Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
12 Oktober 2025
A A
Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam Mojok.co

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam (kesbangpol.semarangkota.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Semarang memang kota yang unik. Di satu sisi, kota ini sering bikin saya sambat karena panasnya minta ampun. Di sisi lain, Semarang punya banyak kesenian dan tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Ini yang membuat hidup di Kota Atlas jadi selalu “adem” walau sehari-hari matahari menyengat dengan terik. 

Salah satu tradisi ikonik Semarang adalah perayaan Dugderan yang biasanya digelar seminggu menjelang bulan Ramadan. Di momen inilah berbagai perayaan diadakan, mulai dari pasar malam hingga kirab budaya. Nama Dugderan diambil dari bunyi bedug “dug-dug” dan letusan meriam “der”. Konon, dahulu,  bunyi letusan meriam menjadi penanda dimulainya bulan suci. 

Perayaan Dugderan mungkin terdengar sebagai tradisi suatu kelompok agama tertentu saja. Namun, jangan salah, sejak dahulu warlok Semarang semangat memeringatinya. Lambat laun, tradisi ini jadi semacam pengingat warga agar selalu hidup berdampingan dengan rukun dan penuh toleransi. 

Warak Ngendog, hewan “aneh” yang tidak pernah absen di perayaan Dugderan

Ada satu maskot yang tidak pernah absen saat perayaan Dugderan yakni Warak Ngendog. Maskot ini biasanya diarak di sekitar Kota Semarang ketika perayaan Dugderan. Selain jadi maskot yang diarak, hewan imajiner satu ini juga dijual dalam bentuk mainan oleh pedagang yang ada di pasar malam. 

Masih terbayang jelas dalam ingatan saya, para pedagang menggelar mainan ini di emperan pasar malam. Saat itu, mainan Warak Ngendog ini begitu begitu populer. Bentuk warak Ngendog yang aneh benar-benar terpatri dalam memori saya saat masih bocah. 

Warak Ngendog adalah hewan imajiner yang wujudnya mengingatkan saya pada makhluk mitologi naga. Bedanya, Warak Ngendog ini punya empat kaki serta leher yang panjang. Keganjilan tak berhenti di situ. Penjual sering menaruh sebutir telur ayam matang di sela kaki-kaki Warak Ngendog yang dijual bersamaan mainan tersebut. Makanya disematkan kata “ngendhog” yang artinya bertelur. 

Saya versi bocah cuma bisa bengong tiap kali melihat mainan Warak Ngendog. Menganggapnya binatang aneh tanpa makna, yang entah lahir dari mana. Saya sempat mengira mainan ini sengaja dibuat aneh demi menarik bocah-bocah agar membelinya. Kenyataannya, hewan imajiner ini punya makna mendalam. 

Mainan aneh yang sarat cerita

Siapa sangka hewan berbentuk aneh dalam ingatan saya itu kini jadi ikon Semarang yang begitu keren. Namun, di balik kemenarikannya, Warak Ngendog Semarang nyatanya menyimpan cerita panjang.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Salah satunya, Warak Ngendog awalnya cuma mainan anak-anak yang terbuat dari dari gabus tanaman mangrove. Bukan tanpa alasan, mangrove digunakan karena warga Semarang sebagai penduduk pesisir yang hidupnya dekat dengan laut dan hutan bakau. Katanya juga, Warak Ngendhog yang asli itu punya bentuk sudut yang lurus. Bentuk lurus ini dipercaya menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka, bicara apa adanya, dan tidak ada perbedaan antara hati dan lisan.

Selain itu, telur yang diselipkan ternyata untuk mengenang masa krisis pangan di Semarang saat Dugderan pertama kali diadakan. Bahkan, saat itu, sebutir telur pun jadi makanan yang sangat berharga.  Itu mengapa, mainan tradisional ini bukan cuma buat lucu-lucuan. Sebaliknya, Warak Ngendog merupakan simbol dan saksi bisu kehidupan warga Semarang.

Simbol Semarang yang harmoni

Satu hal yang paling bikin saya kagum dari Warak Ngendog adalah bagaimana mainan ini berevolusi dari sekadar pengingat krisis menjadi simbol harmonisasi yang luar biasa antara tiga etnis besar yang mendiami tanah Semarang: Tionghoa, Arab, dan Jawa. Kepalanya menyerupai naga sebagai simbol etnis Tionghoa. Tubuhnya menggambarkan buraq sebagai simbol keturunan Arab. Dan, terakhir, kaki yang mirip kambing sebagai simbol suku Jawa.

Faktanya pula, karakter nyentrik ini juga punya makna filosofis terkait bulan Ramadan. Kata “warak” diambil dari bahasa Arab, “waro’a,” yang artinya menjaga diri dari hawa nafsu. Kemudian, “ngendhog” atau bertelur, melambangkan pahala dari perbuatan baik, termasuk puasa. Jadi, mainan yang saya kira nyeleneh ini ternyata menuturkan pelajaran hidup yang diwariskan leluhur Semarang.

Tumbuh besar di Semarang bersama keberadaan Warak Ngendog ini benar-benar mengubah pandangan saya. Mainan yang dulu saya anggap menakutkan dan cuma pajangan musiman, rupanya merupakan kitab sejarah berjalan Kota Semarang. Ia bukan hanya maskot, tapi pengingat akan kerasnya masa lalu sekaligus simbol harmonisasi yang luar biasa di kota yang saya cintai ini.

Penulis: Paula Gianita
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 5 Jajanan Kaki Lima ala Warlok Semarang yang Bikin Betah Tinggal di SanaTerminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2025 oleh

Tags: bulan ramadandugderanhewan imajinerpasar malam semarangRamadanSemarangWarak NgendogWarak Ngendog Semarang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

Purwokerto, Purwakarta, Purworejo: Dilema karena Sebuah Nama

8 Agustus 2022
Lawang Sewu Semarang (Unsplash.com)

5 Fakta Keliru Terkait Semarang yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

21 Juni 2022
4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya Mojok.co

4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya

16 April 2025
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi Mojok.co

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

9 Maret 2025
Semarang Langganan Banjir, Sudah Saatnya Ibu Kota Provinsi Pindah ke Bawen biar Warga Nggak Senewen

Semarang Langganan Banjir, Sudah Saatnya Ibu Kota Provinsi Pindah ke Bawen biar Warga Nggak Senewen

15 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.