Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Sulitnya Menjadi Anak Broken Home

Nafisah Aulia R oleh Nafisah Aulia R
18 Februari 2023
A A
Magang di Pengadilan Agama Bikin Saya Lebih Realistis dalam Memandang Pernikahan broken home

Ilustrasi perceraian

Share on FacebookShare on Twitter

Menurut saya, memiliki keluarga yang tidak lengkap saja sudah sulit. Entah itu soal pengasuhan, ekonomi, atau dampak personal yang mungkin dialami oleh sang anak maupun orang tua. Sebagai salah satu anak yang juga berasal dari keluarga broken home entah sejak umur berapa, ada beberapa kesulitan yang beberapa kali saya alami dan bisa jadi dialami pula oleh anak-anak lain dengan nasib yang sama.

Sebelumnya ingin saya perjelas dulu, ya, bahwa broken home yang dibahas di sini adalah yang disebabkan oleh perceraian orang tua. Beberapa di antaranya adalah masalah administrasi dan perihal kejujuran.Yah, memang memiliki keluarga yang bercerai kerap kali dianggap sebagai sebuah aib. Sesuatu yang rumpang dan tidak sempurna seringnya tidak ingin diketahui oleh orang lain. Khawatirnya orang-orang akan memberikan penilaian tertentu

 Inginnya sih, tulisan ini membuka pandangan orang-orang bahwa kesulitan yang dialami oleh anak broken home bukan hanya soal bingungnya harus ikut orang tua yang mana dan siapa yang bertanggung jawab membiayai. Melainkan ada pula hal yang bisa jadi tidak terpikirkan oleh orang-orang biasanya.

Administrasi pendidikan

Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dalam hidup adalah ketika mengisi formulir dan harus mencantumkan data orang tua. Kalau hanya satu, masih aman. Tapi kalau dua yang diminta, saya mulai merasa sebal saat mengisinya. Terlebih bila setelah bercerai hubungan kedua orang tua tidak pernah membaik. Rasanya berat sekali untuk mengisikan nama salah satunya. Setidaknya itu bagi saya. Apalagi bila orang tua sudah bercerai sejak kita masih berumur muda sekali, kemudian hubungan keduanya sangat buruk dan hampir tidak pernah berkontak satu sama lain. Dibahas bersama orang tua atau anggota keluarga lain pun tidak. Seolah-olah satu sosok tersebut hilang ditelan bumi, entah masih hidup atau tidak. Yang diketahui sekadar nama.

Hal semacam itu pernah saya alami ketika mendaftar ke SMA. Pendaftaran hingga tes saya lakukan semuanya sendiri dan ketika mengisi formulir, betapa bingungnya saya saat hendak mengisi data ayah karena tidak ada yang saya tahu selain nama lengkapnya. Bahkan NIK-nya saja harus saya cari di Google! Hal yang sama juga dialami oleh seorang peserta didik baru ketika mendaftar ulang yang saya dampingi untuk mengisi formulir. Saat saya tanya mengapa bagian data ayah dikosongkan, jawaban yang saya dapat adalah tidak tahu. Selain bingung, perasaan saat itu adalah sedih sekaligus malu (karena ketidaktahuan tersebut diketahui orang lain).

Banding pemberian bantuan keuangan

Ini masih berhubungan dengan masalah administrasi sebelumnya. Sewaktu saya mendaftar kuliah, tidak ada pilihan “bercerai” untuk data orang tua. Oke kalau memang membutuhkan data keduanya. Tapi menurut saya status tersebut sama pentingnya dengan status orang tua yang “meninggal”, bila dicantumkan (Semoga saya tidak mendapat serangan setelah ini).

Orang-orang perlu tahu bahwa perceraian juga merupakan sumber dari kesulitan ekonomi. Berapa banyak orang tua yang bercerai dan kedua-duanya membagi secara imbang biaya hidup sang anak? Dari pengalaman beberapa orang di sekitar saya, biaya hidup sang anak biasanya sebagian besar ditanggung oleh orang tua yang memiliki hak asuh. Tentu hal ini memberatkan, terlebih bila terjadi pada keluarga yang memang kondisi ekonominya kurang baik.

Maaf bila masalah ini kesannya terlalu pribadi karena menyangkut masalah internal keluarga. Tapi, karena ini ada kaitannya dengan kondisi ekonomi dan tentu berpengaruh juga dengan pembiayaan pendidikan, saya pikir lembaga-lembaga pendidikan perlu memperhatikan hal ini juga; bahwa anak-anak dengan status orang tua yang bercerai juga mengalami kesulitan dalam hal ekonomi.

Baca Juga:

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

Masalah kejujuran

Berapa banyak orang yang secara terang-terangan mengungkapkan bahwa keluarganya bercerai? Saya salah satu orang yang merasa kesulitan untuk mengaku bahwa orang tua saya bercerai. Memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari keluarga yang bercerai, selain kita dan orang tua kita yang survive. Bila percakapan tentang orang tua datang ketika bersama teman, biasanya akan ada rasa malas untuk membahasnya. Terlebih bila orang-orang itu memiliki “keluarga cemara” dan bercerita kenangan-kenangan bahagianya, momen indah yang menyenangkan dan tak terlupakan. Tidak bermaksud adu nasib, tapi terkadang ada rasa iri juga, sekalipun selama ini sudah meyakini bahwa diri ini baik-baik saja.

Saya termasuk yang tidak begitu suka membahas tentang orang tua. Terlebih ketika yang dibicarakan adalah pekerjaannya. Pasti saya akan membual tentang ayahku bekerja apa karena saya memang tidak tahu. Bualan yang didasarkan pada ingatan acak yang tertinggal sewaktu kecil.

Penilaian banyak orang

Tahu apa yang menyebabkan anak broken home sulit untuk mengaku bahwa orang tuanya bercerai dan (lebih buruknya) tidak berhubungan baik setelahnya? Ya, penilaian orang lain di sekitarnya. Simpan dulu kata-kata, “Nggak usah mikirin kata-kata orang lain!” Tolong dimengerti bahwa tidak semudah itu untuk memiliki pola pikir seperti itu. Yang sepatutnya dikatakan mungkin adalah, “Berhenti menilai orang dari latar belakang keluarganya.”

Sering kali anak broken home dilihat sebagai anak yang bermasalah, entah itu nakal, pemalas, lemah, atau entahlah apa. Sekalipun memang kami, anak-anak broken home ini, nakal dan bermasalah, kami tidak ingin benar-benar dianggap bahwa perceraian orang tua kami adalah penyebab utamanya (meskipun mungkin ada benarnya, bila diselidiki secara psikologis).

Akan lebih baik bila orang lain menganggap buruk diri ini hanya karena diri ini memang buruk, bukan karena perceraian orang tua. Setidaknya, saya pribadi merasa begitu. Dan yang paling, sangat, amat, perlu diingat adalah tidak semua anak broken home buruk, nakal, urakan, punk, atau anak dengan citra-citra buruk lainnya. Daripada menilai mereka sedemikian buruknya, alangkah baiknya menghargai usaha mereka yang sudah bertahan agar sebisa mungkin tetap menjalani hidupnya.

Keempat poin ini adalah sedikit dari banyaknya hal yang saya keluhkan sebagai anak broken home yang menurut saya merepotkan—saya paling tidak suka dua poin pertama. Tidak ada yang menyenangkan dari orang tua yang bertengkar dan berakhir berpisah. Selain menyisakan trauma dan luka, pada kenyataannya ada kesulitan-kesulitan lain yang (mungkin) lebih universal, yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Saya harap, anak-anak (penyintas) broken home tumbuh menjadi sosok yang jauh-jauh-jauh lebih dewasa dan kuat dari sebelumnya.

Penulis: Nafisah Aulia R
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pesan Penting dari Anak Broken Home untuk Anda yang Gemar Julid Isu Perceraian

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2023 oleh

Tags: broken homehak asuhKehidupanKeluarga
Nafisah Aulia R

Nafisah Aulia R

Mahasiswa tahun ketiga yang sedang menimbang-nimbang hendak menjadi apa setelah lulus.

ArtikelTerkait

dpr

Ibu Saya Anggota DPR yang Sedang Didemo dan Anak-anaknya Ribut di Grup WhatsApp

30 September 2019
Percayalah, Ketua RT yang Beres Adalah Sebenar-benarnya Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Percayalah, Ketua RT yang Beres Adalah Sebenar-benarnya Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

16 Januari 2023
Gagal Lihat Komodo Akibat Kebijakan Tarif Mahal

Gagal Lihat Komodo Akibat Kebijakan Tarif Mahal

30 Juli 2022
ibu

Dapat Tawaran Skripsi Jadi dan Calon Istri Saat Mudik Lebaran dari Ibu

24 Mei 2019
calo makam

Hati-hati Calo Makam: Memanipulasi Duka dan Kematian Menjadi Bisnis yang Merugikan

7 Oktober 2019
panduan berdamai dengan keluarga yang menjadi penderita stroke mojok.co

Berdamai dengan Penderita Stroke Tidak Mudah, namun Harus Dilakukan

27 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
ASN Deadwood Memang Sebaiknya Dipecat Saja!

Kalau Ada yang Bilang Semua ASN Kerjanya Nganggur, Sini, Orangnya Suruh Berantem Lawan Saya

30 Maret 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Kebeli Suzuki Ertiga tapi Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.