Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mesut Ozil Mengubah Arsenal Menjadi Padepokan Olah Kebatinan Jelang Final FA Cup

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
1 Agustus 2020
A A
Arsenal Mesut Ozil, Mohon Maaf, Sudah Waktunya Kamu Pergi MOJOK.CO

Arsenal Mesut Ozil, Mohon Maaf, Sudah Waktunya Kamu Pergi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Chris Wheatley, pendiri GoonerTalk, mantan jurnalis Goal, mengonfirmasi bahwa Mesut Ozil tidak akan bermain di final FA Cup melawan Chelsea. Pemain dengan gaji tertinggi di Arsenal itu, sejak beberapa hari yang lalu, sudah berada di Turki. Bukan, bukan untuk kulakan karpet lalu dijual kembali di Tesco.

Kabar dari Chris Wheatley dikonfirmasi ulang oleh Charles Watts, koresponden Goal untuk berita-berita Arsenal. Kata Charles, kepergian Mesut Ozil ke Turki memang seizin klub. Sebuah pernyataan yang bisa menjadi indikasi bahwa saat mengucapkan selamat tinggal untuk pemain berpaspor Jerman itu sudah semakin dekat.

Dan, menjelang final FA Cup, bukan Arsenal atau Chelsea yang menjadi topik hangat. Adalah Mesut Ozil yang mengawali “drama” Derby London di final FA Cup. Saya terkadang berpikir, untuk saat ini, nama Ozil memang lebih menjual ketimbag “Arsenal” itu sendiri. Padahal kita tahu, dan sudah bersepakat bahwa, klub selalu lebih besar ketimbang pemain.

Dan, nama Mesut Ozil adalah nama yang paling bisa memecah belah opini publik, tidak hanya di antara fans Arsenal saja. Banyak yang sudah lelah menantikan performa terbaik Ozil. Namun, saya yakin, yang merindukan dan ingin Ozil bertahan juga tidak kalah banyak. Pada titik tertentu, para pemuja sepak bola pragmatis, memang membenci pemain seperti dirinya.

Mesut Ozil dianggap sudah tidak kompatibel dengan sepak bola zaman sekarang. Playmaker dengan corak khusus seperti dirinya seperti sudah mendekati kepunahan. Meskipun kita tahu, di sepak bola, sejarah bukan untuk dikenang saja, tetapi akan muncul kembali suatu saat nanti, seiring perkembangan cara bermain.

Saking besarnya nama Mesut Ozil, narasi yang muncul di media sosial sudah bukan lagi soal kebutuhan tim atau cara bermain. Narasi yang juga berkembang adalah refleksi-refleksi tentang sikap sang pemain di luar lapangan. Kita tahu, dia adalah seorang muslim yang taat. Pun sebagai human being, Ozil adalah pribadi yang baik.

Saya tidak pernah percaya dengan anggapan bahwa Mesut Ozil sengaja tidak mau dijual semata untuk “menabung” dari gajinya yang tinggi itu. Detik ketika Ozil memilih Arsenal ketika memutuskan hengkang dari Real Madrid, saya tahu pilihannya bukan semata untuk uang. Pemain sekaliber dirinya memilih Arsenal alih-alih klub kaya lainnya? Seharusnya hal ini menjadi refleksi kita bersama sebelum mengkritik Ozil.

Saya sedih sekali ketika Mesut Ozil tidak masuk ke dalam skuat sejak project restart berjalan. Jika kamu fans Arsenal dan diberkahi bisa menikmati sajian Dennis Bergkamp setiap minggunya, menonton Ozil seperti diajak degdegan lagi menyaksikan umpan menembus lubang jarum itu dilepaskan. Menahan napas barang satu atau dua detik ketika bola itu menerobos barisan lawan.

Baca Juga:

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Sebuah keberkahan tersendiri ketika bisa menikmati Bergkamp dari jarak dekat. Perasaan luhur yang sama saya rasakan ketika merindukan Mesut Ozil setiap minggunya. Namun, atas dasar “demi kebaikan klub”, kalau memang sudah saatnya berpisah, “waktu” tidak akan bisa kita tebus kembali. Yang ada hanya rasa ikhlas.

Sejauh karier kepenulisan saya, setidaknya ada dua artikel dengan tema Mesut Ozil dan Idul Adha. Meskipun ada dua, intinya tetap satu, yaitu pengorbanan untuk kebahagiaan orang lain. Well, kalau bukan untuk kebahagiaan, setidaknya untuk kebaikan orang lain. Dan saat ini, kembali, Akhi Mesut menunjukkan hatinya memang besar.

Salah satu ciri pemain bola, atau bisa juga human being, yang menyebalkan adalah mereka “tukang mengeluh”. Merasa dirinya menjadi korban, padahal sebetulnya tidak, langsung mengaduh mengeluh kepada media. Mencurahkan isi hatinya lewat Instagram Stories untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah “korban sebuah sistem”.

Mesut Ozil, sejauh yang saya tahu, tidak pernah mengeluh ke media ketika dirinya tidak lagi masuk ke dalam rencana Mikel Arteta. Beberapa kali, Ozil masih mengunggah foto diri berserta wording khusus ketika Arsenal akan bermain. Mungkinkan itu sebuah tanda bahwa dirinya siap bermain atau sekadar unjuk dukungan kepada rekan-rekannya?

Bisa jadi keduanya. Namun, dia tidak pernah berkata buruk soal Arteta dan Arsenal di depan corong kamera wartawan. Semua keluh dan kesah disimpan sendiri. Sejak dua bulan lalu, dia menyimpan perasaannya rapat-rapat. Kalau saat ini, di ujung kariernya bersama Arsenal, dia ingin dekat dengan keluarga, saya bisa memakluminya.

Mesut Ozil tidak pernah membuka konfrontasi dengan Arteta atau Arsenal. Bagi saya, ini adalah sikap terpuji. Sebuah sikap positif penuh pengertian bahwa di sisa musim kemarin, Arsenal tidak butuh drama tambahan karena setiap laga yang mereka jalani sudah penuh drama kesedihan dan kekonyolan. Sekaligus menjadi bukti bahwa laki-laki juga sensitif dengan perasaan orang lain.

Dibutuhkan olah kebatinan yang mendalam untuk tidak mengumbar penderitaan di media sosial. Kalau jiwa manusia belum matang, dia akan dengan mudah memuntahkan keresahan lewat kanal-kanal yang sebetulnya kurang cocok. Ya sepeti kamu dan saya. Namun Ozil berbeda. Dia memilih untuk bungkam.

Padahal saya yakin, sudah ribuan orang menyerbu kanal pribadinya untuk bertanya kapan akan bermain lagi. Sudah ribuan juga manusia-manusia, fans picik, yang menyemburkan sumpah serapah memintanya untuk segera pergi demi “membebaskan beban gaji”.

Jika yang saya rasakan di atas ternyata salah, saya tetap bersyukur kembali diajari sebuah pelajaran berharga dari sebuah momen. Diajari kembali caranya olah batin, menahan diri untuk tidak terlalu mudah “membuang sampah” di media sosial. Terkadang, atau mungkin sering, orang lain tidak butuh energi negatif dari dirimu.

COYG.

BACA JUGA Milan Kalahkan Juventus, tapi Dapat Penalti, Milanisti Kecewa dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Agustus 2020 oleh

Tags: arsenalartetachelseaFA Cupliga inggrismesut ozil
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Dear Fans Manchester United, Berikut Kiat Puasa Gelar Liga Inggris Agar Amal Diterima dan Hati Dilapangkan MOJOK.CO

Dear Fans Manchester United, Berikut Kiat Puasa Gelar Liga Inggris Agar Amal Diterima dan Hati Dilapangkan

24 Juli 2020
Hal-Hal Baik yang Harusnya Dapat Kita Petik dari Liga Inggris

Hal-Hal Baik yang Harusnya Dapat Kita Petik dari Liga Inggris

29 Januari 2020
Mau Tak Mau, Fans MU Harus Bersabar dengan Erik ten Hag

Mau Tak Mau, Fans MU Harus Bersabar dengan Erik ten Hag

23 April 2022
Anthony Taylor: Wasit Premier League, Kualitas Liga Indonesia chelsea wasit liga inggris VAR

Anthony Taylor: Wasit Premier League, Kualitas Liga Indonesia

15 Agustus 2022
Arsenal, Makna Always Forward, dan Hadiah Paling Manis Untuk Emi Martinez MOJOK.CO

Arsenal, Makna Always Forward, dan Hadiah Paling Manis Untuk Emi Martinez

2 Agustus 2020
Apa Betul Arsenal Bisa Hidup Tanpa Arsene Wenger? MOJOK.CO

Arsenal dan Thierry Henry Menciptakan Blueprint untuk Generasi Muda Menggapai Cita-Cita

10 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.