Mengenang Kerja Keras Membangkitkan Kembali Grand Livina yang Mati karena Kebanjiran

Artikel

Avatar

Tahun kemarin, ketika Jabodetabek dilanda banjir, saya kedatangan pelanggan yang membawa Grand Livina hancur terendam banjir. Saya mengira mobil itu akan dibenerin, eh ternyata malah disuruh bayarin. Emang, sih, ya kalau dibenerin, bakalan abis banyak dana.

“Saya sudah ke bengkel resmi, diestimasi biayanya sampai Rp70 juta untuk memperbaiki semuanya seperti sedia kala, sudah termasuk jasa, sparepart, servis berkala, dan salon. Saya lihat list pekerjaannya memang banyak sekali.” Kata pelanggan itu sambil memegangi kepalanya.

“Dan itu pun, kata si montir bisa saja ada kerusakan lain yang tiba-tiba timbul. Emang bener bisa seperti itu, Mas?” Lanjut pelanggan itu berkeluh kesah.

“Iya bener, Pak. Mobil yang sudah kebanjiran, apalagi sampai tenggelam, itu lebih rentan terkena penyakit. Tau sendiri mobil sekarang serba elekrik.” Jawab saya berusaha jujur, meski terkesan menakut-nakuti.

Kesan pertama saat memandangnya, saya seperti melihat sebuah mutiara di dalam kubangan lumpur. Grand Livina putih keluaran 2014 ini hanya bisa pasrah ketika saya mencoba mengelap beberapa lumpur di kaca depannya. Begitu saya membuka pintunya, beh, bau tanah banget. Interior yang mewah itu tak berbentuk, saya hanya melihat sampah dan lumpur. Ya Allah Gusti, ini mobil apa sawah siap ditanami padi ya?

Sebenarnya Grand Livina yang dibawa ke bengkel saya itu jarang dipakai, kilometernya juga baru 50.000. Secara umum, mobilnya masih bagus. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana saya menghidupkan “bangkai” yang sudah mati ini? Sepertinya saya perlu memakai jurus Edo Tensei milik Orochimaru nih.

Mobil bermesin HR15, dan bertransmisi CVT ini saya ibaratkan “mutiara di dalam lumpur” karena memang pada dasarnya Grand Livina adalah mobil paling nyaman di kelasnya. Sudah begitu, MPV ini terkenal lincah dan sporti. Layak dibilang mutiara, kan? Putih lagi warna bodinya.

Setelah membelinya dengan harga murah meriah, yang bisa dibilang kilioan, PR saya masih banyak sekali. Yah, kalau enggak hobi mah pasti ogah banget. Hal pertama yang saya lakukan adalah autodetailing mandiri; membongkar bagian interior satu per satu untuk dicuci bersih dan dikeringkan. Mulai dari jok yang dilapisi kulit sintetis, karpet dasar, trim yang menempel pada pilar dan pintu, hingga dashboard.

Untuk plafon cukup dibersihkan langsung saja, tanpa perlu dibongkar. Dan tidak perlu disikat bila tidak ingin bahannya brudul. Tidak lupa juga membersihkan seluruh bodi luar-dalam dan kaca agar doi tamvan lagi.

Bisa dibilang saat itu team saya bergotong royong untuk menghidupkan kembali si Grand Livina L11 itu. Kami menyatukan kekuatan di tengah dinginnya musim penghujan awal tahun. Bahkan untuk menyelesaikan langkah pertama ini, kami membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kuat lakoni, rak kuat tinggal nonton TV.

Sambil menunggu komponen interior yang dibongkar itu mengering, langkah selanjutnya adalah memeriksa kondisi mesinnya. Apakah mesinnya kemasukan air? Begitu juga transmisinya?

Menurut keterangan pelanggan, Grand Livina ini kena banjir saat diparkir di garasi. Kondisi mesin saat itu mati, sehingga kemungkinan air masuk ke ruang bakar kecil. Paling airnya masuk ke ruang oli, itu pun kalau ada seal yang tidak bagus. Hal ini berlaku juga untuk transmisinya. Kalau warna olinya sudah seperti susu, ini pertanda ada airnya. Dan harus diganti, jangan nekat!

Baca Juga:  Surat Cinta Dari Guru Honorer di Kampung: Hadiah Spesial Untuk Bapak Jokowi

Saya juga pasti memastikan ruang bakar dan busi, apakah ada airnya di dalam sana? Iya, terkadang memang mengandalkan logika saja tak cukup. Tabayun itu penting, saya harus bener-bener memastikan dengan cara membongkar. Toh sekalian tune up biar pas mesin dihidupkan langsung “jreng”.

Pastikan juga menambah sedikit pelumas di ruang bakar. Tujuannya untuk mencegah penguncupan ring piston. Ya seperti “punyamu”, Bro, kalau kedinginan bisa menguncup. Kalau ring piston sudah menguncup, sampai kiamat juga mesin tidak akan bisa menyala. Ini berhubungan dengan kompresi.

Selanjutnya saya mencoba memeriksa kelistrikannya. Jika saya beruntung, masih ada kok komponen yang bisa diselamatkan. Tapi sekali lagi, bejo-bejonan, Cah!

Jika di bengkel resmi, sudah pasti mobil yang terendam penuh bakal diestimasi seabrek segala komponen yang berkaitan dengan kelistrikan. Mulai dari IPDM, BCM, ECM, Modul Airbags, TCM, pokoknya segala modul.

Loh emangnya tidak bisa discan untuk memilah komponen dari Grand Livina mana saja yang rusak? Engga bisa, Cah! Malah bisa-bisa di monitor diagnosa menunjukkan semua sensor bermasalah. Wong untuk “On” saja engga bisa. Ibaratnya orang yang hilang kesadaran, ia tidak bisa merasakan sakit pada bagian mana pun. Sehingga sudah pasti montir bakal mengestimasi dengan cara menebak. Iya beneran sekadar nebak-nebak kemungkinan yang rusak. Kecuali kondisi mobilnya bisa “On”, ini akan mempercepat proses analisis.

Apakah dengan menebak mereka menjadi tidak profesional? Jangan salah sangka dulu. Justru dengan diestimasi dengan cara seperti itu, bengkel resmi akan dinilai profesional. Bagaimana penjelasannya? Begini.

Seandainya seorang montir bengkel resmi cuma memperkirakan kemungkinan paling baiknya, lalu diestimasi IPDM-nya saja biar bisa “On” dulu minimal. Wah, bengkel resmi tidak mungkin bisa menjelaskan ketika sesudah diganti IPDM-nya ternyata yang rusak nambah-nambah lagi. Atau bahkan masih tetap tidak bisa “On”. Tidak mungkin bengkel resmi minjem IPDM ke mobil lain?Melanggar kode etik dong?

Bukankah dengan begitu terkesan tidak profesional? Dan dengan cara seperti itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Bukanya pelanggan akan merasa puas dan memberi nilai sepuluh, malah bisa memberi nilai satu karena waktu pengerjaan yang terlampau lama dari standar. Terlepas dari itu, memang perusahaan menuntut untuk berjualan. Wajar dong, Bosque?

Berbeda dengan bengkel pinggir jalan, memang bisa dipelipir meskipun waktu penyelesaiannya lebih lama. Mau ngasih bintang satu yo ben. Sama persis dengan yang saya lakukan. Pertama kali saya mencoba mengganti IPDM-nya dengan modal meminjam ke temen, InsyaAllah aman. Dan ternyata Grand Livina ini masih dilindungi Tuhan, ia bisa “On” hanya dengan mengganti IPDM.

Saya melanjutkan scanning untuk mengetahui komponen mana saja yang bermasalah. Sedikit shok saya, ternyata ECM, dan Airbagnya bermasalah. Langsung saja saya membongkar ECM itu dan menyerahkan kepada ahlinya untuk diperbaiki. Sementara Airbag saya abaikan dulu. Yang penting hati-hati saat berkendara, jangan lupa berdoa, InsyaAllah selamat meski engga pakai Airbag.

Baca Juga:  Musim Hujan dan Banjir Tiba, Berhenti Menyalahkan Sampah!

Sekitar dua mingguan, ECM itu kembali. Ini pun tergolong paling cepet kata ahlinya, sebab ia sedang kebanjiran permintaan reparasi ECM pada saat itu. Banjirnya hampir merata di seluruh Jabodetabek, sih.

Untuk mempermudah proses starting Grand Lvina ini, saya harus memastikan ada api di ujung keempat busi saat start. Ini juga penting, seandainya tidak ada apinya sampai lebaran kucing pun engga bakal menyala itu mesin.

Selanjutnya saya wajib mengecek kondisi bensin sebelum dicoba start. Pastikan yang terpompa menuju injektor adalah bensin, bukan air, atau campuran bensin dan air. Jika ditemukan butir air sedikit saja, maka tangki bensin harus dikuras kering untuk diisi ulang dengan bensin murni. Alhamdulillah, Grand Livina putih ini masih dilindungi Tuhan. Lanjot!

Jangan lupa juga pastikan troutle body tidak macet, atau pun tersumbat oleh kotoran. Namanya juga banjir, bisa saja ada lumpur menyumbat saluran udara. Sedangkan filter udara wajib ganti kalau basah. Kalau saya sih sementara tidak pakai filter udara. Ben resing!

Jika semua syarat sudah terpenuhi; api, udara, bensin, dan kompresi, maka mesin siap dicoba untuk proses starting. Biasanya air akan keluar dari dalam kenalpot saat pertama kali start, jumlahnya lumayan banyak. Tidak apa-apa, jika keluar itu malah baik. Kalau bisa dibikin sampai muncrat-muncrat biar keren. Lah gak penting?

Alhamdulillah Grand Livina yang baru saya beli ini hanya perlu mengganti IPDM dan beberapa komponen kelistrikan lainnya. Yang penting bisa nyala dulu. Lampu-lampu cukup dikeringkan. Airbag non aktif tidak masalah untuk sementara. Yang penting AC dingin biar nyaman untuk keliling di ibukota.

Setelah hampir dua bulan, akhirnya saya menjajalnya keluar untuk pertama kali. Hasilnya tidak cukup buruk; tarikannya sudah wajar seperti L11 pada umumnya, smooth-shifting gitu. Bahkan bayak orang menilai tarikannya lemot, padahal ya memang itu fitur keunggulan Grand Livina. Mobil keluarga getoh!

Asal masih bisa nanjak dengan muatan penuh sih wajar, namun terkadang sampai tidak bisa nanjak anggapannya masih normal saja. Memang bengkel resmi kuat banget membangun propaganda, sama kayak yang nulis.

Jika dilihat secara visual, Grand Livina ini seperti tidak pernah kebanjiran. Tapi sayangnya, sejarah si doi sudah tercatat di bengkel resmi. Sehingga saya memutuskan untuk memakainya sendiri saja. Lumayan bisa direntalin. Ya kalau ada yang nawar harganya cocok, saya kasih dah. Salam.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

BACA JUGA 4 Usaha ini Cocok Buat Kalian yang Pengin Kaya tapi Nggak Mau Ribet dan tulisan Erwin Setiawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.