Menilik Kepribadian Aa Burjo dari Kerupuk Magelangan yang Ia Sajikan – Terminal Mojok

Menilik Kepribadian Aa Burjo dari Kerupuk Magelangan yang Ia Sajikan

Artikel

Sirojul Khafid

Sepertinya semua mahasiswa yang kuliah di Jogja pernah makan di warmindo a.k.a. burjo. Bedanya pada intensitas dan tanggapan teman atau saudara. Pernah teman saya dari luar Jawa beberapa kali makan di burjo. Sepertinya kakak kandungnya yang tinggal bersama memperhatikan. Entah tidak kuat atau apa, si kakak teman saya menegur, “Makan di burjo terus, sakit perut baru tahu rasa.”

Sesuatu yang cukup menohok untuk terdengar. Saya kira makan di burjo merupakan hal yang wajar, ternyata bagi orang di belahan Bumi lain (dan ekonomi yang lebih tinggi) hal itu merupakan ancaman untuk keluarga.

Sudahlah, kita bahas yang santai-santai saja. Saat sering pulang terlampau larut dari sekretariat organisasi kampus, burjo merupakan “rumah” kedua. Dia selalu setia menunggu dan rela membuatkan makanan bagi kita pada jam berapa pun. Namanya juga jualan ya kan. Bahkan saat tidak lapar pun, seperti ada tangan yang tercipta dari asap rebusan mi instan yang melambai-lambai. Mengerikan.

Momen-momen saat pulang, dengan badan telah lelah seusai bergelut dengan keganasan hidup, membuat pikiran sering melayang entah ke mana. Kita juga tidak jarang memperhatikan hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

Seperti malam itu, saya memesan magelangan dan air putih. Bagi yang tidak tahu, magelangan itu campuran antara nasi, mi instan, dan remah-remah sayur. Setelah sekian tahun berjibaku dengan beberapa burjo dan makan magelangan, ini salah satu hasil amatan (tidak penting) saya.

Kita bisa menilik kepribadian aa burjo dari cara dia menyajikan magelangan. Apakah penting mengetahui kepribadian aa burjo? Hei, tidak semua hal di dunia ini harus penting. Emang joget-joget di depan kamera ponsel itu penting? Emang komen di medsos dengan kalimat “Apa cuma gue ya yang ketawa sama lelucon receh ini” itu penting?

Tipe to the point

Apabila kamu menemukan aa burjo yang menyajikan magelangan tanpa kerupuk, bisa jadi dia tergolong orang yang to the point. Blak-blakan. Grusa-grusu. Ra basa-basi. Kurang memperhatikan detail.

Baca Juga:  Tips dan Trik Meningkatkan Pengalaman Makan Mi Instan

Hal itu terlihat dari penyajian yang hanya pada menu utama nasi, mi dan remahan sayur. Dia tidak memberikan kerupuk yang sebenarnya membuat makan semakin indah. Walaupun kecil, kerupuk merupakan elemen penting dalam estetika makan magelangan. Ibarat motor, kerupuk itu seperti bodi plastik. Walaupun tetep bisa jalan, tapi motor tanpa bodi akan terasa aneh.

Mungkin tipe ini terlihat tidak baik, tapi ada yang lebih parah. Saat aa burjo tidak hanya alpa memberikan kerupuk, tapi lebih parahnya dia tidak memberi sendok dan piring. Kalau Anda menemukan yang seperti itu hubungi saya, kita viralkan burjo itu ramai-ramai.

Tipe teliti tapi tidak futuristis

Saat ada aa burjo yang menyajikan magelangan dengan kerupuk di atasnya, ada kemungkinan dia tergolong orang yang teliti dan mementingkan citra. Walaupun ringan, tapi dia tidak melupakan detail kerupuk.

Itu bagian baiknya. Tipe orang seperti ini memiliki sisi kurang baik karena kurang memperhatikan masa depan. Saat aa burjo meletakkan kerupuk di atas magelangan, dia tidak peduli akan kemungkinan kerupuk yang melempem terkena minyak dari nasi atau mi.

Tipe teliti dan futuristis

Jenis aa burjo yang memperhatikan detail, kesan baik, dan masa depan berada dalam tipe ini. Dia menyajikan magelangan dengan kerupuk secara terpisah. Biasanya pemisah kerupuk berupa mangkuk kecil. Dengan upaya ini, maka kerupuk tidak akan melempem karena terkena minyak magelangan. Kecuali sedari awal kerupuk sudah melempem ya, itu lain soal.

Tipe dewa

Eits, masih ada satu tipe lagi. Saya menyebutnya tipe dewa. Tipe favorit saya. Tipe ini merupakan tipe terakhir (teliti dan futuristis), namun saat kita hendak membayar, dia berkata,

“Untuk apa uang itu?”
“Bayar kan a?”
“Kami tidak butuh uang. Kegiatan ini hanya hobi, tidak butuh uang. Kalian menyebut istilah seperti ini dengan apa?”
“Passion?”
“Yap, passion. Menjual makanan adalah passion kami. Keuntungan? Apa itu?”

Mendengar hal itu, saya mengantungkan kembali uang sepuluh ribu rupiah lusuh ke kantong. Bingung. Kemudian berjalan menuju parkiran motor. Namun saya memutuskan untuk berhenti dan menengok ke belakang.

Baca Juga:  Usulan Varian Indomie Baru: Rasa Tajin Palappa Khas Situbondo

“A, magelangan buatanmu, nomero uno.” Saya memberi ajungan jempol dan beranjak pergi.

Saat saya sudah memalingkan wajah dan melanjutkan langkah, terjadi ledakan dari arah burjo, seperti adegan-adegan film Hollywood.

BACA JUGA Penyiksaan Itu Bernama Sinetron India dan tulisan Sirojul Khafid lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.