Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menyikapi Imbauan MUI Jatim Soal Larangan Salam Lintas Agama

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
13 November 2019
A A
Menyikapi Imbauan MUI Jatim Soal Larangan Salam Lintas Agama
Share on FacebookShare on Twitter

Belum lama ini MUI Jatim mengimbau kepada para pejabat negara yang beragama Islam dan kepada umat Islam secara umum, agar mereka tidak lagi mengucapkan salam model agama lain. Misalnya seperti “Namo Buddaya” versi agama Budha dan “Om Swasti Astu” versi agama Hindu.

Imbauan ini sontak membuat banyak umat Islam kaget sekaligus ada pula yang mencibir. Apalagi di media sosial, para netizen pun banyak yang nyinyir atas isi imbauan tersebut. Imbauan MUI ini dianggap mengada-ngada dan sangat jauh dari nilai toleransi antarumat beragama. Meski begitu, kita perlu mengetahui apa maksud MUI dibalik imbauan itu.

Harus diakui bahwa belakangan ini muncul tren untuk menyelipkan juga salam seperti “Namo Buddhaya” yang biasa diucapkan umat Budha, begitupun dengan Hindu, dan seterusnya. Menurut MUI, ucapan ini, bila dilakukan oleh umat Islam dalam sesi pidato, dianggap sama halnya dengan berdoa ke Tuhan selain Allah.

Dilansir dari Mojok, dalam surat edaran MUI pada poin 5 (dari 8 poin yang ditekankan). MUI Jatim menilai bahwa “Namo Buddhaya” yang artinya “terpujilah Sang Budha” merupakan ungkapan spesifik untuk Sidharta Gautama, pendiri agama Budha. Sedangkan “Om” pada “Om Swasti Astu” merujuk hanya pada “Sang Hyang Widhi”, yang dianggap khusus penyebutan untuk Tuhan bagi agama Hindu.

Dalam konteks imbauan ini, MUI sebenarnya tidak sampai membuat fatwa, apalagi fatwa haram. Justru MUI hanya menilai bahwa mengucapkan salam umat agama lain bagi umat Islam adalah perilaku “bidah” yang tidak pernah ada contohnya sama sekali pada masa Nabi, serta mengandung nilai syubhat yang sebaiknya dihindari.

Pertanyaannya, mengapa mengucapkan salam agama lain dianggap bidah? Jawabannya tak lain adalah bahwa MUI menganggap salam adalah bentuk doa dan ibadah kepada Tuhan. Sedangkan salam model umat lain tidak pernah dipraktikkan oleh Nabi dan para sahabat, sehingga perilaku salam itu dinilai bidah dan sebentuk ibadah yang dibuat-buat.

Sebenarnya, imbauan itu bukan usul MUI Jatim secara murni. Imbauan dalam bentuk surat edaran itu merupakan hasil resmi dari rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI di Nusa Tenggara Barat pada 11-13 Oktober 2019 lalu.

Menurut MUI, imbauan ini telah sesuai dengan Alquran dan Hadis, sehingga umat Islam mestinya memperhatikan dan melaksanakan imbauan itu. Dan, umat Islam perlu berhati-hati lagi dalam berdo’a sehingga tidak melanggar ketentuan ibadah sesuai dengan yang digariskan oleh Allah.

Baca Juga:

Curahan Hati Mantan Pemburu Sound Horeg Blitar yang “Insaf” karena Karnaval Horeg Merusak Kesehatan, Pemuda Mabuk-mabukan, dan Joget Erotis

Uang Panai’: Ketika Gengsi Lebih Berharga ketimbang Cinta

Namun demikian, imbauan ini sudah terlanjur menjadi perdebatan publik, ada yang pro ada pula yang kontra. Mereka yang tidak sepakat dengan imbauan MUI ini terletak pada perbedaan tafsir soal salam agama lain.

Memang, berdoa atau beribadah kepada selain Allah jelas tidak dibolehkan dalam Islam, dalam hal ini semua orang barangkali sepakat. Hanya saja, apakah mengucapkan salam dengan cara model agama lain juga dianggap sebagai mengamini Tuhan agama lain? Pada titik ini, banyak orang berbeda pendapat.

Kalau melihat kenyataannya, tak seorang pun dari umat Islam, bila mereka sedang mengucapkan salam dalam model agama lain, berarti mereka mengamini dan berdoa menurut agama tersebut, salam sekali tidak. Justru yang dilakukan adalah dalam rangka menghormati sehormat-hormatnya terhadap agama lain, dalam arti menitikberatkan pada toleransi dan kerukunan umat beragama.

Meskipun, menurut MUI Jatim, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan toleransi antrumat beragama. Justru umat Islam yang melakukannya telah terjerumus pada perilaku yang tidak ada dasar ajarannya dalam Islam, dalam arti bidah dan sesuatu yang dibuat-buat.

Menurut saya, soal imbauan MUI ini tak perlu dibesar-besarkan, toh hanya sekadar imbauan. Ia bukan fatwa haram yang betul-betul harus ditinggalkan. Siapapun yang menganggap imbauan MUI ini benar maka silahkan saja, tapi jangan kecam mereka yang tak sependapat dengan MUI tersebut.

Saya sendiri lebih memilih memberi jalan tengah bahwa dalam setiap tindakan dan aktivitas apa pun, hendaknya didasarkan pada niat. Nabi juga telah bersabda bahwa setiap tindakan itu didasarkan pada niatnya.

Bila mengucapkan salam model agama lain dengan niat hanya sebatas menghormati dan bersikap toleran terhadap agama lain, menurut saya boleh-boleh saja, selama tujuannya tak lebih dari itu. Toh, kebanyakan dari umat Islam tidak ngerti apa arti dari salam model agama lain itu, jadi sudah jelas tak ada seorang pun yang niat untuk mengamini Tuhan agama lain.

BACA JUGA Fatwa MUI Abadi, Kita yang Fana atau tulisan Rohmatul Izad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2019 oleh

Tags: fatwalintas agamaMUIsalam
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

Logo Halal Versi Kemenag Memang Keren, tapi Nggak Sekeren Itu Terminal Mojok

Logo Halal Versi Kemenag Memang Keren, tapi Nggak Sekeren Itu

14 Maret 2022
Seriusan Ormas Bakal Diberi Wewenang Ngurusin Sertifikat Halal?

Seriusan Ormas Bakal Diberi Wewenang Ngurusin Sertifikat Halal?

18 Februari 2020
Uang Panai': Ketika Gengsi Lebih Berharga ketimbang Cinta

Uang Panai’: Ketika Gengsi Lebih Berharga ketimbang Cinta

13 Juli 2022
sekolah apa ini resensi buku insist press sanggar anak alam salam yogyakarta sekolah alternatif terbaik mojok.co

Sekolah Apa Ini? Kenapa Tak Ada Mata Pelajaran, Seragam, dan Peraturan?

20 Juni 2020
tengku zulkarnain

Poster Tarawih Bersama Tengku Zulkarnain dan Nyinyiran Netizen

10 Mei 2019
Pemburu Sound Horeg Blitar Insaf, Acara nir-Faedah dan Merusak (Pexels)

Curahan Hati Mantan Pemburu Sound Horeg Blitar yang “Insaf” karena Karnaval Horeg Merusak Kesehatan, Pemuda Mabuk-mabukan, dan Joget Erotis

27 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

3 Tradisi Madura yang Melibatkan Sapi selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, biar Obrolan Nggak Itu-itu Aja

6 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti

11 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

9 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia
  • Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi
  • Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa
  • Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme
  • Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup
  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.