Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
11 Januari 2026
A A
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! (Midori via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Memilih antara Nasi Padang dan angkringan bukan lagi perkara selera, melainkan soal kelihaian dalam berlogika

Angkringan kerap kali didapuk sebagai pelabuhan terakhir bagi jiwa-jiwa yang dompetnya tengah sekarat. Duduk di kursi kayu sembari diterangi remang lampu memang terasa syahdu, seolah nestapa kemiskinan sedang dirayakan secara puitis. Namun, ayo jujur, itu semua sebenarnya nggak lebih dari ilusi romantisasi.

ADVERTISEMENT

Toh, urgensi orang melipir ke angkringan adalah untuk mengusir kelaparan dengan anggaran pas-pasan, bukan buat nongkrong tanpa tujuan. Makanya, rasanya terlalu berlebihan kalau angkringan dianggap sebagai pahlawan tunggal kaum jelata. Malah, kehadiran Nasi Padang terasa lebih logis sebagai penyelamat kaum mendang-mending in this economy.

#1 Porsi nasi padang jelas memanusiakan manusia

Mari sepakati satu hal fundamental bahwa esensi makan itu supaya kenyang, bukan sebatas mengisi lambung biar ada penghuninya. Di sinilah letak superior Nasi Padang dikukuhkan. Nasi Padang hadir dengan wibawa porsi yang mantap, sangat kontras dengan nasi kucing angkringan yang porsinya sering kali memprihatinkan.

Belum lagi, porsi nasi kucing sangat fluktuatif dan subjektif, tergantung pada siapa yang membungkusnya. Sebaliknya, Rumah Makan Padang menawarkan kedaulatan penuh bagi perut pelanggannya. Nggak jarang, pembeli dipersilakan mengambil sendiri nasi, guyuran berbagai macam kuah, sayur, hingga sambal sesuai dengan kapasitas perut masing-masing. Transparansi porsi makan tanpa didikte inilah yang menempatkan Nasi Padang jadi hidangan tak tergantikan.

#2 Kebersihan dan kenyamanan warung nasi padang bisa diandalkan

Banyak orang terjebak pada asyiknya melahap makanan di tenda tepi jalan tanpa menyadari bahwa ada harga tersembunyi yang mesti dibayar. Apalagi kalau bukan perihal kesehatan. Dari segi higienitas, standar Rumah Makan Padang jauh lebih meyakinkan dibanding gerobak angkringan.

Sebab, seluruh sayur dan lauknya dipajang rapi di dalam etalase kaca. Benteng kaca ini bukan sekadar pajangan, melainkan proteksi nyata demi memastikan kemuliaan rendang dan ayam pop tetap terjaga dari gangguan eksternal. Sementara, baceman dan sate-satean ala angkringan biasanya dibiarkan saja terpapar udara terbuka. Tanpa adanya perisai yang memadai, lauk pauk tersebut jadi sasaran empuk debu jalanan dan risiko dihinggapi lalat pembawa penyakit.

#3 Pelanggan bebas dari jebakan Batman harga murah

Terjerat muslihat harga miring di angkringan bukan mitos semata, melainkan sebuah realitas pahit yang menyergap para pengunjung angkringan. Sudah jadi rahasia umum jika jajaran variasi sate di angkringan tak ubahnya scam bagi pembeli. Secara psikologis, harga Rp3.000 hingga Rp5.000 per tusuk terdengar seperti recehan yang nggak berarti. Padahal, kalkulasi akhir sering kali bikin jantung berdegup kencang.

Baca Juga:

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan

Soalnya, umumnya rata-rata pelanggan bakal mengambil tiga sampai lima tusuk sate agar perut terpuaskan. Pun, minimal nasinya biasanya habis dua bungkus. Saat ditotal, jumlah tagihan sudah mencapai sekitar angka Rp25.000. Harga akhir ini jelas nggak bisa dibilang mewakili definisi makan murah.

Faktanya, dengan nominal yang sama, bersantap di Rumah Makan Padang merupakan opsi yang lebih cerdas dan masuk akal karena sepiring nasi putih berikut lauk, sayur, dan sambal akan siap terhidang. Artinya, gizi yang disodorkan di Rumah Makan Padang terbilang lengkap. Ada karbohidrat kompleks, protein, bahkan serat.

Bandingkan dengan menu angkringan yang didominasi oleh karbohidrat dari nasi kucing dan lemak jenuh dari gorengan atau baceman. Alih-alih kenyang lama, yang didapatkan justru hanya lonjakan gula sejenak yang akan terjun bebas kemudian. Dari sisi kelengkapan gizi dan proses waktu cerna, jelas nasi padang jadi pemenang.

#4 Rumah Makan Padang menjanjikan pengalaman makan jempolan

Kalau ngomongin soal rasa, membandingkan Nasi Padang dan nasi kucing itu ibarat lantunan musik klasik dan sound horeg. Sama-sama terdengar, tapi beda kelas. Masakan Padang adalah hasil dari dedikasi tingkat tinggi melalui teknik memasak turun-temurun. Misalnya saja, kalio atau rendang menuntut proses masak berjam-jam agar bumbu rempahnya meresap sempurna.

Sementara, panganan di angkringan hanya mempunyai satu profil rasa monoton. Kalau nggak manis kecap, ya gurih MSG. Nggak ada petualangan kuliner di angkringan. Cita rasanya nyaris seragam sehingga lidah dipaksa pasrah tanpa kejutan rasa yang berarti. Bumbunya sekadar asal nempel di permukaan. Boleh dikata, Nasi Padang punya cara lebih elegan untuk menenangkan perut yang keroncongan ketimbang angkringan.

Memilih antara Nasi Padang dan angkringan bukan lagi perkara selera, melainkan soal kelihaian dalam berlogika. Nyatanya, angkringan yang dicap murah malah sering membuat kantong bolong tanpa sisa. Justru, Nasi Padang sukses mendeklarasikan bahwa kenyang yang paripurna, gizi terjaga, dan transparansi harga adalah kemewahan yang seharusnya bisa dinikmati siapa saja tanpa perlu merasa dikelabui stigma.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2026 oleh

Tags: angkringanAngkringan jogjaharga nasi padangmenu di angkringanNasi Padang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

30 menit ngopi di angkringan, puluhan info bawah tanah saya dapat (Shutterstock)

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

23 Agustus 2026
angkringan

Makan di Angkringan: Niatnya Hemat, Ujung-ujungnya Sekarat

15 Juli 2019
Pokoknya Saya Lebih Suka Ngopi di Starbucks daripada di Angkringan terminal mojok.co

Pokoknya Saya Lebih Suka Ngopi di Starbucks daripada di Angkringan

12 Januari 2022
menu makanan

Harga Menu Makanan Berbahasa Inggris yang Selalu Lebih Mahal di Tiap Restoran

11 Juli 2019
6 Dosa Penjual Nasi Padang yang Bukan Orang Minang Terminal Mojok

6 Dosa Penjual Nasi Padang yang Bukan Orang Minang Asli

25 Januari 2023
5 Rekomendasi Angkringan dan Wedang Ronde Terenak di Sekitar UNDIP

5 Rekomendasi Angkringan dan Wedang Ronde Terenak di Sekitar UNDIP

8 September 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya Mojok.co

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya

24 Agustus 2026
Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang Mojok.co

Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang

24 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.