Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
26 April 2026
A A
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kabar tentang daycare di Jogja yang viral di media sosial, membuat dada saya bergemuruh. Terlebih, baca komentarnya.

Membaca kasus daycare problematik di Jogja, mengingatkan saya akan pengalaman menitipkan anak di daycare. Sejujurnya, itu jadi keputusan paling berat yang pernah saya ambil. 

Setiap pagi, ada rasa sesak saat harus melepaskan genggaman tangan mungil anak di depan pintu gerbang. Namun, kala itu, daycare memang menjadi opsi terbaik. Bukan karena ingin lepas tangan, tapi saya justru melakukannya agar semua aspek kehidupan, tetap berjalan di jalurnya. Silakan sebut itu pembelaan. Saya tidak peduli.

Sebelum memasukkan anak kedua saya di daycare, saya pernah minta tolong orang tua untuk menjaga anak di rumah. Namun, ritual itu tak bertahan lama. Seingat saya, hanya 4 bulan saja. Saya merasa iba melihat orang tua saya setiap pagi harus menembus dinginnya udara pagi sejauh 14 km, lalu kembali ke rumah mereka saat sore tiba. Orang tua saya tidak mau menginap. Kata mereka, bolak-balik saja tak apa.

Lama-lama saya jadi tak tega. Dulu, di masa kecil saya sudah sering merepotkan mereka, masa ketika sudah jadi ibu pun, masih harus merepotkan mereka lagi? Akhirnya, saya putuskan untuk menyewa babysitter. Barulah setelah umur 3 tahun, saya dan suami mantap memasukkan anak ke daycare.

Standar “terbaik” itu subjektif

Semua orang tua yang memilih untuk memasukkan anaknya ke daycare pasti punya alasan tersendiri. Ada yang merasa lebih tenang karena daycare lebih profesional, punya kurikulum dan tidak perlu merasa waswas akan ketergantungan pada satu orang saja. Tidak ada lagi drama babysitter yang tiba-tiba izin atau sakit, yang akhirnya membuat orangtua harus kelimpungan mencari pengganti. Dengan kata lain, daycare adalah opsi terbaik bagi sebagian orang tua.

Memang, definisi terbaik itu sangat subjektif. Saya yakin ketika saya menulis “Daycare adalah opsi terbaik bagi sebagian orang tua”, ada sebagian (bahkan mungkin banyak) dari kalian yang gatel ingin menyanggah. Yah, nggak jauh beda dengan kolom komentar soal daycare di Jogja yang dibanjiri dengan komentar-komentar, seperti:

“Kok ada yang orang tua yang tega nitipin anaknya di daycare?”

Baca Juga:

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

“Kalau aku sih mending resign demi anak.”

“Daripada daycare mending bayar babysitter aja.”

“Makanya kalau ekonomi nggak mampu, nggak usah bikin anak.”

Hmm. Agaknya, mereka yang berkomentar pedas tersebut lupa satu hal. Mereka lupa bahwa kita tidak bisa menggunakan ukuran sepatu kita untuk kaki orang lain.

Bentuk cinta yang berbeda

Bagi satu ibu, resign dan mendampingi anak 24 jam adalah bentuk cinta tertinggi. Namun, bagi ibu lain, menjaga kemandirian finansial demi pendidikan anak di masa depan adalah bentuk tanggung jawab yang tak kalah mulia. Tidak ada yang lebih benar atau lebih salah. Semua hanyalah tentang kondisi yang berbeda-beda, maka bentuk cintanya pun berbeda.

Saya punya kawan yang ketiga anaknya tumbuh besar di daycare. Apakah dia ibu yang buruk? Sama sekali tidak. Dia adalah salah satu ibu paling hebat yang saya kenal. Kedekatannya dengan anak-anak justru sangat erat. Dia sadar bahwa waktunya terbatas, maka dia membayar “utang” waktu itu dengan kualitas yang luar biasa. Saat di rumah, dia memeluk, mendengarkan cerita sekolah, hingga bermain dengan anak-anaknya.

Kalau kalian berpikir, “Ah, itu kan tergantung ibunya. Banyak juga ibu bekerja yang sampai rumah cuma sisa capeknya doang! Anak-anak akhirnya nggak keurus.”

Iya, kalian tidak salah. Adalah benar bahwa semua tergantung individu. Maka, tidak salah juga jika analogi ‘tergantung’ itu juga berlaku untuk hal lain. Untuk ibu yang memilih resign demi membersamai anak, misalnya. Sepintas, hal itu terdengar seperti sebuah pengorbanan yang mulia dan ideal. Namun, faktanya, setelah dilakoni, apa iya se-ideal itu? Banyak pula yang kemudian hanya raga saja yang hadir 24 jam, tapi aktivitasnya? Belum tentu sepenuhnya untuk anak. Tidak sedikit yang justru lebih sibuk di dunia maya, asyik scrolling media sosial atau berburu diskon online shop, sementara si kecil dibiarkan ‘diasuh’ oleh tontonan YouTube agar tidak mengganggu ibunya.

Kembali soal pilihan memasukkan anak ke daycare…

Saya haqqul yaqin setiap orang tua yang menitipkan anaknya di daycare sudah melakukan survei berkali-kali, mengecek testimoni, hingga memantau lewat laporan harian. Jika pada akhirnya terjadi hal yang di luar kendali, seperti yang terjadi di daycare yang ada di Jogja, itu adalah musibah dan kejahatan oknum, bukan kesalahan pilihan orang tuanya. Artinya, menyalahkan orang tua yang anaknya menjadi korban di daycare adalah bentuk victim blaming yang sangat jahat.

Jadi, tolong, berhentilah mendiskreditkan ibu yang memilih daycare. Berhenti melontarkan kalimat “Kalau saya sih mending…” Mending empatinya diasah lagi dan komentarnya dijaga.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sebelum Menitipkan Anak, Pahami 3 Hal tentang Daycare Ini Terlebih Dahulu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 April 2026 oleh

Tags: Anak-AnakayahdaycareIbuKeluargaOrang Tuaortu
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Belajar dari Kang Bahar di Preman Pensiun: Preman yang Juga Punya Sisi Humanis Kenapa Sih Orang Suka Berkomentar dan Terbawa Suasana Pas Nonton Sinetron?

Kenapa Sih Orang Suka Berkomentar dan Terbawa Suasana Pas Nonton Sinetron?

4 November 2019
Resep Boleh Sama, tapi Kalau Beda yang Memasak, Kok Rasanya Lain?

Hal-hal yang Tidak Digambarkan dalam Iklan Masak

1 Mei 2020
Magang di Pengadilan Agama Bikin Saya Lebih Realistis dalam Memandang Pernikahan broken home

Sulitnya Menjadi Anak Broken Home

18 Februari 2023
Dear, Orang Tua_ Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri. Bahaya! terminal mojok

Dear, Orang Tua: Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri, Bahaya!

13 September 2021
Stop Menakuti Anak dengan Bilang 'Nanti Disuntik Dokter', Nggak Bener Itu!

Stop Menakuti Anak dengan Bilang ‘Nanti Disuntik Dokter’, Nggak Bener Itu!

28 Januari 2022
Jangan Keburu Ngamuk ketika Tahu Anak Merokok, Lakukan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu

Jangan Keburu Ngamuk Ketika Tahu Anak Merokok, Lakukan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu

26 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah
  • Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY
  • Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius
  • Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda
  • Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan
  • Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.