Sekolah Apa Ini? Kenapa Tak Ada Mata Pelajaran, Seragam, dan Peraturan? – Terminal Mojok

Sekolah Apa Ini? Kenapa Tak Ada Mata Pelajaran, Seragam, dan Peraturan?

Artikel

Avatar

Ketika saya duduk di bangku kelas VIII, saya pernah bolos sekolah padahal sudah sampai di lingkungan sekolah. Perkaranya sepele, saya lupa hari itu hari selasa. Sementara saya sudah pakai seragam batik yang dijadwalkan untuk hari Rabu dan Kamis.

Memang tak ada yang menegur, mulai dari guru BK, guru piket, bahkan Mang Icang sang satpam sekolah. Hanya saja, saat sedang berjalan ke pintu gerbang, saya diceng-cengin teman secara verbal: “Idih, bocah bego kali ya hari ini pake batik”, “Eh, Lan, di rumah lo mati lampu ya? Sampe nggak bisa liat seragam. Hahaha.”

Mendengar ceng-cengan itu membuat saya malu. Apalagi kalimat itu dilontarkan dengan volume kencang. Nggak cuma siswa lain, Kang Cakwe, Kang Gorengan, Ibu Nasi Uduk, Ibu Pop Ice, semua ikut tertawa. Saya bergegas pulang. Sampai rumah alih-alih kembali ke sekolah lagi dengan seragam yang benar, saya malah enggan berangkat.

Sejak itu saya berpikir kenapa sih, sekolah di negara kita harus pakai seragam segala? Kenapa nggak pakai pakaian bebas kayak kakak-kakak mahasiswa aja? Sehingga tidak akan pernah ada cerita salah seragam yang berujung rasa malu ini.

Dalam buku “Sekolah Apa Ini?” kita akan mengenal Sanggar Anak Alam atau akrab dengan panggilan SALAM, sebuah sekolah alternatif di Yogyakarta yang sangat menarik.

SALAM memakai sistem pendidikan yang memerdekakan anak. Kita diajak menjajaki awal mula berdirinya SALAM beserta ragam aktivitas di SALAM. Hal yang menarik bagi saya adalah dalam proses pembelajarannya. SALAM tidak mempunyai mata pelajaran, tidak mempunyai aturan, nggak ada seragam, dan boleh pakai sandal jepit. Bahkan tanpa alas kaki juga boleh. Loh, sekolah apa ini?

Saya hakulyakin, sebagian banyak orang di Indonesia yang mendengar ada sekolah seperti SALAM akan berkomentar: sekolah yang aneh. Kesan pertama saya membaca buku ini justru SALAM tidaklah aneh. Sebab ini adalah sekolah idaman saya dulu. Atau malah saya yang punya pikiran aneh? Tapi setelah saya baca lebih lanjut…

Tunggu. Tunggu, sebelum saya lanjut. Saya sarankan, kamu tinggalkan dulu bayangan sekolah-sekolah pada umumnya yang kamu ketahui sekaligus alami.

Sudah? Yuk, lanjut.

… bahwa laku pendidikan yang ada di SALAM berdasarkan konsep pendidikan merdeka yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar mengatakan bahwa merdeka berarti tidak hidup terperintah, tidak bergantung pada orang lain, dan cakap mengatur ketertiban hidupnya sendiri. Pernahkan kamu mendengar istilah Taman Siswa? Iya, yang Ki Hadjar dirikan itu, Perguruan Taman Siswa, menariknya menggunakan kata “Taman Siswa”.

Kata taman digunakan untuk proses penyelenggaraan pendidikan, yang mana taman merupakan tempat bermain atau belajar. Kata siswa berarti murid. Maknanya secara meluas, pendidikan yang digambarkan dengan kata taman itu meliputi pendidikan formal dan informal. Dan SALAM sangat memberi kesan wujud dari pendidikan taman siswa itu sendiri.

 Dalam proses belajar, SALAM memang tidak mempunyai mata pelajaran. Namun, bukan berarti anak-anak datang ke SALAM tidak belajar sama sekali. SALAM memang mengusung konsep belajar yang memerdekakan anak. Dengan kata lain anak boleh belajar apa saja sesuai minatnya.

Dalam bab 5 yang berjudul “Tanpa Mata Pelajaran”, pada subbab “Riset dan Keterampilan Calistung (Kelas 1-3 SD)”, dijelaskan bahwa anak-anak di SALAM tidak dituntut harus lancar membaca, menulis, dan berhitung dasar di kelas 1 SD. Sesuai dengan prinsip belajar tanpa mata pelajaran, tidak ada pelajaran calistung di SALAM.

Baca Juga:  Bukan Karya yang Berhasil Dibukukan, Justru Ini 5 Hal yang Harus Dimiliki Penulis

Fasilitator di SALAM meyakini, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung pada anak akan berproses dengan sendirinya seiring dengan kebiasaan-kebiasaan yang diperkenalkan sejak dini. Jadi, alih-alih mengajarkan anak mengenal huruf A, I, U, E, O, mengajarkan anak mengeja ba, bi, bu, be, bo, anak-anak belajar calistung justru dari peristiwa riset.

Di kelas 1-3 SD, anak-anak melakukan riset bersama. Satu tema besar akan dipilih. Dari setiap peristiwa yang muncul dalam riset itulah yang akan dijadikan bahan belajar bersama. Anak juga diajak belajar untuk membuat simbol-simbol yang menunjukkan jumlah tertentu. Dalam sederet proses demi proses, tentu saja ada proses membaca, menghitung, lalu menulis.

Tentu proses pembelajaran dengan metode riset tiap jenjang berbeda-beda. Di kelas 4-6 SD, SALAM mengolah riset anak menjadi riset mandiri. Anak-anak menentukan tema risetnya sendiri. Meskipun dilakukan sendiri-sendiri, namun tiap anak tetap melakukan tahapan yang sama dengan riset pada umunya di SALAM.

Fasilitator SALAM akan membantu anak untuk mengingat dan mencatat tiap peristiwa. Kemudian mengubah peristiwa menjadi data yang nantinya akan menghasilkan catatan atau tulisan untuk dikaitkan dengan konteks belajar.

Contohnya ada Bonar, murid kelas 4. “Membuat dan Menjual Roti Sobek” dipilih sebagai tema risetnya. Mudah baginya memilih tema itu karena eyang kakungnya adalah seorang pembuat gamelan. Ibunya menjadi ujung tombak pemasaran gamelan itu. Ayahnya seorang peternak lele yang juga melayani jasa pembuatan rumah berbentuk kubah.

Kentalnya jiwa wirausaha di keluarga Bonar membuatnya tidak hanya paham, tetapi juga terlibat dengan risetnya. Sebagai peneliti cilik, Bon memilih ibunya sebagai narasumber riset. Sebelumnya pertanyaan sudah disusun Bon untuk diajukan. Mulai dari bahan dan peralatan, segmen pasar, harga jual, menghitung laba, sampai cara memasarkan produk.

Lalu Bonar memulai praktiknya dengan berbelanja bersama ibunya di toko bahan kue. Di SALAM ada yang namanya Pasar Senin Legi yang digelar 35 hari sekali. Di sini Bonar mempraktikkan ilmu jualan yang didapatnya dari riset. Bonar menghitung hasil penjualan, kemudian membandingkannya antara modal dan pendapatan. Hasilnya, pendapatan penjualan masih lebih kecil daripada modal.

“Belum berhasil!” katanya, menilai hasil risetnya sendiri. Di SALAM, kegagalan adalah sebuah anugerah. Dengan kegagalan siswa bisa belajar lagi. Bersama fasilitator, Bonar mencoba mencari tahu. Akhirnya, menurut Bonar kegagalan itu terjadi karena beberapa hal, seperti roti sobek yang bantat sehingga tidak laku. Setelah dicari tahu, roti bantat itu terjadi karena ia mengaduk adonan kurang lama.

Kegagalan ini menjadi sumber belajar Bon, fasilitator, dan orang tua. Mereka lalu mengevaluasi dan melakukan refleksi mengapa praktik yang pertama dan kedua belum berhasil. Peristiwa ini juga yang terus mendorong Bonar mencoba sampai periode riset berakhir.

Selain tanpa mata pelajaran, SALAM juga tidak mempunyai aturan. Tapi SALAM mempunyai yang namanya kesepakatan kelas. Kesepakatan di sini dibuat saat masa orientasi siswa.

Di jenjang SD, kesepakatan dibangun dalam kelompok antara teman sebaya. Kesepakatan itu mencakup menjaga diri, menjaga teman, dan menjaga lingkungan. Kesepakatan besar tersebut akan diperinci lagi di kelas. Karena tiap anak berbeda, tiap kelas isinya berbeda, kesepakatannya pun berbeda antara satu kelas dengan kelas lain.

Secara luas, kesepakatan kelas disepakati oleh fasilitator, anak, dan juga orang tua (kecuali di kelas PAUD yang kesepakatannya dibuat antara anak dan orang tua saja). Misalnya, ketika ada seorang anak datang terlambat karena anak itu bangun kesiangan. Maka si anak harus minta maaf kepada orang tua, fasilitator, dan teman-temannya.

Baca Juga:  3 Alasan Buku Motivasi Selalu Laku di Pasaran

Begitu juga sebaliknya, jika ada anak datang terlambat akibat dari orang tuanya, orangtuanya lah yang harus meminta maaf kepada anaknya, fasilitator, dan teman-teman anaknya. Alih-alih menghukum, SALAM mengajarkan pendidikan karakter yang diterapkan dalam di kehidupan sehari-hari.

Di SALAM, anak usia 2-4 tahun berproses belajar pada jenjang KB (Kelompok Bermain), sementara usia 4-6 tahun berproses di TA (Taman Anak). Di jenjang KB ada satu hal kesepakatan yang umum untuk disepakati antara fasilitator dengan anak, yakni lamanya waktu bermain. Jam belajar yang disepakati dimulai pukul 08.30 WIB. Sedangkan waktu bermain bebas disepakati berdurasi 30-45 menit.

Setelah anak-anak puas bermain, barulah fasilitator mengajak berkumpul untuk doa pembukaan. Kemudian dilanjutkan dengan respons aktivitas anak-anak serta memulai belajar sesuai yang sudah diprogramkan fasilitator dengan tetap mempertimbangkan kecenderungan anak.

Jika saya bayangkan, pemandangan seperti itu akan sangat mengganggu pikiran orang dewasa pada umumnya. Di mana pemahaman sikap belajar adalah, duduk manis di atas kursi, rapi, dan guru menjelaskan materi.

Dalam bab 6 “Belajar Lewat Apa Lagi?” pada subbab “Bermain”, dijelaskan bahwa bermain merupakan kebutuhan semua anak. Saat bermain sedang berlangsung, hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan baik.

Dalam kegiatan bermain anak-anak juga dapat berkesempatan belajar tentang dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak-anak juga mendapat kebebasan untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan suatu bentuk kreativitas.

Bagi SALAM, bermain merupakan tahapan penting untuk mencapai seluruh area perkembangan. Maka dari itu bermain bukanlah hal yang terpisah dari proses belajar. Karena sesungguhnya dengan bermain anak-anak secara diam-diam sedang belajar mengeksplorasi lingkungan sekitarnya supaya tumbuh rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain. Juga belajar mengembangkan kemampuan berhubungan secara interpersonal, kontrol diri, serta berani menerima tantangan dan risiko dari setiap pilihannya.

Dalam jenjang TA juga ada proses belajar dengan metode riset. Tetapi untuk jenjang TA, riset dilakukan lebih sederhana lagi. Misalnya anak dan fasilitator melakukan perjalanan keliling desa atau lingkungan sekitar. Dengan rasa keingintahuannya, anak akan bertanya kepada fasilitator tentang satu objek yang dilihat.

Kemudian fasilitator tidak akan secara langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan melemparkan lagi pertanyaan tersebut ke anak-anak lain, lalu secara alami anak-anak akan menganalisis sampai menemukan keseimpulannya sendiri.

Dalam epilog yang ditulis oleh Roem Topatimasang, ia menegaskan jangan sampai salah mengartikan SALAM menjadi Sekolah Anak Alam. Jelas itu keliru. Sebab SALAM adalah sanggar, bukan sekolah. Ini bukan sekadar pertengkaran peristilahan, melainkan pergulatan gagasan dan pemikiran.

Judul buku                  : Sekolah Apa Ini?
Penyusun                    : Gernatatiti, Karunianingtyas Rejeki, dan Sri Wahyaningsih
Penerbit                       : Insist Press, Juni 2019
Jumlah Halaman         : xviii + 240 Halaman

BACA JUGA Sekolah Tidak Lebih Penting dari Belajar dan tulisan Allan Maullana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.