Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sapa Mantan

Ngabuburit di Pasar Ramadan yang Menggerus Perasaan

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
17 Mei 2019
A A
ngabuburit

Mengkaji Asal Muasal Istilah Ngabuburit Berdasarkan 3 Pendekatan

Share on FacebookShare on Twitter

Niat hati ingin melewati jam-jam menunggu berbuka alias ngabuburit dengan kegiatan yang lebih berfaedah, saya pun ikut berjualan di Pasar Ramadan. Saya membantu seorang kawan menjajakan pisang goreng krispi. Pisang kepok kuning yang dibalut tepung panir, digoreng, dan diberi parutan coklat dan keju. Betapa nikmatnya berbuka dengan makanan semanis itu. Namun, pemandangan di sana tidak semanis pisang kawan saya.

Pasar Ramadan yang hanya ada setiap setahun sekali, membuat kami yakin bakal kelarisan. Lagi pula, harga yang kami tawarkan tidak mahal. Cukup wajar untuk jajanan di pasar-pasar dadakan. Tapi sial, Ramadan kali ini tidak semeriah dulu.

ADVERTISEMENT

Entah mengapa, pasar ini hanya rame menjelang berbuka. Dari pukul tiga sampai pukul lima, pengunjungnya biasa-biasa saja. Setelah pukul lima, pengunjung membludak. Trotoar yang dijadikan pasar dan sebagian jalan yang digunakan untuk parkir menjadi lebih padat. Lalu lalang semakin sesak. Tapi, ya, namanya berjualan, sering tidak laku itu wajar.

Sebagaimana hati kawan saya yang sepi, stand jualan kami pun seperti tak berarti. Orang-orang hanya lalu lalang. Sementara kami menawarkan dengan segala gaya dan cara, tetap tidak menarik juga. Kami cukup bahagia ketika ada satu-dua yang membeli. Paling tidak, pada akhirnya, kompor gas yang kami bawa bisa berfungsi. Tapi, ya, namanya berjualan, pengennya kan dapat keuntungan.

Untuk menyenangkan hati, kami berprasangka, barangkali memang  belum jatahnya. Melihat beberapa stand lain laris manis, kami pun hanya bisa meringis. Melihat kebanyakan stand ikut meringis, kami kok jadi berkata dalam hati, ndak papa, banyak kawannya.

Bukan apa-apa, kami hanya merasa iri dengan para pengemis yang lebih dari lima orang setiap harinya. Model-modelnya hampir sama, perempuan, baik tua atau masih muda, berbaju lusuh, berwajah melas, dengan satu rengekan senada. Terkadang anak-anak kecil, baik laki-laki atau perempuan. Tujuannya sama, meminta sumbangan. Kami bisa memastikan, pendapatannya jauh lebih baik daripada kami yang berjualan.

Bayangkan saja, setiap hari, mereka jalan dari ujung sampai pangkal pasar ini. Tidak ada satu stand pun yang terlewat. Yang ada, orang-orang yang duduk menunggu pesanan pun mereka mintai. Jika satu orang memberikan seribu rupiah saja, kami rasa lebarannya bakal cukup nggaya. Setidaknya bisa membeli baju baru beberapa setel. Atau paling tidak, ya, bisa berbagi dengan anak-cucunya.

Sekali lagi, bukannya apa-apa, tapi yang namanya iri kan tetap iri. La wong mereka nggak modal sama sekali. Berbeda dengan kami yang mesti membayar uang pendaftaran selama sebulan. Belum lagi uang kebersihan. Belum lagi modal berjualan. Belum lagi kalau pengen jajan di stand kiri-kanan. Belum lagi kawan saya yang mesti menggaji saya. Kan mbelgedes sekali.

Baca Juga:

Bagi-bagi Takjil yang Niatnya Mulia tapi Kadang Bikin Jalanan Jadi Macet dan Ricuh

Bukber Itu Cuma Akal-akalan Kapitalisme, Kalian Cuma Dibodohi, dan Anehnya, Kalian Nurut!

Alih-alih mengharapkan ludes terjual, balik modal saja kami sudah bahagia. Memang sih, kami masih percaya dengan akan dibukakan banyak pintu rezeki bagi pedagang seperti kami. Akan tetapi, di bulan Ramadan yang banyak orang berlomba berbuat kebaikan, berdagang rasa iba dan kasihan bisa jadi alternatif pilihan. Fix, mulai besok langsung ngemis.

Penggerusan perasaan di Pasar Ramadan, tidak berhenti di situ saja. Sudah jarang laku, dimintai melulu, eh kok, ya, bucin-bucin memadu rindu lalu lalang kayak kupu-kupu. Jalan ke sana ke mari, mondar-mandir gandengan tangan. Sesekali ada yang tertangkap mata sedang sandaran. Haduhhh… sini yang lagi puasa kan disuruh nahan nafsu. Kok kalian enak-enaknya berbuat seperti itu. Akutu pengen tauuuu….

Godaannya lebih dari itu. Kalau azan sudah berkumandang, seakan-akan bucin-bucin ini dihalalkan mengumbar kemesraan. Ada yang makin mepet gandengannya. Ada yang jajan satu untuk berdua. Ada yang sambil jalan, masih sempat-sempatnya suap-suapan. Apa ya ndak takut ditampol para jomblo di sekitarnya? Jomblo-jomblo kan sungguh tersiksa. Apalagi jomblo yang terus-terusan meratapi jualan, seperti kawan saya, misalnya.

Sementara itu, orang yang sesungguhnya patut dikasihani itu saya. Penganut mazhab sungguh rindu, tapi terlalu mahal untuk bertemu, seperti saya ini yang lebih tersiksa. Jomblo mah sudah jelas tidak ada pasangannya. Lah kalau LDR kan, pacar punya, tapi tidak ada di tempatnya.

Ya sudah, bisanya cuma menuliskannya seperti ini—dikirim ke Terminal Mojok. Kalau dimuat, link-nya dikirimkan ke doi. Siapa tahu, kami terus bersepakat untuk bertemu—meskipun harus patungan, atau harus jadi pengemis dulu selama sebulan. Kata Mas Eka Kurniawan rindu itu seperti dendam, harus dibayar kontan tuntas.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: BerbukaLDRNgabuburitRamadan
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam Mojok.co

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam

12 Oktober 2025
safety can be fun masa bodoh

Safety Can Be Fun dan Masa Bodoh dengan Warung yang Buka Blak-Blakan Saat Puasa

22 Mei 2019
rekomendasi bacaan buku islami ramadan bagus recommended terbaik hijrah surga kisah sufi abu nawas kalis mardiasih esty dyah imaniar rusdi mathari mojok

Rekomendasi Bacaan Ramadan yang Ditulis dengan Ringan dan Enak Dibaca

2 Mei 2020
3 Ciri Giveaway Abal-abal yang Bikin Orang Tertipu terminal mojok.co

Bedah Iklan #DiRumahAja dari 4 Provider Seluler Indonesia

19 Mei 2020
macam-macam puasa sunnah dan wajib muslim islam mojok.co

Beberapa Tingkatan Kuantitas Puasa Seorang Muslim

22 Mei 2020
ngaji pasaran tadarus al-qur'an ramadan salat tarawih mojok

Tadarus Al-Qur’an dan Kudapan yang Menyertainya. #Takjilan Mojok06

15 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang Mojok.co

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang

9 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.