Eksistensialisme Kierkegaard dalam Album BLACKPINK – Terminal Mojok

Eksistensialisme Kierkegaard dalam Album BLACKPINK

ArtikelFeatured

Agaknya judul yang melibatkan filsafat dan album BLACKPINK ini bisa membuat orang-orang #AsalBukanKPop dan perendah selera musik orang lain muhasabah diri dan sadar bahwa penikmat musik yang mereka benci secara buta paling tidak, membaca lebih banyak buku daripada mereka.

Namun, apa pun itu, saya hanya akan menulis ini dengan gaya bahasa orang mabuk. Supaya saat tulisan ini akurat saya bisa berbangga bahwa saat mabuk pun wawasan saya lebih luas dari Anda. Sebaliknya kalau tulisan ini keliru saya bisa berdalih bahwa kemabukan sayalah yang membuat tulisan ini tidak akurat.

Kierkegaard dalam judul merujuk pada sosok Søren Abbey Kierkegaard (1813-1855), filsuf Denmark yang digelari Bapak Eksistensialisme.

Di artikel ini saya angkat aliran eksistensialisme yang ternyata di kalangan saya sendiri masih cukup banyak yang sama sekali baru mendengarnya. Tulisan ini tidak berniat mencerahkan orang-orang tersebut. Ini sepenuhnya untuk keperluan narsisme. Saya sendiri baru terpikir.

Suatu sore saya berfilsafat tai kucing dengan segala kesia-siaannya sambil mendengarkan kumpulan mp3 yang

 saya convert dari video YouTube (baca: saya miskin). Entah kenapa saat mengingat kisah hidup Kierkegaard tiba-tiba terputar “Love to Hate Me” lagu dari album BLACKPINK, atau sebaliknya saat mendengar lagu itu saya teringat Kierkegaard. Saya tidak ingat. Ingat, saya mabuk.

Yang pasti lirik lagu “Love to Hate Me” yang sepenuhnya bahasa Inggris benar-benar pemantik terbesar munculnya tulisan ini. Untuk lagu lain, saya harus membaca terjemahan sehingga penemuan filosofis terhadap lagu atau album BLACKPINK ini tidak mungkin spontan.

Petikan lirik “you ain’t worth my love if you only love to hate me” betul-betul memancing saya untuk menggali lebih dalam kerja-kerja lain dalam album ini. Ya walaupun saya ini bisa dikategorikan sucker for BLACKPINK dan karena itu seandainya mereka bilang, “Menanam padi yang ideal adalah saat pukul 4 sore di planet Venus.” Saya akan turuti dan setujui juga.

“You ain’t worth my love if you love to hate me” merupakan konsepsi yang mirip tausiyah, namun duniawi. Dalam filsafat eksistensialisme Kierkegaard, konsepsi semacam itu merupakan tahapan kehidupan “etis” di mana dalam hidup, prinsip-prinsip etika dan konvensi umum mulai atau sudah dianggap penting.

Ada tiga tahap hidup dalam eksistensialisme Kierkegaard, yakni estetis, etis, dan religius. Dalam satu album The Album ketiga tahap ini dapat kita temui. Kalaupun tidak, tetap akan saya paksakan di tulisan ini.

Ice cream yang estetis, “Love to Hate Me” yang etis, sampai pada title tracknya “Lovesick Girl” yang religius. Artikel ini akan membagi penjabaran menjadi tiga, seturut tiga tahap hidup dalam eksistensialisme Kierkegaard, dan di masing-masing tahap dijabarkan pula lagu mana yang merepresentasikan tahap tersebut. 

Yoklah kita bahas satu per satu, saya sudah sangat ingin tidur. Eh, sebelum lebih jauh perlu diingat bahwa ketiga tahapan ini sifatnya tidak kontinu, jadi bisa saja anda sudah religius di umur 10 tahun, atau masih estetis saat sudah bungkuk. Oke ya, lanjut.

Tahap estetis

Baca Juga:  Membedah Penampilan 'Daechwita' BTS di Muster 2021 Berdasarkan Stratifikasi Sosial Joseon

Kierkegaard menyebut bahwa tahap ini adalah tahap di mana segala hal dilakukan dengan motivasi lahiriah (kenikmatan, kebahagiaan, dsb.). Dalam bukunya Either/Or sosok yang diciptakan Kierkegaard untuk mewujudkan panggung estetika memiliki dua kesibukan, seni dan erotis.

Sederhananya, seseorang di tahap estetis berpandangan bahwa segala tindakannya tidak ada hubungannya dengan benar dan salah. Kriteria yang mendefinisikan kehidupan yang baik adalah pramoral, tidak peduli dengan yang baik dan yang jahat. Layak tidaknya suatu perbuatan maupun pencapaian dinilai dengan kriteria sendiri yang berbasis kebutuhan lahiriah (pleasure).

Dalam The Album BLACKPINK yang paling sempurna merepresentasikan tahapan ini adalah “Ice Cream”. Lagu yang membuat penggemar es krim kecewa karena ternyata lagu tersebut tidak sepenuhnya tentang es krim di pikiran mereka. 

Look so good yeah look so sweet, lookin’ good enough to eat

Yap, itu “Ice Cream”, sepotong lirik itu sendiri sudah menjelaskan tahap estetis bahwa es krim sebagai jajanan enak dan manis bertujuan memuaskan nafsu lahiriah. Anak-anak maupun saya akan senang menerima es krim.

Namun, potongan lirik tersebut sebenarnya kurang sempurna dalam menjelaskan tahapan ini karena bisa saja seorang penggemar es krim tidak cukup fanatik untuk disebut estetis. Oleh karena itu mari kita ambil potongan lain. 

And i’m nice with the cream, if you know what i mean.

Yap, ini bukan es krim. Secara keseluruhan lagu ini memang sangat duniawi atau lahiriah. Sudah pasti menjunjung tinggi kepuasan lahiriah di atas segalanya. Hal lain yang mendukung? Tentu saja karena kalimat-kalimat persuasif mejurus seduktif dalam lagu ini tidak peduli dengan konsepsi benar atau salah orang lain bahkan lingkungan umum. Kecuali kalau memang hal tersebut merupakan ritual religius di kepercayaan Anda, saya tidak tahu.

Tahap etis

Tahap ini merupakan tahap di mana seseorang mulai atau sudah sepenuhnya sadar bahwa dia hidup di masyarakat dan karena itu ia punya kewajiban untuk merefleksikan pandangan umum ke dalam batinnya. Dalam tahap etis, manusia berpegang teguh pada prinsip moral.

Perlu pulalah diketahui bahwa tahapan-tahapan ini sekalipun tidak harus bersifat kontinu, namun mungkin ada semacam hubungan saat tahap sebelumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai berupa tahap setelahnya, dan ketika sampai di tahap tujuan, tahap sebelumnya dipandang sebagai tahap yang subordinat. “Memalukan, akutu nggak seharusnya gitu dulu,” dan semacamnya.

Di tahap etis, manusia memegang prinsip-prinsip moral dan mulai menerima pandangan umum tentang baik dan jahat.

Lagu apa yang ada di tahap ini? Tentu saja lagu yang memantik artikel ini. “Love to Hate Me”. Petikan “You ain’t worth my love, if you only love to hate me” merupakan ciri dari tahap etis di album BLACKPINK.

Apa yang memotivasi seseorang beranjak dari tahap estetis? Refleksi. Ia mulai melihat keadaan di sekelilingnya dan mulai mengamini prinsip-prinsip moral dan baik atau buruk suatu tindakan.

Namun, dalam lagu ini si penyanyi bukan berada di titik tolak dari tahap estetis ke tahap etis. BLACKPINK dalam lagu ini–atau setidaknya dalam petikan tersebut—menjadi seseorang yang berada di tahap etis itu sendiri. Kepada siapa objek ini ditujukan? Bolehlah dikatakan kepada seseorang yang berada di tahap estetis, yang dalam hal ini adalah haters.

“You ain’t worth my love if you only love to hate me” rasanya merupakan konsepsi awam. Timbal balik. Etis karena meskipun berpegang pada prinsip-prinsip moral, namun masih tetap berpegang pada hal duniawi. Itulah mengapa lagu ini berada di tahap etis, bukan religius. Meskipun konsep lagunya mirip tausiyah, lagu ini tetap berpegang pada prinsip-prinsip duniawi dan sesuai konvensi. Tidak ada hubungan seolah-olah berserah kepada suatu hal maha yang kemudian dianggap yang baik namun tidak logis.

Tahap religius

Baca Juga:  3 Alasan J-pop Kurang Diminati ketimbang K-Pop di Indonesia

Sebenarnya ini sulit dijelaskan. Kierkegaard adalah seorang Kristen taat, dan hal itulah yang memunculkan tahapan ini. Baginya, tahap paling sempurna adalah saat manusia benar-benar meninggalkan hal-hal duniawi dan berserah kepada Tuhan. Untuk hal ini, Kierkegaard mengambil contoh kisah Abraham dan anaknya, Isak. Di mana menurut perintah Allah, Abraham harus menyembelih anaknya. Hal ini berdasarkan prinsip etika dan moral, namun tetap harus dilakukan karena telah sepenuhnya berserah kepada sesuatu yang Maha.

Kierkegaard juga mengatakan bahwa tahap estetis dan etis hanya akan berujung pada keputusasaan karena semua hal yang menjadi patokan manusia pada tahap itu adalah hal-hal duniawi. Keputusasaan itulah yang membuka jalan seseorang untuk masuk ke tahap religius. Kesadaran bahwa hal-hal duniawi serba terbatas dan justru memberikan hal-hal yang toxic akan menyadarkan manusia untuk tidak hanya bertindak sesuai konvensi manusia.

Kierkegaard sendiri mengalami keputusasaan itu dan masuk ke tahap religius di mana ia memutuskan membatalkan pertunangannya dengan Regina Olsen. Suatu hal yang tidak etis, namun atas dasar keputusasaan akan hal-hal duniawi maka harus dilakukan juga.

Dalam album BLACKPINK, tidak ada satu lagu pun yang bernuansa “berserah” kepada kekuatan maha yakni Allah, sebagaimana Kierkegaard. Namun, sebab saya mabuk, saya akan paksakan satu lagu untuk dimasukkan di tahap ini. “Lovesick Girl”.

Dalam lagu ini agak sulit sebenarnya untuk secara spontan membedahnya karena masih didominasi bahasa Korea. Namun, setelah saya Googling, setidaknya yang saya tangkap adalah bahwa lagu ini tentang seorang perempuan yang sedih akibat disakiti, namun dia masih bisa mengatasi dan menemukan cinta dan impian baru. Begitu kata Jisoo Sembiring, yang ikut menulis lagu tersebut.

Memang, tidak ada dalam lagu “Lovesick Gir”l dikutip Yohanes 3:16 atau surat-surat suci lain. Namun, dari poin lain dalam tahap religius bisa kita upayakan.

Poin lain adalah dalam tahap religius manusia berserah dan bertindak dengan hal yang dianggapnya harus dilakukan sekalipun tidak masuk akal. Ada beberapa petikan seperti “I’m Nothing without this pain”, dan “I’m pitying you for pitying me” yang melambangkan seberapa besar seseorang berpegang pada cinta dan tetap mencari cinta meskipun telah dikecewakan.

Hal ini akan aneh dan bodoh jika kita kaitkan dengan penalaran-penalaran logis. Namun, BLACKPINK dengan keyakinannya tercipta lah lagu ini. Perlu diingat bahwa Kierkegaard dan BLACKPINK sekalipun berbeda dalam terhadap apa mereka berserah, namun sama-sama didorong oleh keyakinan. Keyakinan yang tidak membutuhkan kalkulasi, namun semata putus asa dengan konvensi.

Sudah ya, saya mau tidur. Tidur sambil meratapi fakta bahwa saya tidak mampu membeli tiket konser online, hiks. Demikianlah tulisan ini. Saya akan tutup dengan penutup.

*penutup*

Sumber gambar: YouTube BLACKPINK

BACA JUGA Squidward Adalah Perwujudan Diri Kita dalam Perspektif Absurdism dan tulisan Dion Kristian Cheraz Pardede lainnya.

Baca Juga:  Lika-liku Kehidupan Santri di Pesantren Perihal Kisah Asmaranya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.