Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol

Aly Reza oleh Aly Reza
27 November 2020
A A
Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol terminal mojok.co

Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu manuver hidup saya di sepanjang 2020 ini adalah, mendadak keranjingan naik gunung. Terhitung sejak Juli lalu, per bulan saya mesti punya agenda buat mendaki. Bahkan, sekarang ini saya dan teman saya sedang menyusun agenda buat ekspedisi seven summit. Pelan-pelan dari seven summit Jawa, dilanjutkan seven summit Indonesia. Bismillah. 

Adapun penyebab di balik keranjingan saya terhadap gunung tidak lain tidak bukan adalah lantaran patah hati yang nggak berkesudahan.

Sebelumnya, saya sebenarnya nggak pernah kebayang bakal menjadi diri saya yang sekarang. Saya kadang heran sama diri sendiri, kok bisa ya orang ringkih nan mageran ini tiba-tiba jadi addict banget naik turun gunung? Sebelum ini, dibanding naik gunung saya jelas lebih memilih kafe atau pantai sebagai destinasi liburan.

Saya bahkan sempat berada di posisi sinis banget sama para pendaki. Saya sering banget mencibir mereka, kok ada ya jenis orang yang rela ngeluarin duit banyak, tenaga banyak, dan menantang risiko bahaya cuma buat naik gunung? Apa nikmatnya coba? Eh setelah saya coba sendiri, mendaki gunung ternyata menyimpan kepuasan dan ketenangan tersendiri.

Wah, dengan begitu, saya merasa perlu ngucapin terimakasih kepada pacar, eh, maksudnya mantan pacar yang sudah mutusin saya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Empat tahun dan harus berhenti di jalan, hadeeeh. Sebab, kalau bukan karena diputusin, saya nggak mungkin menemukan diri saya yang lain. Ya walaupun sebagian diri saya yang lain itu adalah kamuuu, jiah.

Saya memutuskan mendaki juga karena mengikuti saran dari temen-temen dekat saya. Sebab, saya sendiri waktu itu benar-benar kehabisan cara buat move on. Pekerjaan saya juga agak amburadul karena nggak fokus dan kehilangan mood.

Saya jadi mikir, cupu banget, masa gara-gara satu cewek, seluruh hidup saya jadi luluh lantak begini? Wah, nggak bisa dibiarin nih. Akhirnya, mendaki menjadi salah satu pilihan dan upaya saya buat melupakan mbak mantan.

Iya, pertama kali mendaki, niat saya memang buat self healing. Lebih tepatnya buat sembuh dari sakit hati sekaligus ngelupain mantan. Nggak tahu sih, niat ini benar atau salah. Tapi, yang penting kan nggak berniat buat menaklukkan alam, melainkan buat menaklukkan diri sendiri.

Baca Juga:

Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

Booking Lahan Camp di Gunung oleh Biro Open Trip Itu Nggak Masuk Akal, Sejak Kapan Gunung Jadi Lahan Milik Pribadi?

Pendakian pertama saya adalah Gunung Lawu. Pendakian pertama yang sungguh bikin perasaan dan pikiran saya jadi plong dan los dol. Selama berada di atas, bayangan dan kenangan tentang mantan saya buang jauh-jauh.

Dan saya bertekad, turun dari gunung, nggak ada lagi kenangan-kenangan manis taek itu. Fokus sama diri sendiri dan yang nggak kalah penting adalah fokus sama kerjaan. Sebab, mengutip pepatah bijak dari almarhum Pakde Didi Kempot, “Sing wis yo wis, lara ati ya oleh, ning tetep kerjo lho yo. Sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu (Yang sudah ya sudah, sakit hati boleh, tapi tetep kerja lho ya. Sebab hidup nggak bisa dibiayai dengan tangismu).”

Tapi, apakah setelah turun gunung kondisi hati saya bener-bener membaik? Apakah yang patah langsung tumbuh, yang hilang terus berganti, dan yang hancur lebur bisa terobati? Oh ternyata nggak segampang itu. Justru ingatan tentang mantan malah kian menjadi-jadi. Duh, wis angel tenan tuturane.

Oleh karena itu, sempat tebersit dalam kepala saya, “Bagi orang yang patah hati, naik gunung tetap menjadi hal yang sia-sia.”Atas ketidaksembuhan hati saya ini, jadinya malah gunung yang saya salah-salahin.

Hingga akhirnya saya sadar kalau cara berpikir semacam itu adalah segoblok-gobloknya cara berpikir. Lah ya enak aja mengambinghitamkan gunung. Sementara, pada prinsipnya yang bertanggung jawab atas kesembuhan hati ini seharusnya ya saya sendiri.

Kalau urusan dalam diri saya atau kita belum selesai, mau naik Gunung Everest terus guling-guling sampai bawah juga nggak bakal ngaruh. Tetap saja nyesek kalau kebiasaan kita cuma mengingat-ingat kenangan bersama mantan.

Ini nih yang bikin naik gunung jadi sia-sia. Gunung sudah memberi sedikit ketenangan dan penawar sakit, eh kitanya saja yang kembali menyakiti diri sendiri. Ingatlah wahai saudaraku senasib-seperambyaran, sesungguhnya mengenang mantan adalah perbuatan menyakiti diri sendiri dan itu termasuk ke dalam perbuatan yang teramat zalim. Catat itu!

Sebab gini, Rek, persis seperti yang dibilang sama komika pakar patah hati, Wira Nagara, bahwa naik gunung hanyalah salah satu dari sekian alternatif untuk mengobati luka. Bukan yang bertindak sebagai penyembuh itu sendiri. Sebab, sembuh atau nggak, pada akhirnya balik ke diri masing-masing.

Ini pesan penting juga buat temen-temen. Kalau ada teman kalian yang tetep nggak move on walaupun sudah bolak-balik naik gunung, ingat, jangan salahin aktivitas mendakinya. Sudah jelas dirinya sendiri yang bermasalah.

Saya sendiri sering mengalami. Kalau beberapa kali kedapatan lagi galau, pasti ada saja yang ngecengin, “Loh, mana oleh-olehnya dari naik gunung? Self healing terosss, tapi sakit hatinya nggak kelar-kelar.”

Ya saya sih nggak mau banyak komentar. Sebab saya sendiri merasakan, betapa ngilangin sakit itu nggak kayak ngilangin masuk angin, yang tinggal minum Antangin JRG langsung bablas angine.

Oleh karena itu, sekarang ini saya nyoba ganti niat saja. Naik gunung nggak lagi saya niati sebagai upaya buat self healing, melainkan self reward. Itung-itung buat menghadiahi diri sendiri yang sudah mau survive sama sakit hati yang nggak kunjung sembuh ini.

BACA JUGA Forum Diskusi Anak Jurusan Tasawuf Nggak Kalah Absurd dari Anak Filsafat dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2020 oleh

Tags: Mendaki GunungPencinta Alam
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Booking Lahan Camp di Gunung oleh Biro Open Trip Itu Nggak Masuk Akal, Sejak Kapan Gunung Jadi Lahan Milik Pribadi?

Booking Lahan Camp di Gunung oleh Biro Open Trip Itu Nggak Masuk Akal, Sejak Kapan Gunung Jadi Lahan Milik Pribadi?

4 Juni 2025
Apakah Saya Akan Mengizinkan Anak Saya Ikut Kegiatan Pecinta Alam?

Apakah Saya Akan Mengizinkan Anak Saya Ikut Kegiatan Pecinta Alam?

14 Desember 2019
Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol terminal mojok.co

Rekomendasi Gunung di Jawa Tengah dan Jogja untuk Pendaki Pemula

6 September 2020
Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

Dear Maba, Jangan Gabung UKM Mapala kalau Alasannya Cuma Pengin Naik Gunung Aja

23 Agustus 2025
Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol terminal mojok.co

Menggugat Alasan Mendaki Gunung Para Pemula: Sebuah Percakapan Nyinyir

8 Juni 2019
Berak di Gunung Adalah Kegiatan Paling Merepotkan bagi Pendaki, Penuh Taktik dan Sangat Memacu Adrenalin

Berak di Gunung Adalah Kegiatan Paling Merepotkan bagi Pendaki, Penuh Taktik dan Sangat Memacu Adrenalin

11 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.