Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sobat Narimo ing Pandum Perlu Menerima Kritik Soal Upah Jogja yang Memang Rendah

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
13 Oktober 2020
A A
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Debat tentang upah di Yogyakarta selalu menyenangkan. Maksudnya, selalu ada opini yang berseberangan tentang hal ini. Satu pihak ingin UMR di Yogyakarta naik, tapi yang satunya nggak ingin karena satu dua alasan yang… begitulah. Tapi, di antara alasan yang begitulah itu, ada satu yang paling sering dilontarkan hingga jadi meme. Alasan tersebut yaitu adalah “narimo ing pandum”.

Singkatnya narimo ing pandum berarti menerima, ikhlas atas apa pun yang terjadi. Dikasih penderitaan ya tetap bersyukur, dikasih gaji UMR ya tetap dinikmati.

ADVERTISEMENT

Jogja memanglah sebuah anomali. Saya begitu mencintai Jogja hingga saya membuat banyak alasan untuk tetap tinggal dan menderita di kota ini, pun saya mempunyai banyak alasan bahwa kota ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan untuk ditinggali. Mana yang menyenangkan dari bagian kota yang berisi kenangan bersama orang yang sudah lalu dan klitih sepanjang malam?

Dan tentu saja, upah yang murah.

Tapi, itulah ajaibnya. Upah kota ini begitu mengenaskan, bahkan saya tidak bisa mengatakan layak. Tiap ada yang mengkritisi upah, sobat narimo ing pandum selalu berdiri menghadang. Tidak ada yang lebih romantis dari seseorang yang tetap mencintai meski disakiti. Iya, saya tahu itu bodoh, tapi biarlah saya sebut ini romantis.

Dalam hati, saya ingin sekali memberi tahu orang-orang yang selalu meneriakkan narimo ing pandum tiap ada orang mengkritisi upah Jogja yang rendah bahwa niat mereka baik. Niat mereka—kalian sobat narimo ing pandum, dengarkan baik-baik—adalah memperbaiki taraf hidup di Jogja.

Benar, di Jogja masih bisa ditemukan menu di bawah sepuluh ribu rupiah yang mengenyangkan. Kalau harga tak berubah, di bawah flyover Janti ada angkringan yang sekali makan plus es teh hanya perlu bayar enam ribu rupiah. Bagi penghuni sekitar UNY, ada warung Mak Kasan yang murahnya nggak masuk akal. Plus, angkringan Pak Panut yang terletak di Klebengan.

Untuk catatan, angkringan Pak Panut bukan milik rektor UGM, meski punya nama yang sama. Pak Panut angkringan pro mahasiswa kere, rektor UGM pro Omnibus Law. 

Baca Juga:

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja

Tapi, wahai sobat narimo ing pandum, warung-warung tersebut tidak bisa dijadikan argumen bahwa upah Jogja tidak layak dikritik. Saya minta kalian bayangin gini aja, bayangkan setiap hari makan di angkringan Pak Panut, kita mau dapat nutrisi dari mana?

Itu baru satu alasan, belum alasan lain yang lebih logis.

Begini, dalam hidup, kita nggak hanya mengurusi perut. Ada listrik yang harus dibayar, ada kuota yang harus diisi, dan sewa rumah yang harus dilunasi. Upah Jogja yang sekarang, saya yakin tidak bisa memenuhi itu semua.

Sebentar, saya sepertinya harus beritahu bahwa upah Jogja yang saya maksud adalah UMR Jogja yaitu dua juta rupiah. Kalau kamu kerja di Jogja dan digaji tujuh juta, kamu nggak bisa ngomong narimo ing pandum. Kui akeh, jingan.

Nah, dengan angka yang hanya segitu, yang sebenarnya tidak merepresentasikan kebutuhan sebenarnya di Jogja, kehidupan akan terasa berat. Mungkin kalian merasa gaji segitu cukup, tapi ini lebih dari sekadar perkara cukup nggak cukup, ini masalah layak nggak layak.

Kalangan akademisi hingga buruh sepakat bahwa upah di Jogja memang tidak layak. Sebagai kota yang besar, tidak selayaknya kota ini punya upah yang rendah. Baik, upah yang rendah membuat banyak investor tertarik, tapi nggak serendah ini juga kali.

Bagi kalian yang menolak orang mengkritisi upah, tahan dulu. Coba pikir begini, kalau upah ini dikritisi, lalu pemerintah mendengarkan dan upah jadi naik… bukankah itu berarti penghasilan kalian juga naik?

Ayo coba pikir lagi. Katakanlah Anda digaji Rp1,8 juta. Setelah dituntut, upah kalian naik jadi Rp2,5 juta, sesuai standar kelayakan. Bukankah kenaikan Rp700 ribu itu lumayan? Kalian bisa membeli kebutuhan yang kalian tunda karena gaji tak mencukupi. Mungkin kalian bisa beli kulkas baru, atau tak perlu berutang untuk membayar kos kalian.

Kalau kebetulan Anda sudah berkeluarga dan pasangan kalian bekerja, dengan hitungan di atas, keuangan kalian bertambah Rp1,4 juta per bulan. Bayangkan, setidaknya itu bisa menambah nutrisi untuk keluarga kalian. Mungkin juga bisa dipakai untuk membayar SPP anak yang kadang tersendat.

Kalau sobat narimo ing pandum takut karena upah naik, harga-harga ikut naik, wajar. Tapi, saya kok nggak yakin harganya naik secara signifikan. Beras lima kilogram yang biasanya Rp60 ribu tidak tiba-tiba naik jadi seratus ribu rupiah. Kalau pun naik, kalian punya uang yang cukup untuk membeli karena upahnya sudah naik.

Jadi sobat narimo ing pandum sekalian, saya yakin bahwa tuntutan naiknya upah itu bukan karena orang-orang tersebut pengen beli Ninja, bukan. Tapi, semua itu semata agar mereka dan kita-kita ini hidup secara layak.

Catat, hidup secara layak.

Orang yang kalian maki dengan kata-kata tak punya malu karena numpang hidup, nggak tahu diri, nggak bisa nerima pemberian Tuhan, itu berjuang tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kalian yang memaki mereka. Terdengar klise dan heroik, tapi kenyataannya memang seperti itu.

Tahan libido menghujat dan mengusir mereka. Jogja tak akan kehilangan ke-Jogja-annya hanya karena upah yang naik dan daya beli yang meningkat. Justru, kota ini akan semakin menyenangkan karena orang yang hidup di bawah garis layak makin berkurang.

BACA JUGA Tilik adalah Contoh Bagaimana Orang Kota Masih Gagap dalam Melihat Desa dan artikel Rizky Prasetya yang lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2020 oleh

Tags: Buruhumr jogja
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Kerja Part Time di Jogja Adalah Jalan Pintas Menuju Perbudakan, Gaji Setengah UMR pun Nggak Ada! umr jogja gaji di jogja gaji umr jogja

Begini Cara agar Hidup Selamat di Jogja dengan Gaji UMR Jogja 2025: Harus Siap Menderita karena Itu Satu-satunya Pilihan

23 Mei 2025
Catatan Pemakluman Masalah di Jogja oleh Sultan Jogja selama 11 Tahun Terakhir: 11 Masalah yang Tak Kunjung Selesai dan Mungkin Tak Akan Pernah Selesai kos di jogja

Catatan Pemakluman Masalah di Jogja oleh Sultan Jogja selama 11 Tahun Terakhir: 11 Masalah yang Tak Kunjung Selesai dan Mungkin Tak Akan Pernah Selesai

17 Maret 2024
dunia kerja mental kerja Kalau Negara Gagal Nyediain Lapangan Kerja, Masak Buruh yang Bayar?

Kalau Negara Gagal Nyediain Lapangan Kerja, Masak Buruh yang Bayar?

28 Februari 2020
asisten penulis mojok

Pengalaman Saya Menjadi Asisten Penulis dengan Gaji 1000 Rupiah per 100 Kata

29 Oktober 2020
Hal Nggak Enak yang Harus Kita Rasakan kalau UMR Jogja Naik Dua Kali Lipat terminal mojok.co

Hal Nggak Enak yang Harus Kita Rasakan kalau UMR Jogja Naik Dua Kali Lipat

9 Maret 2021
Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

26 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci Mojok.co

Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci

27 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari Terminal

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

30 Juni 2026
Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau Mojok.co

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

24 Juni 2026
Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

30 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.