Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nilai-nilai Kehidupan yang Bisa Dipetik dari Peralatan Pagelaran Wayang

Mukhammad Nur Rokhim oleh Mukhammad Nur Rokhim
27 September 2020
A A
Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pagelaran wayang, sebuah pertunjukan yang unik karena ada banyak peralatan yang terlibat di dalamnya. Ada peralatan utama maupun yang bersifat penunjang. Peralatan utama adalah boneka-boneka wayang, kotak, gedhog atau cempala, keprak, kelir atau layar, debog atau batang pohon pisang, blencong atau pelita, dan gamelan. Adapun peralatan pendukung ada tata lampu, sound system, panggung, dan sebagainya. Bahkan, kemajuan teknologi digital juga ada video streaming sebagai pelengkapnya.

Setiap peralatan pagelaran memiliki fungsi berbeda-beda menurut tujuan digunakannya. Umumnya, peralatan ini digunakan secara bersamaan dan saling melengkapi sehingga tercipta kesan estetis dalam setiap pertunjukan wayang kulit. Karena bersifat estetis, peralatan utama pagelaran wayang tentu memiliki makna atau nilai. Untuk mengulas bagaimana bisa peralatan pagelaran bisa menandai kehidupan dalam wayang, salah satunya kita bisa menyimak dari janturan sang dalang.

ADVERTISEMENT

Janturan atau prolog adalah pembacaan sinopsis cerita dan disertai dengan pesan-pesan simbol kepada penonton. Saat janturan ini, dalang juga menjelaskan hakikat wayang dan pagelaran sebagai gambaran kehidupan manusia. Dalam setiap pagelaran, selalu mengisahkan tentang kebaikan dan keburukan tokoh wayang. Dari kebaikan dan keburukan ini, diharapkan penonton mampu memetik hikmahnya.

Sebelum merujuk pada perangkat yang dijelaskan dalam janturan, penulis teringat dalam satu webinar yang disiarkan oleh Pura Pakualaman yang membahas tentang wayang. Dalam webinar tersebut, diterangkan oleh Pak Rudy Wiratama bahwa boneka wayang adalah satu kesatuan utuh. Kita tidak bisa mencirikan atau meniru tokoh A maupun B, tetapi secara universal semua dalam kotak wayang adalah gambaran watak manusia. Artinya, ada kemungkinan manusia berbuat baik dan juga sebaliknya.

Dalam janturan yang pernah penulis simak dalam pagelaran wayang kulit Ki Manteb Soedharsono bahwa kelir yang digelar diumpamakan sebagai dunia yang dihamparkan (kelir ginelar pindhane jagad gumelar), blencong sebagai penerang dunia (blencong minangka oboring jagad), gedhog-keprak sebagai detak jantung boneka wayang (gedhog-keprak ibarat keteging jejantung), gamelan dan tembang pengambaran suka duka kehidupan manusia (pradangga lan tembang dadi gegambaraning urip bungah-susah), dan sebagainya.

Pertama, kelir sebagai gambaran alam atau jagat. Secara fisik, kelir adalah kain putih yang direntangkan sebagai layar pertunjukan. Hal unik dari kelir adalah warna putih yang melambangkan sesuatu yang bersih, suci, dan sebagainya. Harus disadari bahwa alam ini juga bersifat bersih dan suci. Adanya bayang-bayang hitam dalam kelir karena adanya kehidupan wayang. Artinya, segala sesuatu terjadi di dunia ini, baik yang membangun atau merusak, disebabkan karena ulah manusia.

Kedua, blencong sebagai penerang dunia. Dalam pagelaran wayang, blencong adalah komponen penting kedua dalam pagelaran. Pada zaman dahulu saat pagelaran wayang masih menggunakan nyala api sebagai penerang, seorang panyimping atau asisten dalang juga bertugas menjaga api blencong tetap menyala selama pagelaran. Sampai saat ini, apabila blencong padam maka pagelaran wayang pun dijeda sampai blencong menyala kembali.

Secara kontekstual terhadap makna blencong ini adalah manusia membutuhkan sumber cahaya. Tidak hanya manusia saja, tumbuhan, hewan, dan organisme lain pun juga membutuhkan cahaya. Penafsiran dan fungsi cahaya inipun bermacam-macam menurut sudut pandang pembahasannya, bisa bermakna konotasi sebagai petunjuk kehidupan atau bermakna denotasi sebagai sumber energi atau penerang.

Baca Juga:

Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk dalam Hidup Saya?

Mencibir Wacana Bodoh Menghapus Jurusan Filsafat karena Mereka Nggak Paham kalau Kuliah di Filsafat UGM Bikin Saya Bahagia Seumur Hidup

Ketiga, gedhog-keprak sebagai detak jantung. Secara biologis, makhluk dikatakan hidup apabila jantung masih berdetak. Detak jantung yang terjadi dalam setiap organisme akan membentuk sebuah ritme. Gedhog dan keprak dikatakan sebagai detak jantung karena mengatur tingkat ritme gerak wayang maupun ritme dalam iringan gamelan. Semakin cepat ketukan dalam gedhog dan keprak, semakin cepat pula ritme dalam iringan dan gerakan wayang yang dimainkan.

Kita sadari atau tidak ritme kehidupan akan terus berjalan seiring perputaran dunia itu sendiri. Alunan keprak dan gedhog tetap berjalan selama pagelaran wayang berlangsung. Dilema yang mungkin muncul dari ritme kehidupan dan “pagelaran” dunia ini adalah bagaimana manusia merespon ritme kehidupan yang terus mengalir. Apakah biasa saja, kaget, atau antisipatif?

Keempat, gamelan dan tembang sebagai penggambaran susah-senangnya kehidupan. Dalam pagelaran wayang, ada sulukan dan gendhing. Dalam sulukan ini, masih dibagi lagi menjadi beberapa jenis seperti ada-ada untuk adegan perang atau marah, sendhon untuk adegan sedih, dan pathetan untuk awalan adegan seperti biasanya. Dalam gendhing pun sama, ada beberapa iringan yang memiliki makna-makna tertentu.

Makna yang bisa kita ambil dari hal ini adalah kesenangan maupun kesedihan di dunia itu tidak ada yang abadi. Dengan kehidupan yang berdinamika ini, manusia dituntut untuk berfikir lebih mendalam tapi tidak mbateg. Apapun bentuk nikmat dan ujian kalau dijalani dengan setulus hati, pasti akan menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dalam hidup. Pikiran jernih, hati pun bersih.

Peralatan dalam pagelaran tidak hanya sekadar benda saja. Ternyata, ada makna yang sangat tinggi dalam setiap bagiannya. Wajar saja jika UNESCO mengakui bahwa wayang adalah karya agung warisan budaya dunia sebab ada banyak nilai-nilai filsafat dan edukasi dalam seni budaya, dan salah satu yang terkadang luput dari pandangan kita dalam dunia pewayangan adalah peralatannya itu sendiri.

BACA JUGA Gunungan: Penanda Waktu Pagelaran Wayang dan Simbol Kehidupan dan tulisan Mukhammad Nur Rokhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2020 oleh

Tags: filsafatmaknanilaiwayang
Mukhammad Nur Rokhim

Mukhammad Nur Rokhim

Juru Pikir di Pendhapa Kabudayan.

ArtikelTerkait

Bagi Pria Madura, Songkok Hitam Tak Sekadar Penutup Kepala

Bagi Pria Madura, Songkok Hitam Tak Sekadar Penutup Kepala

16 April 2022
mengerjakan skripsi kuliah sidang skripsi Kiat Merampungkan Skripsi dari Kisah Pewayangan Bambang Ekalaya MOJOK.CO

Skripsi Nggak Kunjung Selesai? Mari Contoh Kisah Pewayangan Bambang Ekalaya

12 Agustus 2020
Pengalaman Mengajar di SMA Negeri: Siswanya Sulit Diajak Berpikir Kreatif karena Takut Nilai Jelek

Pengalaman Mengajar di SMA Negeri: Siswanya Sulit Diajak Berpikir Kreatif karena Takut Nilai Jelek

15 Agustus 2024
Dosen Bukan Lagi Manusia Setengah Dewa, tapi Memang Sudah (Cosplay) Jadi Dewa

Dosen Bukan Lagi Manusia Setengah Dewa, tapi Memang Sudah (Cosplay) Jadi Dewa

12 Januari 2024
Kiat Mendapatkan Nilai A dengan Mengadopsi Gaya Belajar Anak-anak ‘Law School’ terminal mojok

Kiat Mendapatkan Nilai A dengan Mengadopsi Gaya Belajar Anak-anak ‘Law School’

12 Juni 2021
IPK Realistis atau Bare Minimum bagi Kalian Mahasiswa Baru di Semester Pertama, Biar Bisa Jadi Pondasi untuk Semester Selanjutnya

IPK Realistis atau Bare Minimum bagi Kalian Mahasiswa Baru di Semester Pertama, Biar Bisa Jadi Pondasi untuk Semester Selanjutnya

6 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal, salah satunya bikin malu saja

11 Juli 2026
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis Mojok.co

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

8 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026
Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri Mojok.co

Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri

14 Juli 2026
Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya Mojok.co

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.