Saya Bakul Angkringan dan Ini 6 Menu yang Paling Laris Tanpa Harus Diromantisasi – Terminal Mojok

Saya Bakul Angkringan dan Ini 6 Menu yang Paling Laris Tanpa Harus Diromantisasi

ArtikelFeatured

Saya pernah mempunyai pengalaman sebagai bakul angkringan di daerah Umbulharjo, Yogyakarta. Menjadi pramuria dan mendengarkan cerita romantis dari para pelanggan adalah makanan untuk mengisi kekosongan hati serta harga diri yang mulai kembang-kempis di masa pandemi. Nggak terkecuali pemandangan busuk kaum pacaran, bagi saya yang masih berstatus single lahir batin.

Wah, edan! Eh, lebih busuk mereka yang hobi romantisasi tapi bobok nyenyak di hotel bintang lima, ding.

Bekerja dari sore di bawah atap terpal hingga tengah malam, dengan backsound motor RX King sebagai penambah suasana kengerian, eh, keramaian, saya menikmati pekerjaan maha ngosak-ngasik ini. Hingga akhirnya gerobak angkringan ini mampu ditumbangkan, diangkut, dan digondol. Oleh siapa? Bapak-bapak Satpol PP yang saya hormati. Nggak apa-apa. Mungkin belum jalannya. Namun ya itu, ada perut yang harus diisi, ada orang tua yang harus dikasihi.

Namun, dibandingkan dengan warmindo, atau orang-orang sering menyebutnya dengan burjonan, angkringan memang di-setting untuk tidak standby selama 24 jam. Mungkin memang ada beberapa, tapi tidak semua angkringan bisa standby selama itu. Maka dari itu, ketika bakul angkringan merasa bahwa barang dagangannya sudah mulai menipis, mereka tak segan untuk memilih kukut saja. Seperti misalnya es batu, nasi kucing, dan gorengan.

Dalam hal ini, saya akan membahas tentang menu angkringan yang sering laris. Bahkan saya sendiri sampai keteteran untuk menyediakan stok menu tersebut saat menjadi bakul angkringan. Apa saja? Ini dia menu-menu yang laris tanpa harus ada romantisasi akun resmi centang biru.

#1 Nasi kucing (iyalah, masak nasi Padang)

Sebuah ciri khas yang biasanya disebut dengan nasi kucing ini paling sering diminati oleh pelanggan saat jam-jam makan malam, jam-jam kritis, dan saat tanggal tua. Tapi, paling sering malah saat akhir bulan. Bersanding dengan gorengan yang sudah dingin.

Kesatuan gorengan yang padu, walau anyep dan nggak kriuk, nggak masalah. Selain sambal teri, banyak pula angkringan yang menyediakan nasi oseng. Bagi yang tidak suka makanan pedas, bisa memilih nasi oseng ini. Disandingkan dengan gorengan juga nggak ada salahnya. Tapi ingat, kejujuran kunci utama. Ha iya, nanti saya tekor.

#2 Gorengan

Tak lengkap rasanya jika membahas menu angkringan tanpa gorengan. Adonan, bahan, dan remah-remah yang kerap meninggalkan cerita. Begitu kata Mas Beni Satryo. Gorengan dalam perspektif bapak-bapak dan anak muda yang masih suka nongkrong dan sekadar bermain game, juga merupakan camilan yang kolosal. Tanpa tanding.

Jangankan bersanding dengan kopi, meluruh bersama es jeruk saja sudah bisa menjadi saksi bisu dalam curhatanmu yang menyedihkan itu, kok. Tak hanya tempe mendoan, bakwan, dan tahu isi. Bahkan sering sekali ditemukan pisang goreng, molen, dan risoles.

Saya harap, bakul angkringan jangan mencampur gorengan dalam satu wadah. Pernah saya saat makan nasi kucing, tapi lauknya pisang goreng. Kan, kalau nggak biasa, jadi aneh rasanya.

#3 Es teh

Minuman ini nggak pernah habis, tapi selalu laris. Refilnya mudah, tapi yang jadi masalah adalah ketika seorang pelanggan yang hanya memesan satu gelas es teh, tapi nongkrongnya bisa sampai 6 jam. Walah hiyung… mbok ya pesen makan atau ngemil-ngemil gitu, lho. Sebenernya bakul angkringan itu sepet liatnya, tapi ya gimana lagi.

#4 Es batu

Lho, saya serius. Dalam mata bakul angkringan, elementer paling wahid ini sudah pasti bakalan cepat larisnya. Ya, walaupun bukan termasuk menu dan kemungkinan ada seorang pelanggan yang memesan satu gelas es batu saja untuk dinikmati dengan cara di-mut, sih. Biarkan urusan mut-mut-an itu untuk Oreo dan orang yang menikmatinya.

Tapi nih ya, maksud saya, es batu sangat penting. Tak peduli cuaca sedang hujan atau gerah-gerahnya, selalu ada pelanggan yang memesan minuman dingin. Dalam hal ini, para bakul sering keteteran jika sudah di atas jam sebelas malam. Cari es batunya yang sulit. Bahkan sering es batunya mencair sebelum jam sembilan malam. Sungguh problematik.

#5 Es jeruk

Bukan jeruk purut tentunya, tapi jeruk nipis. Banyak yang memesan minuman ini hanya untuk merasakan seger-seger. Ya, mungkin karena lelah atau merasa kepanasan dengan cuaca yang tidak memungkinkan seperti ini. Walaupun tanpa es batu, jeruk anget juga bermanfaat untuk menghangatkan badan

#6 Jahe

Rasanya nggak lengkap kalau membahas angkringan tanpa wedang jahe. Nah, minuman yang digadang mampu untuk menghantarkan kehangatan saat dinginnya malam menusuk kenangan serta batin dari masa lalu ini sering sekali kehabisan bahan utamanya. Saat saya menjadi bakul, saya selalu membeli setidaknya setengah kilogram jahe hanya untuk jaga-jaga. Tapi, tetap saja kehabisan.

Itulah setidaknya enam menu yang menyuburkan perut bakul angkringan seperti saya. Mulai dari sekarang, stop bilang tiap sudut Jogja adalah kenangan. Mulailah pola pikir baru, seperti ini, tiap sudut Jogja adalah angkringan yang dagangannya pengin dibeli, bukan cuma dicangkemi di Twitter!

BACA JUGA Ketika Orang yang Biasa ke Angkringan Mengunjungi Kafe Kelas Menengah dan tulisan Grantino Gangga Ananda Lukmana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.