Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gunungan: Penanda Waktu Pagelaran Wayang dan Simbol Kehidupan

Mukhammad Nur Rokhim oleh Mukhammad Nur Rokhim
23 September 2020
A A
Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan terminal mojok.co

Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Orang Jawa biasanya pernah nonton wayang barang sekali dalam hidupnya. Kalaupun tidak pernah menonton wayang, minimal pernah mendengar kisah Mahabarata maupun Ramayana yang menjadi induk cerita pagelaran wayang kulit. Namun, bukan kisahnya yang akan dikupas di sini, melainkan peran satu wayang yang khas dalam seni ini, yakni gunungan.

Dalam pagelaran dimulai, kita akan melihat banyak wayang kulit yang dijejer di kanan dan di kiri dalang. Penataan wayang dari yang paling besar sampai paling kecil itu sendiri disebut simpingan. Antara simpingan dan layar pentas dibatasi oleh wayang berbentuk menyerupai gunung dan pada tengah kelir juga ditancapkan wayang yang sama. Inilah yang disebut gunungan itu tadi.

ADVERTISEMENT

Sebenarnya gunungan sendiri kurang tepat jika diperuntukkan sebagai nama “tokoh” wayang, sebab kata tersebut akan menjadi makna ganda bila dihadapkan pada rumah (sebagai kerangka atap), sajian (gunungan Sekaten), dan sebagainya. Maka, dalam pewayangan istilah gunungan lebih tepat jika disebut kayon, sebab dalam akhir pagelaran disebut dengan tancep kayon, bukan tancep gunungan.

Dalam pewayangan ada banyak jenis kayon, seperti kayon blumbangan yang konon dibuat pada masa Demak, juga kayon gapuran yang dibuat pada masa Kartasura. Masih banyak lagi jenis-jenis kayon, baik itu yang klasik maupun kreasi baru dengan aneka ragam bentuk dan asalnya, seperti kayon wahyu, kayon sadat, kayon ganesa, kayon klowong, dan sebagainya.

Orang mungkin sudah tahu bagaimana cara sang dalang memainkannya. Wayang kayon biasanya dimainkan dengan digerak-gerakkan baik secara statis, dinamis, bahkan atraktif. Secara fisik, wayang berbentuk kerucut, tetapi di tangan sang dalang, wayang satu ini bisa punya beraneka ragam fungsi penceritaan, seperti menjadi pintu, hutan, badai, ombak, awan, api, bahkan bisa mewakili keadaan apa pun, termasuk perwujudan kesaktian tokoh wayang lainnya.

Membahas kayon sebenarnya juga membahas masalah kehidupan manusia. Secara bahasa, kayon berasal dari kata dasar kayu (pohon), hayyu (hidup), dan kayun (keinginan). Kata-kata tersebut sebenarnya adalah cocoklogi sebagai tafsir kehidupan dari kayon.

Pertama, kayon berasal dari kata kayu atau pohon. Kita tahu, pohon sudah ada sejak awal dinamika kehidupan manusia. Dalam sejarah umat manusia, konon setelah diciptakan, Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis membujuk mereka untuk mendekati pohon Khuldi dan memakannya. Peristiwa ini membuat mereka diturunkan ke dunia. Dengan kata lain, ada peran pohon dalam memulai sejarah manusia di dunia.

Kayon berasal dari kata kayun atau keinginan. Secara naluriah, manusia dan makhluk hidup senantiasa punya keinginan. Manusia punya keinginan yang banyak dan macam-macam seperti halnya fungsi kayon yang banyak dalam pementasan wayang.

Baca Juga:

Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan

Wafatnya Ki Seno Nugroho Adalah Duka Besar bagi Dunia Pewayangan

Sebagai citra alam dunia, wayang kayon melukiskan secara cermat gambaran-gambaran kehidupan dunia yang penuh dinamika. Ada lukisan kera, macan, kerbau, ular, burung merak, api, raksasa, dan sebagainya. Semua itu merupakan pesan moral bahwa ada bermacam-macam sifat dalam kehidupan. Lalu, bagaimana dengan kata gunungan? Kan, di gunung juga ada banyak ekosistem kehidupan, termasuk kayu, binatang, bebatuan, dan sebagainya.

Benar, lukisan-lukisan tadi juga bisa dimaknai bahwa gunung adalah ekosistem kehidupan. Makanya, kalau kita amati dalam bentuk wayang kayon, kita akan menemukan garis tepi yang tebal. Apa maknanya? Ya, mungkin kita diajari untuk menjaga ekosistem itu sendiri.

Selain menandai makna kehidupan, kayon juga merupakan tanda simbol pagelaran yang sarat dengan makna etika. Para nayaga (penabuh musik) harus jeli mengamati posisi kayon yang dimainkan dalang. Pergerakan kayon bisa menjadi tanda awal cerita, pergantian adegan, limbukan, goro-goro, dan sebagainya.

Dalam pagelaran wayang semalam suntuk, setidaknya ada tiga pembagian pathet atau waktu, yaitu pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Pada saat pathet nem, posisi kayon adalah miring ke kanan diikuti suara gamelan dengan ritme pelan. Ini tandanya manusia berada pada fase anak-anak dan remaja. Pada saat pathet sanga, posisi kayon tegak lurus menghadap ke atas dengan suara dan ritme gamelan sedang. Pada posisi ini, manusia digambarkan sedang berada pada fase dewasa. Setelah itu, pada pathet manyura, posisi kayon condong ke kiri disertai dengan irama gamelan yang cepat dan rancak sebagai penanda kehidupan manusia yang sudah masuk fase lanjut usia.

ADVERTISEMENT

Itulah beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kayon atau wayang gunungan ini. Dalam pagelaran, boneka wayang ini kadang menjadi peran figuran, tapi sebenarnya ia memiliki nilai etika dan estetika. Tidak hanya sampai di situ saja, wayang kayon ini juga memiliki harga yang mahal. 

Sumber gambar: akun Twitter @GRANMELIA_JKT

BACA JUGA Antasena dan Wisanggeni, Pemuda Pilih Tanding dari Negara Amarta dan tulisan Mukhammad Nur Rokhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2020 oleh

Tags: dalanggunungankayonwayang
Mukhammad Nur Rokhim

Mukhammad Nur Rokhim

Juru Pikir di Pendhapa Kabudayan.

ArtikelTerkait

mengerjakan skripsi kuliah sidang skripsi Kiat Merampungkan Skripsi dari Kisah Pewayangan Bambang Ekalaya MOJOK.CO

Skripsi Nggak Kunjung Selesai? Mari Contoh Kisah Pewayangan Bambang Ekalaya

12 Agustus 2020
Lakon-lakon Gugat dalam Wayang, Simbol Kesetaraan dalam Keadilan terminal mojok.co

Lakon-lakon Gugat dalam Wayang, Simbol Kesetaraan dalam Keadilan

13 Oktober 2020
Kesaktian Nakula dan Sadewa dalam Cerita Pewayangan terminal mojok.co

Kesaktian Nakula dan Sadewa dalam Cerita Pewayangan

22 Oktober 2020
Wafatnya Ki Seno Nugroho adalah Duka Besar bagi Dunia Pewayangan terminal mojok.co

Wafatnya Ki Seno Nugroho Adalah Duka Besar bagi Dunia Pewayangan

4 November 2020
Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan terminal mojok.co

Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan

17 Februari 2021
makna wayang semar gareng di pikulan dawet ayu banjarnegara mojok.co

4 Makna Wayang Semar dan Gareng di Pikulan Dawet Ayu Banjarnegara

28 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara

15 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
5 istilah hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang Mojok.co

5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.