lampung jarang menggunakan bahasa Lampung untuk berkomunikasi

Alasan kedua yang membuat bahasa Lampung sulit dipelajari oleh masyarakat transmigran adalah orang Lampung jarang sekali menggunakan bahasa Lampung untuk berkomunikasi sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota. Teman-teman saya yang suku Lampung banyak yang tidak bisa bahasa Lampung karena dari kecil sudah berbahasa Indonesia. Mungkin ada teman-teman saya yang bisa berbahasa Lampung, namun biasanya digunakan ketika di kampung.

Saya sebenarnya mau banget belajar bahasa ini, tapi karena nggak pernah ada tempat untuk belajar jadi ya nggak bisa sampai sekarang. Padahal belajar bahasa bisa lho hanya dengan mendengarkan orang lain ngomong dengan bahasa tersebut. Sama seperti saya yang sering ngobrol dengan bahasa Jawa (dan sering keceplosan) membuat teman-teman dari suku Sunda, Batak, dan Semendo pada akhirnya bisa bahasa Jawa.

#3 Bahasa Lampung yang beragam

Karena tingginya keinginan saya bisa berbahasa Lampung, saya bilang ke teman saya, “Ajari bahasa Lampung sih, masa aku tinggal di Lampung sampai sekarang nggak bisa bahasa Lampung.” Dan jawaban teman saya adalah, “Susah ngajarin orang lain apalagi yang bukan asli Lampung, sesama Lampung beda daerah aja udah beda bahasanya.”

Jadi, masyarakat suku Lampung secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu Lampung Pepadun dan Lampung Sai Batin. Dari pembagian dua tersebut masih ada pembagian lainnya, seperti Lampung Pubian, Lampung Menggala, Lampung Kota Agung, Lampung Kalianda, dan setiap pembagian ini memiliki bahasa yang berbeda-beda. Satu kata dalam bahasa Lampung Kalianda bisa memiliki arti yang berbeda dalam bahasa Lampung Menggala. Oleh karena itu, teman-teman saya yang asli suku Lampung jarang menggunakan bahasa Lampung untuk berkomunikasi karena mereka memang berasal dari daerah yang berbeda.

Baca Juga:

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

#4 Demografi Lampung didominasi orang suku Jawa

Saya nggak heran ketika menemui orang-orang berbahasa Jawa saat berada di Pringsewu karena dari namanya saja sudah Jawa banget. Namun, saya agak tercengang ketika berada di Bandar Lampung dan mendapati orang-orang berbahasa Jawa, mulai dari kantin kampus, rektorat, supermarket, sampai pasar. Saya berpikiran, “Lho, ini kan di ibu kota provinsi, harusnya pakai bahasa Indonesia.”

Setelah saya searching, ternyata 62% dari orang yang tinggal di Lampung merupakan suku Jawa. Sedangkan suku Lampung hanya menempati 25% dan sisanya suku-suku lainnya, seperti Sunda, Bali, Melayu, Bugis, dan Minangkabau. Makanya jangan heran jika bahasa Jawa lebih banyak digunakan karena suku Jawa menjadi mayoritas di Lampung.

Sumber gambar: Pulau Mahitam, Lampung. Wikimedia Commons.

BACA JUGA Surat untuk Teman-teman yang Masih Berpikir kalau Padang Itu Adalah Keseluruhan Provinsi Sumatera Barat dan tulisan Desi Murniati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2020 oleh

Tags: bahasa daerahbahasa lampunglampungtransmigrasi
Desi Murniati

Desi Murniati

Content writer dan blogger yang s seringnya nulis SEO dan menulis konten opini. Sekarang sibuk belajar jadi content creator.

ArtikelTerkait

3 Alasan Bahasa Betawi Ora Layak Jadi Muatan Lokal di Depok terminal mojok.co

3 Alasan Bahasa Betawi Ora Layak Jadi Muatan Lokal di Depok

27 Desember 2021
12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Ciri Khas dalam Percakapan Orang Makassar terminal mojok

Ciri Khas dalam Percakapan Orang Makassar

9 Oktober 2021
Dear Pemerintah Bandar Lampung, Banyak Hal yang Lebih Urgent Dibanding Membangun Kereta Gantung Mojok.co

Dear Pemerintah Bandar Lampung, Banyak Hal yang Lebih Urgent Dibanding Membangun Kereta Gantung

2 Maret 2025
Kalau Orang Sunda Susah Bilang F, Orang di Kampung Saya Susah Bilang W. Sebuah Contoh Dialek Epik! terminal mojok.co

Kalau Orang Sunda Susah Bilang F, Orang di Kampung Saya Susah Bilang W. Sebuah Contoh Dialek Epik!

31 Januari 2021
dialek makassar pantai losari makassar kamus bahasa makassar sehari-hari imbuhan partikel ji ki mi arti cara memakaimojok.co

Kamus Bahasa Makassar Sehari-hari: Kenalan sama Partikel Mi, Ji, dan Ki

7 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu! Mojok.co

4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu!

24 Juni 2026
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

27 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari Terminal

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

30 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri Kerap Dianggap Tempat Paling Rapi di Dunia, padahal Justru Sebaliknya, Titik Kumpul Masalah dan Kekacauan!

29 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.