Nissan Grand Livina Modifikasi, Cantik tapi Nggak Lincah Itu Percuma!

Artikel

Avatar

Pagi-pagi saya sudah kedatangan saudara saya dari Semarang. Doi main ke Bintaro sekadar mau pamer Grand Livina yang baru saja dibeli. Tunai lagi!

“Lu mesti nyobain! Gue mau denger komentar brader gue yang katanya mekanik senior di Bintaro.” Pinta saudara saya dengan sombongnya.

Sekilas dari jauh, Nissan Grand Livina yang doi bawa ini memang berbeda dengan teman-temannya yang lahir 2008an. Jika teman-teman sezamannya sudah nampak kusam, ini Grand Livina masih kinclong. Ditambah lagi cat mobilnya bukan bawaan pabrik, semakin membuatnya memancarkan aura positif.

Mana pernah Nissan Motor Indonesia ngeluarin cat warna ungu metalik. Dan ketika didekati, berubah warna menjadi merah maroon untuk Grand Livina. Sehingga sudah dapat dibayangkan dong, bagaimana bedanya?

Begitu agak saya dekati, mulai deh saya merasakan banyak perbedaan. Mulai dari gril dan bumper yang dibikin satu warna dan sedikit sentuhan pembeda. Dan beberapa modifikasi di rumah fog lamp, terkesan lebih sporty dengan tiga garis memanjang ke kanan dan ke kiri.

Begitu ruang engine saya buka, hal pertama yang saya rasakan adalah ketinggian kendaraan. Ternyata benar, spring suspensinya sudah dibikin lebih pendek. Bodi kendaraan teramat ndeprok, serasi dengan velg 18 inci yang lebar berbentuk jeruji. Sementara di dalam ruang mesin saya dapatkan batang alumunium yang mengikat dudukan suspensi kanan dan kiri katanya berfungsi sebagai penyetabil.

Sementara di bagian mesinnya itu sendiri terdapat banyak dial gauge indicator dan beberapa selang tambahannya. Saya kurang begitu paham, selang itu berisi udara atau yang lainnya. Yang pasti itu bukan komponen standar. Begitu juga filter udaranya yang diganti bulet tanpa rumah filter udara. Meskipun terkesan ruwet, nyatanya masih enak dipandang. Yah, tinggal nanti bagaimana hasil uji jalannya.

“Ayo! Lu yang bawa, Brader!” Pinta saudara saya merasa menang.

Bagian dalamnya tidak bayak yang berubah, cuma roda kemudi yang diganti lebih simpel tanpa spiral kabel dan tombol klakson. Tombol klaksonnya terpisah ditempelkan di atas paci kanan. Kreatif juga, daripada masih mempertahankan spiral kabel yang sering putus, dan harganya lumayan. Bahkan airbags di roda kemudi pun sudah dicopot. Saya perhatikan, ada stiker hitam menutupi indikator airbags-nya di speedometer. Wow nggak pakai ribet! Meskipun manipulatif.

Baca Juga:  Nasib Menjadi Anak Bungsu: Dari Disayang Sampai Dengan Menjadi Pesuruh

Terlihat di atas plafon terpasang sebuah panoramic sunroof tambahan. Entah bisa dibuka otomatis atau tidak, saya kurang begitu tertarik untuk membukanya. Yang pasti kesan mewah Grand Livina modif ini dapet, saya seperti di dalam kabin mobil pejabat.

Pas mesin menyala sih rasanya normal-normal saja, tetap halus seperti biasanya. Knalpotnya juga masih halus, tidak diganti yang mirip angkot D09. Ngomongin angkot saya jadi inget kebiasaan angkot di Bintaro yang suka banget pasang audio yang suara bassnya berlebihan. Langsung saja saya mencoba memutar lagu di headunit yang masih standar Grand Livina ini untuk memastikan. Ternyata saudara saya dengan saya memiliki selera yang tak jauh beda. Bassnya pas namun lebih mencari kejernihan terrible-nya. Not bad, buat nge-play Mundur Alon-alon.

Begitu saya coba jalan, baru deh Nissan Grand Livina ini menunjukkan sisi kekurangannya. Jujur suspensinya keras. Mungkin karena efek ban yang tipis dan spring suspensinya yang pendek. Getaran di roda kemudi juga berasa kasar dan lebih berat, mungkin efek dari velg yang tidak standar.

Saya pikir Grand Livina modifan seperti ini tidak bisa dipakai untuk ngebut. Bayangkan saja pas ngebut terus ada jalan yang tidak rata, beh pasti berasa banget guncangannya. Ternyata bener, pas saya lewat jalan berlubang kecil, sudah seperti melewati galian lubang buaya goncangannya. Padahal kecepatannya juga cuma 40km/jam.

Yang lebih aneh ketika saya melewati Jl. Boulevard Bintaro Jaya sektor 7, Grand Livina ini harus menggunakan cara khusus untuk melewati poldur yang terkenal bergunung-gunung itu, yaitu dengan sedikit menyerong. Ya biar bodi kit yang hampir nempel aspal pada mobil ini tidak hancur. Haha Duh susahnya!

Sementara itu, saya terkagum-kagum dengan kecantikan mobil ini ketika melihat pantulan bayangannya dari bodi kendaraan di sebelahnya. Saya menilai Grand Livina ini seperti mobil sport beneran. Sehingga terkadang kaki saya gatel pengen ngebejek pedal gas, untuk mengetahui performanya. Namun lagi-lagi saudara saya lebih dulu melarangnya. Padahal roda depannya mau saya coba spinning, masih bisa apa nggak. Kan seru tuh jadi pusat perhatian di lampu merah! Atau kalau perlu nyobain drifting di beberapa bundaran di jalan itu mengingat Grand Livina ini dimodifikasi dengan ban dan velg racing.

Baca Juga:  Sulong Form Nekomamushi dan Deklarasi Perang dari Luffy: Review One Piece Chapter 987

“Nggak usah ampreh-ampreh!”, Tegur saudara saya begitu saya mengayunkan pedal gas sambil menginjak kopling. Saya membayangkan mobil modifikasi seperti ini bisa lari kenceng seperti di film Fast and Furious, namun sepertinya memang dunia nyata tak sekeren di dalam film. Ah nggak seru!

Entah apa alasan saudara saya melarang saya untuk bermanuver lincah. Mungkin ada beberapa alasan, yang pasti bakal mempercepat keausan ban. Atau jangan-jangan modifikasi yang dilakukan pakai low budget? saya kurang paham. Sehingga risiko rusak tinggi, karena pakai bahan yang tidak dirancang khusus untuk sport. Ada saja kan modifikasi yang ditujukan untuk cantik-cantikan saja. Asalkan difoto bagus, pasti jadi juara.

“Apa nggak sayang Grand Livina dimodifikasi seperti ini? Mendingan yang standar-standar aja, lebih nyaman, kan?” Saran saya kepada kakak kandung saya.

Bisa dibayangkan dong, apa reaksi saudara saya yang memang hobi modifikasi mobil? Haha Maklum saya belum bisa melawan kesombongan kakak saya dengan kesombongan yang lebih besar, jadi ya sekadar nyinyiran yang bisa saya lakukan. Peace, Brader!

BACA JUGA Mengenang Kerja Keras Membangkitkan Kembali Grand Livina yang Mati karena Kebanjiran dan tulisan Erwin Setiawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.