Nostalgia Harvest Moon: Back to Nature dan Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik darinya – Terminal Mojok

Nostalgia Harvest Moon: Back to Nature dan Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik darinya

Artikel

Raden Muhammad Wisnu

Harvest Moon: Back to Nature adalah salah satu judul gim video yang sangat populer di zaman keemasan konsol PlayStation saat saya masih SD. Gim ini dirilis pada tahun 1999 dan sangat populer di kalangan gamers lantaran gameplay-nya yang tergolong sangat canggih pada masa itu. Nggak hanya itu, grafiknya yang unyu-unyu, background musik yang ceria dan menyenangkan, dan karakter-karakter yang unik benar-benar mendekati kondisi di dunia nyata.

Di tahun 2000-an, banyak sekali anak SD sampai orang dewasa yang memainkan gim ini. Gim ini dimainkan dari rental PlayStation sampai ruang privat seperti di dalam rumah. Saking asyiknya, saya bersama teman dan saudara yang sebaya rela begadang memainkan gim ini meski kami bisa memainkannya sendiri karena memiliki konsol PlayStation di rumah masing-masing. Topik pembicaraan di sekolah maupun circle terdekat saya saat itu tentang gim ini melulu. Nggak cowok, nggak cewek, ngomongin gim ini terus.

Selang dua puluh tahun setelah itu, saya masih memainkan gim ini lewat Emulator PlayStation di laptop saya. Seolah flashback ke dua puluh tahun yang lalu, saya pikir, kita bisa memetik pelajaran penting dari gim ini. Tentu saja dulu sebagai anak SD, saya nggak kepikiran sama sekali soal pelajaran hidup dari gim Harvest Moon: Back to Nature. Baru kepikirannya ya sekarang~

#1 Kerja keras akan membuahkan hasil

Harvest Moon: Back to Nature bercerita tentang kita sebagai karakter utamanya di mana diberikan waktu selama 3 tahun untuk mengurus kebun dan peternakan milik mendiang kakek yang hancur sepeninggal blio meninggal dunia. Dalam gim ini, kita harus mengembalikan kesuburan ladang milik mendiang kakek sekaligus peternakannya yang meliputi memelihara ayam, domba, sapi, dan juga kuda. Tidak hanya itu, sebagai warga desa Mineral Town, kita juga dituntut untuk berkontribusi dalam kegiatan masyarakat setempat.

Baca Juga:  Ketika Game Online Menyerang, PES dan Winning Eleven Masih Menjadi Pilihan

Gim ini mengajarkan bahwa untuk menjadi kaya raya kita harus bekerja keras meskipun sudah dikasih privilege berupa kebun dan peternakan milik kakek kita sendiri. Kita harus bangun pagi, membajak ladang, menebar bibit, dan menyiraminya. Setelah itu selesai, kita juga harus memberi makan ayam, domba, sapi, dan kuda peliharaan. Jangan lupa juga menyikat tubuh dan mengurus mereka saat sakit. Jangan jadi manusia yang tamak dan serakah! Perhatikan kesejahteraan hewan peliharaan juga.

Cukup sampai di situ? Rutinitas tersebut harus dilakukan selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum ayam kita dapat menghasilkan telur yang bisa kita jual, domba kita dapat menghasilkan bulu tebal yang bisa kita jual, sapi kita dapat menghasilkan susu yang bisa kita jual, dan hasil pertanian yang bisa kita jual. Selain itu, kita juga harus rajin ke gunung untuk menambang produk pertambangan sekaligus memulung hasil alam di dalamnya. Jika kalian rajin, akan berbuah manis di tiap musimnya.

#2 Harus berjuang untuk mendapatkan gadis yang kita sukai

Salah satu faktor yang membuat gim Harvest Moon: Back to Nature ini populer adalah kita bisa menikahi gadis yang kita sukai jika mereka mau menerima lamaran kita. Tapi sebelum menikahi mereka, pastikan dulu gadis tersebut jatuh cinta pada kita. Setiap hari kita harus memberi perhatian padanya. Pertemuan pertama dengan mereka pun harus dilakukan sebaik mungkin sebagai bentuk first impression yang berkesan. Kita juga harus rajin-rajin memberikan mereka barang yang mereka sukai seperti bunga, makanan, cokelat, hingga perhiasan.

Selain itu, kita harus merenovasi rumah peninggalan kakek kita dulu seperti menambah luas bangunannya sehingga ada dapur dan kamar tidur buat modal berumah tangga. Menikahi seorang gadis nggak bisa main-main, MyLov! Harus diperjuangkan!

Baca Juga:  Nalar Cacat Orang Pakai Masker tapi Nggak Pakai Helm

#3 Kegiatan sosial itu penting

Gim ini juga mengajarkan kita bahwa kerja keras dan mengejar gadis yang kita sukai bukanlah segalanya. Kita tetap harus meluangkan waktu kita untuk berkontribusi pada masyarakat dengan mengikuti kegiatan di desa. Kita harus mengikuti setiap festival, perayaan, dan perlombaan yang ada. Jangan cuma mengurung diri di ladang sendiri doang.

Ketika ada kejadian penting di desa seperti saat May, gadis berusia 7 tahun hilang, ya kita harus bantu cari. Jangan alasan harus kerja di ladang, karena kerja kan nggak 24 jam juga. Ikut festival, perayaan, atau perlombaan juga nggak harus menang, minimal hadir saja karena kerja nggak 24 juga. Dengan begitu, masyarakat akan menaruh rasa hormat pada kita dan akan membantu kita sewaktu-waktu. Jadi, jangan cuma datang pada orang lain kalau ada butuhnya doang, ya.

#4 Nggak mau kerja keras? Bisa pakai pesugihan dan pelet!

Gim ini juga mengajarkan kita kalau nggak mau kerja keras, kita bisa pakai gameshark sejak hari pertama main. Kita jadi bisa memiliki segudang uang biar bisa lebih gampang merestorasi ladang peninggalan kakek kita seperti praktik pesugihan.

Dengan begitu, kita bisa membeli peralatan tani mutakhir di pandai besi setempat, Bapak Saibara. Kita bisa membeli banyak ayam di Poultry Farm. Kita bisa membeli banyak domba dan sapi di Yodel Farm. Kita bisa merenovasi kandang ayam, kandang sapi, dan rumah kita di ladang pada kontraktor setempat, Bapak Gotz. Kita bisa mempekerjakan kurcaci buat ngasih makan ayam, domba, dan sapi kita, sekaligus menyikat tubuh mereka. Nggak perlu repot-repot kerja, deh. Dan dengan pesugihan tersebut kita juga bisa memberikan banyak kado seperti sejumlah makanan atau perhiasan pada penduduk desa agar mereka menyukai kita.

Baca Juga:  Indonesia Menuju Cashless Society

Nggak cuma itu, kita juga bisa pakai gameshark agar seluruh gadis di Desa Mineral Town tergila-gila pada kita sejak pertemuan pertama seperti kena pelet. Jadi, nggak usah susah-susah PDKT lama-lama. Asal rumah sudah jadi, tinggal lamar dan nikah saja karena pada dasarnya mereka sudah cinta, dan sebagai tokoh utama, kita sudah punya banyak uang.

Itulah pelajaran hidup yang dapat kita petik dari gim Harvest Moon: Back to Nature yang baru saja terpikirkan setelah 20 tahun. Waktu kecil mah mana kepikiran hal-hal kayak gini.

Sebagai penutup, saya betul-betul merindukan suasana saat saya dan teman-teman sebaya masih ramai memainkan gim ini. Saat ini, gim memang sudah canggih, tapi saking banyaknya genre dan banyak gim yang nggak merakyat karena harga konsol dan harga original pada konsol dan PC yang mahal, rasanya jadi nggak seramai 20 tahun yang lalu karena ada pembagian kasta yang sangat jelas dalam dunia game.

Sumber Gambar: YouTube Reza E

BACA JUGA Ketika Bulik Saya yang Seorang Petani Main Gim Harvest Moon dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.