Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
14 Agustus 2024
A A
Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati

Musim Panen Tebu di Jombang: Dulunya Dinanti, Kini Malah Bikin Makan Hati (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Agustus tidak hanya dikenal sebagai bulannya musim bediding, siang panas terik, malamnya dingin seperti dilapisi es. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun, ini bukan soal bediding, melainkan Bulan Agustus adalah musim panen tebu.

Tanaman tebu dibudidayakan kurang lebih selama 12 bulan, selanjutnya ditebang dan diangkut menggunakan truk menuju pabrik-pabrik gula terdekat, istilahnya musim giling. Pabrik gula pun mulai beroperasi, memproduksi gula kembali setelah masa hibernasi.

Di Jombang, musim giling ditandai dengan lalu lalangnya truk-truk pengangkut tebu dari kebun-kebun menuju Pabrik Gula Tjoekir atau Pabrik Gula Djombang baru yang ada di tengah Kota Jombang.

Sebenarnya musim giling adalah musim yang ditunggu oleh banyak orang terutama di sekitar pabrik gula. Sebelum giling dimulai pasti ada acara hiburan dan pekan raya. Seperti pasar malam, aneka jajanan dan makanan yang ramai dijajakan pedagang. Ditambah meriahnya wahana permainan untuk anak-anak yang diselenggarakan di lapangan handling panen pabrik gula.

Hanya saja, musim giling, menyisakan segelintir masalah bagi sebagian orang yang sering bepergian di sore hari menjelang magrib tiba. Jalanan dikuasai oleh deretan truk muatan tebu yang berjalan slowly. Belum lagi, lampu belakang truk yang mati ketika malam hari bikin waswas atau sisa-sisa daun tebu yang beterbangan buat mata kelilipan.

Truk-truk muatan tebu yang seenaknya parkir di pinggir jalan

Sopir truk juga manusia, pasti punya rasa capek dan lapar, termasuk supir truk pengangkut tebu. Singgah di warung gubuk tengah sawah, memarkirkan truknya sembarangan di pinggiran jalan raya, sejenak menikmati secangkir kopi dan gorengan panas buatan mbak-mbak warung. Bahu jalan yang semestinya steril dari kendaraan, malah dibuat tempat parkir yang dijamin tidak ada tukang parkir.

Bisa dibayangkan jalan raya desa itu lebarnya hanya 6 meter-an, cukup untuk lajur 2 arah mobil sebangsa Avanza justru dipaksa untuk tempat parkir truk bermuatan. Pasti kemacetan tidak bisa dielakkan lagi ketika mobil saling berpapasan, bahkan motor saja sulit untuk menyalip.

Hal ini sering terjadi di jalur Mojowarno hingga Cukir. Jalanan sesempit itu, malah harus berpapasan dengan truk-truk yang parkir di pinggir jalan. Tampaknya Pabrik Gula Tjoekir harus serius memikirkan hal ini, agar proses handling panen menuju pabrik lebih dipercepat dan mengurangi antrean para sopir truk.

Baca Juga:

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

Deretan truk yang kuasai jalanan

Alasan Belanda mengaktifkan jalur lori atau kereta pengangkut tebu pada zaman dahulu mungkin untuk menghindari kemacetan di jalanan. Asumsi saya terbukti hari ini, ketika lori-lori sudah disuntik mati digantikan oleh truk-truk gandengan.

Pada zamannya, lori-lori berangkat pagi pulang malam untuk menjemput tebu-tebu yang telah ditebang selanjutnya diantarkan ke pabrik gula. Jalurnya pun ada sendiri di pinggir jalan raya, jadi tidak kuatir mengganggu kendaraan lainnya. Meski jarak kebun dengan pabrik gula tidak dekat bahkan berpuluh-puluh kilometer, seperti lori punya Pabrik Gula Semboro yang ada di Jember, Jawa Timur, hingga kini masih aktif digunakan.

Entah bagaimana hitung-hitungan bisnisnya, sehingga banyak pabrik gula yang kini menggantikan lori dengan truk. Apakah ada kongkalikong antara orang “ dalam” pabrik gula dengan ekspedisi penyedia jasa truk, aroma itu cukup menyengat untuk dirasakan.

Kemacetan yang sering terjadi gara-gara ulah truk muatan tebu di jalanan, mau tidak mau mengubah perasaan banyak orang tentang musim giling. Dari suka menjadi kesal, pemandangan tiap sore yang seru menyaksikan lori-lori muatan tebu berjalan di rel pinggiran jalan harus digantikan dengan melihat kemacetan truk muatan tebu di jalanan.

Mungkinkah kereta lori diaktifkan kembali?

Abad 19 adalah masa di mana pabrik gula di Jawa sedang jaya-jayanya. Pabrik gula memiliki jalur kereta api yang begitu kompleks untuk mengangkut tebu hasil panen dari kebun menuju pabrik untuk diproses menjadi gula.

Namun, kini perlahan-lahan digantikan oleh truk yang dinilai lebih efisien. Hanya sedikit pabrik gula yang masih mengoperasikan kereta lorinya. Supremasi truk sebagai kendaraan pengangkut tebu di setiap musim giling didukung oleh banyaknya jalur kereta lori yang kini sudah tidak aktif lagi.

Seperti jalur kereta lori yang ada di Pabrik Gula Tjoekir, sudah tertimbun tanah dan aspal bahkan rumah-rumah warga berdiri kokoh di atasnya. Hal ini mengubur harapan reaktivasi kembali kereta lori sebagai pengangkut hasil panen tebu. Reaktivasi dipandang hanya akan membuang-buang anggaran yang tidak sedikit.

Eksistensi truk sebagai pengangkut tebu, nyatanya akan tetap langgeng. Perlu adanya perbaikan dari sisi manajemen pabrik gula dalam proses bongkar muat tebu di pabrik. Entah dengan mempercepat waktu bongkar atau mengatur jadwal panen dan bongkar truk agar tidak terjadi antrean yang panjang. Pembinaan kepada sopir truk juga diperlukan agar tidak seenaknya sendiri di jalanan.

Sekali lagi, perbaikan ini dibutuhkan agar semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada kemacetan di jalanan, dan menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam romantika kereta lori di masa lalu.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2024 oleh

Tags: Jombangmusim gilingpanen tebutebu
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

Vario Techno 125 Skutik Honda Paling Kuat (Unsplash)

Honda Vario Techno 125: Skutik Honda Paling Kuat yang Pernah Menerjang Laut

23 Agustus 2023
Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

4 Juli 2023
Depok dan Jombang, Dua Daerah Terpisah Jarak, tapi Disatukan oleh Keanehan  

Depok dan Jombang, Dua Daerah Terpisah Jarak, tapi Disatukan oleh Keanehan  

5 Oktober 2025
5 Perbedaan Nasi Goreng Magelang dan Nasi Goreng Jombang yang Bikin Kaget

5 Perbedaan Nasi Goreng Magelang dan Nasi Goreng Jombang yang Bikin Kaget

27 Juli 2023
Simpang Tiga Mengkreng Sebenarnya Milik Kediri, Nganjuk, Atau Jombang?

Simpang Tiga Mengkreng Sebenarnya Milik Kediri, Nganjuk, Atau Jombang?

26 September 2024
Tugu Jombang Senilai Rp1 Miliar Bukti Pemkab Jombang Nggak Paham Prioritas Mojok.co

Tugu Jombang Senilai Rp1 Miliar Bukti Pemkab Jombang Nggak Paham Prioritas

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.