Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nggak Hanya Gudeg, Aset Jogja adalah Es Teh Angkringan

Iqbal AR oleh Iqbal AR
5 September 2019
A A
es teh angkringan

es teh angkringan

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika mendengar nama Jogja, ingatan-ingatan yag keluar pasti tak jauh-jauh dari Tugu Yogyakarta, kawasan wisata Malioboro, dan Pantai Parangtritis. Pasti sekitaran situ saja. Oh iya, Gudeg juga. Bertahun-tahun, hal-hal itu melekat dan menjadi citra Jogja bagi orang-orang di luar Jogja, terutama bagi para wisatawan. Selain kedatangannya yang mungkin bikin Jogja tambah macet, mereka juga mencari hal-hal yang dianggap khas Jogja. Ya kalau nggak ke belanja di Malioboro, foto-foto di Tugu, main air di Parangtritis, atau makan Gudeg.

Bicara soal Gudeg, makanan yang satu ini memang sudah jadi khasnya Jogja. Makanan yang terlalu manis untuk lidah Jawa Timur saya ini, punya sentranya sendiri. Jadi satu komplek gitu isinya orang jualan Gudeg semua. Kiri-kanan jualan Gudeg. Mulai yang harganya murah, sampai yang harganya nggak masuk akal. Saya sendiri nggak terlalu suka dengan Gudeg. Maklum, lidah Jawa Timuran itu lidah setan. Makanannya harus ada unsur pedes-pedesnya. Nggak tedas kalau sama yang manis-manis. Ya meskipun ada sih Gudeg pedes ala-ala Gudeg Mercon gitu.

Saking terkenalnya Gudeg ini, beberapa orang sampai menjadikan gudeg ini asetnya Jogja. Kuliner endemik Jogja lah. Sebenarnya juga sudah dari dulu. Ya memang sih, saya nggak pernah nemu Gudeg di Batu atau di Malang. Mungkin ada yang jualan, tapi ya pasti nggak terlalu gudeg lah pokoknya. Orang Jawa Timur kok jual Gudeg, ya nggak nyambung.

Tapi, ada sesuatu yang seharusnya jadi aset Jogja namun sering dianggap remeh. Es teh angkringan. Mungkin ada yang bertanya-tanya, “apa yang special dari es teh? Di mana-mana juga ada kok.” Orang-orang seperti ini biasanya kurang meresapi hidupnya. Ya memang es teh banyak dijumpai di mana-mana. Di angkringan ada, di burjo ada, di lesehan ada, di restoran juga ada. Tapi es teh angkringan ini bisa dibilang paling spesial di antara yang lainnya lho.

Sejak tinggal di Jogja tiga minggu yang lalu, saya langsung jauh cinta sama es teh angkringan. Nggak tahu juga gimana awalnya, tapi yang pasti ketika itu saya diajak ke angkringan siang-siang di daerah Bantul. Jogja lagi panas nih, nggak mungkin dong saya pesen kopi panas. Akhirnya saya pesen es teh lah, sama makan nasi kucing dan sate-sateannya.

Nggak perlu nunggu lama, segelas es teh datang di hadapan saya. Langsung saya sikat aja es teh itu, dan dhuarr. Selain segar, rasa es tehnya itu mindblowing banget. Ya mungkin bagi orang Jogja dan sekitarnya menganggap ini biasa aja, tapi bagi saya ini spesial banget. Rasanya itu benar-benar es teh, bukan es air gula rasa teh. Saya nggak tahu teh apa yang dipakai, tapi saya yakin di Batu atau di Malang, nggak ada yang pakai teh jenis ini. Cuma di Jogja.

Tapi pikiran saya waktu itu masih, “ah paling yang enak di sini tok. Angkringan lain ya nggak gini pasti.” Akhirnya saya coba ke angkringan-angkringan yang lain. Kalau dihitung-hitung, ada sepuluh sampai lima belas angkringan yang sudah saya coba datangi, untuk mencoba es tehnya. Ajaibnya adalah, rasanya sama. Enaknya sama. Paling yang beda hanya kadar manisnya, dan kental atau nggaknya.

Saya sampai heran loh, kok bisa dari sepuluh sampai lima belas angkringan yang syaa datangi, rasa es tehnya sama semua. Enak semua. Mungkin saja, mereka pakai merek teh yang sama, tapi kok ya bisa enak banget dan nggak ada di tempat saya gitu loh. Apa ada rahasianya, atau ada filosofinya? Eh tapi bagus ya kalau ada yang bikin buku atau film tentang filosofi teh gitu. Biar nggak kalah sama minuman sebelah. Biar ada tea snob juga.

Baca Juga:

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

Awalnya saya nggak berani tanya rahasia es teh di angkringan. Saya hanya ngamati cara buatnya. Nggak ada yang spesial gitu dari cara buatnya, sama seperti mbah saya dulu kalau buat teh di rumah. Mereka bikin babonan tehnya dulu. Itu kayak bikin master dari tehnya giu, jadi nanti tinggal nyampurin babaonannya itu sama air, gula dan es. Tapi rasanya kok ya beda. Manisnya pas, sepetnya pas, segernya juga pas.

Apa jangan-jangan karena mereka rebus airnya pakai arang? Bisa jadi beda sih. Kalau masak pake arang kan rasanya bisa beda. Apalagi cuma rebus air, ya bisa aja beda. Tapi memang sih, kebanyakan angkringan yang saya datangi ngerebus airnya pakai arang. Ya kayak masak bakmi jawa gitu. Ya pokoknya gitu lah. Rahasianya ya antara di teh yang dipakai, atau cara rebus airnya.

Setelah saya berpetualang mencari es teh ke barat, saya jadi yakin kalau es teh angkringan ini bisa jadi asetnya jogja. Banyak juga yang bilang kalau es teh angkringan ini rasanya istimewa. Coba deh sesekali kalau ke Jogja jangan cari gudeg, tapi cari es teh angkringan. Pasti berubah pikiran dari yang menganggap hanya gudeg itu asetnya Jogja, jadi es teh angkringan yang asetnya Jogja juga.

Tapi balik lagi, yang kecil memang jarang dapat perhatian. Sebagai aset Jogja, gudeg tentu menang jauh jika dibanding es teh angkringan. Ya mau nggak menang gimana, gudeg ini setidaknya cuma bisa dijumpai di Jogja, bahkan ada banyak sentranya. Gudeg yang asli lho ya, bukan yang ala-ala gitu. Kalau es teh ya dari sabang sampai merauke, terus balik lagi ke sabang ya pasti ada, meskipun rasa es teh angkringan di Jogja ini khas banget dan cocok kalau dijadikan kuliner endemik. Kalau es teh lain paling cuma es air gula rasa teh. Manis-manis hambar gitu. (*)

BACA JUGA KKN Desa Penari: Cerita Menakutkan Bikin Kecanduan atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2019 oleh

Tags: angkringanes teh angkringannasi kucingYogyakarta
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Jogja: Saya Cemburu Padamu

3 Agustus 2019
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Sumber Gambar Tumpeng Menoreh via YouTube Rian Wicaksono

3 Jenis Orang yang Sebaiknya Tidak Berkunjung ke Tumpeng Menoreh

22 September 2021
Meromantisasi Purwokerto Adalah Upaya Meremehkan Sejarah (Unsplash)

Meromantisasi Purwokerto Adalah Upaya Meremehkan Sejarah

3 Mei 2023
perang kendhang sejarah perjanjian giyanti pangeran haryo mangkubumi pakubuwono II mojok.co

Perang Kendhang, Prank Terbesar dalam Sejarah Jawa

21 Juli 2020
menu makanan

Harga Menu Makanan Berbahasa Inggris yang Selalu Lebih Mahal di Tiap Restoran

11 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan Mojok.co

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan

4 Mei 2026
Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya Terminal

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

10 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Bangkalan Madura Nggak Selalu Jelek, Pengalaman Cetak Ulang KTP di Mal Pelayanan Publik Membuktikan Sebaliknya Mojok.co

Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira

5 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah
  • Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran
  • Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM
  • Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi
  • Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten
  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.