Minyak Rambut Urang Aring Adalah Penyelamat Rambut Anak Generasi 90-an – Terminal Mojok

Minyak Rambut Urang Aring Adalah Penyelamat Rambut Anak Generasi 90-an

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Saya sering melihat meme soal budaya anak 90-an. Ada beberapa hal yang memang relate, namun tak jarang budaya atau kegiatan yang digambarkan dalam meme terlalu urban. Sehingga banyak dari meme itu yang kurang mashoook dengan saya. Meme yang paling sering saya lihat adalah soal anak kecil yang mukanya putih bak papan karambol saat sore hari. Saya nggak pernah dibedakin sampai seperti itu pas kecil dulu, sih. Selain mukanya yang putih banget, rambut mereka klimis. Tapi, klimis di banyak meme itu dianggap sebagai akibat menggunakan minyak rambut urang aring. Sayangnya, saya nggak pernah menggunakan minyak itu saat kecil, hanya pernah melihatnya di rumah kakek dan nenek saya.

Minyak rambut urang aring dahulu memiliki kemasan yang terbuat dari kaca. Cairan ini berwarna hijau dan memiliki bau khas seperti rempah yang kuat. Banyak anggota keluarga saya yang menggunakan minyak ini. Kakek dan nenek, serta beberapa pakde dan mbokde saya merupakan pengguna setia. Minyak ini juga pernah digunakan oleh Bapak saat remaja dulu. Namun kemudian blio lebih memilih Brisk, di mana saat blio muda memang sedang booming. Itu cerita bapak saya. Kalau ibu saya, saat remaja memang kadang menggunakan minyak ini, tapi lebih sering pakai kemiri dan seledri, alami gitu. Kalau ngomongin minyak rambut urang aring, lepek dan mleber-mleber memang jadi ciri khasnya. Tapi, lebih banyak manfaat ketimbang mudharatnya.

Baca Juga:  Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata

Lantaran penasaran, saya ingin membeli minyak rambut ini. Saya cari di toko dan warung sekitaran rumah, tak ada yang menjualnya lagi. Kebanyakan hanya jualan gel dan pomade. Di tengah kebingungan dan kegalauan itu, kebetulan Ibu mau pergi beli peralatan makeup. Saya pun titip dibelikan minyak rambut urang aring, kalau ada. Rupanya saat pulang, ibu saya membawa minyak itu. Warna dan baunya tak berubah, tapi botolnya sudah diubah menjadi botol plastik. Gambar wanita dipermukaan belakang botol itu masih ada. Huruf dan bentuk botolnya juga masih sama.

Saat saya tuang di tangan, rasanya aneh, seperti minyak goreng. Pun saat saya taruh di rambut. Susah dan mleber ke mana-mana. Kalau kebanyakan, bisa merembes ke jidat dan leher. Pokoknya kayak orang habis keramas minyak goreng. Tapi ajaibnya rambut saya bisa lembap seharian. Rambut saya kala itu agak panjang, sampai kerah baju saja ikutan basah. Awalnya saya kira bakalan terasa sensasi panas seperti pomade. Rupanya semriwing dan bikin kepala nggak gatal. Asal nggak buat tiduran di bantal warna putih, dijamin bantal nggak ada gambar petanya.

Dulu tiap kali saya sepedaan, rambut terasa gatal dan bisa ketombean kalau saya naik sepeda setiap hari. Kini, nggak ada ketombe walau tiap hari panas-panasan. Yang terjadi pada para senior keluarga lebih keren lagi. Rambut mereka lebat dan uban tak begitu banyak, padahal mereka sudah sepuh. Saya sering kerja outdoor, panas dan hujan sudah seperti bagian diri saya. Ketombe, gatal, sampai rambut kering sering saya alami. Ditambah kebiasaan bertopi dan berhelm saat kerja dan sepedaan. Pomade herbal sempat jadi rujukan. Saya sempat mencoba banyak produk untuk rambut saya. Yang anti ketombe lah, yang pomade bisa melembapkan lah, nyatanya nggak ada yang efektif. Ternyata cuma perlu duit kurang dari sepuluh ribu, semua masalah itu teratasi. Kepala ringan dan nggak pernah gatal lagi sehabis beraktivitas.

Baca Juga:  Nostalgia Bermain Layangan

Saya pernah dua hari nggak mandi, bukan karena saya jorok, memang kerjaan saya yang nggak putus-putus. Wong tidur saja cuma sebentar, tentu mandi nggak sempat. Untuk meminimalisir bau dan rambut acak adul, saya pakai minyak ini. Tinggal cuci muka dan pakai parfum, tampilan sudah menyerupai orang yang mandi. Ajaib, rambut saya tetap lembap dan berkilau. Mirip kayak di iklan sampo. Hampir tiga hari dan rambut tetap berkilau. Akhirnya minyak rambut ini menjadi senjata utama saat saya harus tampil di depan banyak orang padahal belum mandi.

Beberapa orang zaman dulu membubuhkan minyak ini ke kumis dan brewok juga. Multifungsi lah. Nyatanya, yang sejak dulu teruji dan memang bermanfaat, harganya murah saja. Tak semua yang jadul ketinggalan zaman. Contohnya minyak rambut urang aring ini. Rupanya ia tetap tokcer hingga sekarang dan untuk seribu tahun lagi.

Sumber Gambar: YouTube Vaevam Channel

BACA JUGA Sejarah Pomade: Pernah Tenggelam, Populer, Lalu Tenggelam Lagi atau tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.