Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Nasib Buruh Gendong Jogja di Bulan Puasa: Menahan Lapar Memanggul Barang yang Semakin Nggak Terbeli

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
22 Maret 2024
A A
Nasib Buruh Gendong Jogja di Bulan Puasa: Menahan Lapar Memanggul Barang yang Semakin Nggak Terbeli Mojok.co

Nasib Buruh Gendong Jogja di Bulan Puasa: Menahan Lapar Memanggul Barang yang Semakin Nggak Terbeli (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di balik ingar bingar romantisnya Jogja, ada gemeretak gigi kaum kecil yang bertahan hidup. Termasuk, buruh gendong di pasar-pasar. Buruh yang kebanyakan perempuan berusia lanjut ini kerap menjadi roda gigi ekonomi yang termarjinalkan. Dan sebentar lagi, hidup mereka akan makin berat.

Bulan puasa yang dinanti oleh banyak orang nyatanya menjadi beban bagi para buruh gendong. Mereka harus bekerja, memanggul beban berat sambil menahan lapar. Mirisnya, barang-barang yang mereka panggul semakin sulit untuk dibeli. 

ADVERTISEMENT

Masa bodoh dengan toxic positivity yang selalu menyarankan para buruh untuk bersyukur! Menurut saya, hari-hari yang dihadapi buruh gendong Jogja tidak akan lebih ringan hanya dengan bersyukur. Mereka jelas kelompok marjinal. Artinya, ada banyak sekali faktor yang membuat kehidupan mereka kian berat. Sayangnya faktor-faktor ini kerap kali luput dibicarakan orang-orang ketika membicarakan Jogja. Faktor-faktor yang terselamurkan karena banyak orang  lebih suka membahas soal rasa syukur dan romantisasi Jogja. 

Mereka tidak pura-pura termarjinalkan

Sebelum saya melanjutkan kisah pedih ini, saya ingin menggampar beberapa warganet pekok. Beberapa waktu lalu saya melihat postingan tentang kisah buruh gendong di media sosial. Wajar jika banyak yang bersimpati dalam komentar. Tapi, beberapa komentar terlihat mengerikan. “Ah siapa tau mereka punya rumah gede di desa.” “Makin kesini makin curiga kalau yang kayak gini Cuma jualan belas kasihan.” Dan sebagainya.

Hai orang-orang nggak punya empati! Upah rata-rata buruh gendong di Pasar Beringharjo Jogja adalah Rp5.000 rupiah sekali angkut. Bebannya berkisar 20-30 kilogram. Dalam sehari, belum tentu mereka mengantongi Rp50.000. Selain itu, mereka harus berebut dengan buruh gendong lain. Tentu ini akan menjadi lebih berat ketika buruh gendong tersebut sudah lanjut usia.

Beberapa buruh gendong juga tunawisma. Mereka tinggal di lorong-lorong pasar yang dingin. Bangun ketika gemuruh truk pengangkut barang datang. Hidup mereka mungkin juga berakhir di pasar itu. 

Mereka tidak sedang menjual kesedihan! Mereka menjual Adenosin Trifosfat sehingga bisa mendistribusikan berbagai bahan pokok. Upah yang mereka terima tidak akan mampu untuk bermewah-mewah. Bahkan, mereka harus mengangkut beban lebih dari 400 kg  lebih demi uang Rp100.000. Ini diangkat pakai otot, bukan cocot kencono para netizen nyinyir yang gobloknya paripurna!

Penderitaan ini akan lebih berat di bulan puasa. Percayalah, mereka tidak hanya lemas karena lapar, tapi lemas karena makin sulit untuk hidup layak.

Baca Juga:

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

Buruh gendong Jogja berjihad dengan perut lapar dan hati retak

Bulan puasa memang tidak memangkas mata pencaharian para buruh gendong. Mereka justru akan ada gelombang distribusi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadhan. Tapi, dengan menahan lapar dan haus, beban mereka semakin berat. Mungkin 20 kg beban yang sehari-hari terkesan biasa menjadi seberat hutang negara.

Mungkin ada beberapa buruh gendong yang memilih tidak berpuasa. Tapi tidak sedikit yang tetap berpuasa sembari memanggul barang yang nanti kalian nikmati di rumah. Iman mereka tidak usah dipertanyakan lagi. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda agar janganlah memaksa untuk meminta-minta?

Setiap langkah berat saat memanggul adalah jihad bagi buruh gendong. Sebuah usaha untuk menjauhkan diri dari merendahkan martabat dengan sisa tenaga yang ada. Tapi yang mereka hadapi lebih dari perkara harga diri. Karena yang mereka panggul, bahan-bahan pokok, makin sulit dijangkau.

Inflasi pangan dalam periode 2020-2024 mencapai 5,6 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan UMR yang hanya mencapai 4,9 persen. Bahkan lebih tinggi dari kenaikan gaji PNS. Sekarang bayangkan bagaimana inflasi pangan di hadapan buruh gendong. Mereka tidak pernah mengecap pahitnya UMR. Karena upah mereka jauh lebih rendah. Apa yang mereka dapat berdasar kekuatan otot menanggung beban.

Apa yang terjadi pada buruh gendong nanti?

Dengan segala beban yang akan dipanggul, bagaimana nasib buruh gendong nanti? Bulan puasa sudah jadi tantangan tersendiri. Sementara, setelah Idul Fitri, mereka akan melihat harga kebutuhan pokok yang makin mencekik. Di sisi lain, mereka tidak hanya bisa berharap pada belas kasihan pemerintah. Apalagi bagi mereka yang tunawisma, makin jauh dari bantuan sosial.

Saya ngeri membayangkan itu. Meskipun mereka mungkin tetap merasa semua biasa aja, sembari terus mengencangkan ikat pinggang. Ah, hidup ini memang selalu dua sisi. Bulan puasa pasti dirindu banyak orang. Namun, bagi yang lain, bulan puasa adalah masa paling berat. Perut lapar dan hati retak. Hanya doa yang tersisa untuk tetap menjalani hidup yang fana.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Warteg 24 Jalan Kaliurang Nggak Kalah dari Warteg Kharisma Bahari. Enak dan Murah Meriah, Cocok Jadi Tempat Sahur Anak Kos

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2024 oleh

Tags: Bulan PuasaBuruhburuh gendongburuh gendong jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

15 Istilah yang Sering Digunakan dalam Kegiatan Instansi Pemerintah PNS

PNS Itu Buruh, Titik!

1 Mei 2023

Sambat dari Video Editor sebagai Buruh yang Menyamar Pakai Nama Keren

7 Februari 2021
Persentase Kenaikan Gaji ASN Memang Lebih Besar, tapi Jangan Dipakai untuk Mengadu ASN dan Pekerja Swasta dong!

Persentase Kenaikan Gaji ASN Memang Lebih Besar, tapi Jangan Dipakai untuk Mengadu ASN dan Pekerja Swasta dong!

26 November 2023
Curahan Hati Asisten Rumah Tangga di Semarang yang Menjalani Pekerjaan Sampingan Saat Bulan Puasa Mojok.co

Curahan Hati Asisten Rumah Tangga di Semarang yang Menjalani Pekerjaan Sampingan Saat Bulan Puasa

24 Maret 2024
Kita Harus Menerima Keberadaan Jamet sebagai Subkultur Buruh Lepas Indonesia terminal mojok.co

Kita Harus Menerima Keberadaan Jamet sebagai Subkultur Buruh Lepas Indonesia

16 November 2020
buruh

Buruh Membaca Buku, Apa Pentingnya?

5 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads Mojok.co

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads

3 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur Mojok.co

Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur

8 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.