Mitos tentang Laut di Film 'Pirates of Caribbean' yang Diambil dari Legenda Laut Wakatobi – Terminal Mojok

Mitos tentang Laut di Film ‘Pirates of Caribbean’ yang Diambil dari Legenda Laut Wakatobi

Artikel

Avatar

Film Pirates of Caribbean yang terkenal sejak zaman saya SMP telah memberi pengalaman tersendiri dalam menikmati film tentang laut dengan warna yang berbeda. Setiap muncul satu filmnya, akan ada satu mitos yang lantas dimasukan menjadi fokus cerita. Walau setelah seri kelimanya beberapa waktu silam mendapat kritikan, tetap saja saya dan banyak fans Pirates of Caribbean selalu menunggu.

Mitos-mitos yang muncul di film Pirates of Caribbean adalah mitos yang sangat erat kaitannya dengan legenda di lautan, tidak terkecuali di laut Wakatobi. Bahkan di antara beberapa mitos, di Wakatobi sejak dulu (bahkan sampai sekarang) masih dipercaya. Berikut ini di antaranya.

#1 Perempuan dianggap lemah untuk jadi pelaut

Elizabeth Swann, mungkin satu-satunya representasi dari keberadaan perempuan dalam kisah petualangan para bajak laut. Dalam sebuah scene, dikisahkan bahwa keikutsertaan Swann dalam kapal pembajak antara kebetulan dan karena sikapnya yang suka membangkang. Ditambah lagi dengan obsesinya akan bajak laut.

Namun, terlepas dari semua itu, kehadirannya di laut justru dianggap sebagai penghambat aksi para bajak laut. Walau pada akhirnya ia membuktikan, ia bisa menjadi seorang bajak laut.

Terlepas dari usaha banyak orang agar kesetaraan gender menjadi fokus perhatian, keberadaan perempuan di laut yang dianggap sebagai penghambat telah menjadi mitos yang dipercaya para pelaut. Tidak terkecuali di Wakatobi. Di sana, orang yang melaut wajib hukumnya kalau dilakukan seorang lelaki.

Kerasnya kehidupan di lautan “memaksa” lelaki untuk mempertahankan para perempuan tetap tinggal di daratan. Ini tentu tidak terlepas dari anggapan bahwa perempuan lemah untuk kehidupan keras di laut. Di darat, perempuan boleh mengerjakan apa saja, termasuk kewajiban dapur-sumur-kasur atau kegiatan lainnya. Intinya, mereka harus dialpakan kehadirannya di laut.

Pada saat kehadiran Suku Bajo di Wakatobi, mitos yang mengungkung perempuan untuk tetap tinggal di daratan sebenarnya menjadi sebuah pertanyaan besar. Pasalnya, perempuan dari Suku Bajo ikut melaut. Namun, karena kepercayaan ini sudah mendarah daging, justru budaya Suku Bajo ini menjadi bahan pertanyaan dari orang asli Wakatobi, “Ngapain perempuan melaut?”

#2 Putri duyung adalah manusia yang menjadi ikan

Putri duyung di film Pirates of Caribbean dalam seri On Stranger Tides adalah wujud putri duyung yang saya imajinasikan berdasarkan cerita mitos turun temurun. Kepalanya manusia sedangkan ekornya adalah ekor ikan. Walau tidak ada penjelasan resmi mengenai ekor ikan apa yang menyambung di bagian belakang putri duyung. Kalau ternyata ikan sapu-sapu atau ikan mujair, ya jangan harap gambarannya akan seanggun itu.

Jika di Pirates of Caribbean putri duyung ada untuk menggoda dan menenggelamkan para pelaut, di Wakatobi berbeda. Mitosnya, ia hanya akan mengincar anak-anak. Kenapa harus menyasar anak-anak? Ada cerita di baliknya.

Diceritakan, ada seorang wanita yang sedang mencari kerang di pantai bersama anaknya. Saking asyiknya mencari kerang, si ibu ini lupa dengan anaknya. Ia sadar ketika air laut mulai pasang. Dicarilah si anak ke seluruh penjuru pantai. Ia tidak berani pulang karena ia menduga akan kena damprat suaminya jika tahu anaknya hilang.

Akhirnya, ia mulai berjalan ke arah laut lepas sambil memanggil nama anaknya. Sampai di lokasi yang mulai dalam ketika air setinggi lututnya, kakinya berubah menjadi ekor ikan. Semakin badannya terendam, semakin badannya tertutup sisik layaknya putri duyung di legenda yang diceritakan. Sampai akhirnya kepalanya masuk ke dalam laut dan berubah total menjadi ikan duyung/dugong.

#3 Kraken atau imbu

Di Pirates of Caribbean seri Dead Man’s Chest, muncul salah satu legenda laut paling terkenal yang hampir seluruh dunia mempercayainya. Tentu saja negara atau daerah yang ada lautnya. Yang nggak punya mah mungkin bakal bengong lihatin gurita yang gedenya sekapal itu.

Di Wakatobi, terutama di daerah Tomia, mengenal yang namanya Imbu. Seekor gurita raksasa yang menghuni laut. Dari ceritanya, sangat akurat mirip dengan kraken di film Pirates of Caribbean.

Jika di film Pirates of Caribbean kraken hanya bisa dipanggil oleh penguasa lautan yang dalam filmnya adalah Davy Jones. Di Tomia, berbeda. Kisah yang berkembang, kraken adalah kembaran seseorang yang lahir sebagai gurita. Ia akan berkembang layaknya manusia. Bertumbuh dan membesar. Pada usia dewasa hingga tua, ia akan mencapai ukuran kraken. Si kembaran yang hidup di darat bisa sewaktu-waktu memanggil kraken kembarannya itu dengan tujuan apa pun. Entah sekadar “menyelesaikan masalah” atau memang ingin bertemu. Dan ketika ia ingin ke daratan, mitosnya ia akan berubah menjadi wujud manusianya.

#4 Koin “kutukan” keselamatan

Di film Pirates of Caribbean seri Curse of The Black Pearl, koin emas adalah sebuah kutukan bagi siapa saja yang memilikinya. Nah, mitos koin sebetulnya bukan hanya di Wakatobi, tapi juga dipercayai di banyak pelabuhan di seluruh Indonesia. Ini sudah menjadi semacam “kutukan” keselamatan.

Jadi, orang-orang yang baru sampai di satu pelabuhan atau akan meninggalkan pelabuhan, wajib hukumnya untuk melempar koin ke laut sebagai “persembahan”. Walau ada juga yang mengatakan bahwa melempar koin itu hanya keisengan orang-orang di kapal biar bisa melihat anak-anak yang sedang berenang di situ beratraksi mendapatkan koin yang dilempar.

BACA JUGA Culture Shock Orang Wakatobi yang Pertama Kali Menginjak Pulau Jawa dan tulisan Taufik lainnya.

Baca Juga:  Sesungguhnya Kegentingan Untuk Menerbitkan Perppu Sudah Terpenuhi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.