Pop Mie Nasi Adalah Inovasi Mi Instan Paling Nggak Penting yang Pernah Ada – Terminal Mojok

Pop Mie Nasi Adalah Inovasi Mi Instan Paling Nggak Penting yang Pernah Ada

Artikel

Avatar

Orang Indonesia emang demen makan mi pake nasi. Mi—dan segala sesuatu yang memiliki rasa gurih—pasti bakal dianggap lauk dan memerlukan nasi sebagai pelengkapnya. Akan tetapi inovasi Pop Mie nasi yang melahirkan varian “PaNas” alias pake nasi dan ngasih nasi beneran di kemasannya, adalah wujud kreativitas yang nggak kreatif.

Maksudnya, alih-alih masukin nasi beneran, kenapa nggak masukin lauk yang sering nongol di kemasan mi instan pada umumnya tetapi pas dibuka yang tersedia hanya mi dan bumbu? Telur, misalnya? Ayam goreng, misalnya? Atau tomat, misalnya? Bukan apa-apa, selama ini publik kan sering kena prank gambar kemasan mi instan.

Bukankah akan sangat heroik apabila Pop Mie menghadirkan telur goreng atau ayam goreng di kemasannya? Biar stand-out dan berasa nempeleng produk mi instan yang suka PHP dengan tampilan di kemasan. Jadinya Pop Mie bisa bikin iklan yang bunyinya, “Semua yang di gambar kemasan, ada beneran!” Welah, sudah pasti bakal geger jagad mi instan Indonesia—bahkan dunia—kalau bener kejadian.

Mbok ya lupakan dulu varian Pop Mie nasi itu. Lagian eksekusinya juga nanggung, soalnya nasi yang tersedia dikit banget. Itu sediet-dietnya orang, porsi nasi yang tersaji di varian Pop Mie nasi terbaru, tetep bakal berasa kurang. Orang biasanya makan mi itu porsi nasi dan minya seimbang, atau justru banyakan nasinya. Lah ini malah sebaliknya, nasi yang tersedia sekadar hiasan nggak penting, sama nggak pentingnya kayak biji selasih di minuman-minuman segar itu.

Udah gitu nyarinya susah lagi. Varian Pake Nasi hanya bisa dibeli secara online dan nggak ada di Indomaret, Alfamart, Circle K, Pamela, Progo, Fortuna, atau warung Mbah Ponirah di samping kos saya. Nggak ada. Jadi saya terpaksa beli lewat Shopee dengan harga dua puluh ribu berisi empat bungkus Pop Mie Pake Nasi. Iya, sekalipun saya rasa varian itu adalah inovasi yang nggatheli, tetapi toh saya penasaran dan pengin beli juga.

Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya pesanan saya datang. Saya, dengan pesimisme yang paling pesimis, akhirnya membuka bungkusan berisi empat Pop Mie rasa soto itu. Pertama yang saya rasakan, Pop Mie memasang kemasan jujur. Di kemasannya hanya ada mie dan nasi, nggak ada pelengkap telur, ayam goreng, atau malah ayam geprek sekalian. Saya terkesima dengan kejujuran si Pop Mie Pake Nasi itu.

Pas saya coba seduh mi dan nasi keringnya itu, si mie mengembang, sementara si nasi dengan ajaib berubah menjadi nasi beneran. Saya cobain dan dugaan saya terbukti benar. Rasanya plek mirip Pop Mie soto yang biasa saya beli dan saya campur nasi sendiri. Nggak ada istimewa-istimewanya sama sekali, bahkan varian soto biasanya lebih memuaskan karena porsi nasi yang saya tambahkan biasanya jauh lebih banyak—ya jelas, wong saya tambah sendiri.

Maka dari itu saya berani menyimpulkan, pun mengajak kalian semua yang mendadak penasaran seperti apa rasanya si Pop Mie Pake Nasi ini untuk memberitahu bahwa rasanya nggak ada bedanya sama varian rasa soto. Juga nggak usah beli kalau mengharap lidah kalian bakal orgasme menikmati kelezatan si Pop Mie nasi ini.

Belilah Pop Mie varian aneh ini, jika dan hanya jika, kalian tertarik Ilmu Pengetahuan Alam, lebih spesifik pada perubahan benda A menjadi benda B. Kalian akan terkesima melihat proses berubahnya nasi kering menjadi nasi matang.

Saya sungguh menyayangkan manuver Pop Mie kali ini. Buat apa repot-repot menambahkan nasi kalo sebagian masyarakat negeri ini sudah sangat tidak asing dengan nasi? Lagian nggak usah dikasih nasi sekalipun, banyak yang bakal nambahin nasi sendiri.

Belum lagi, saya yakin banyak pribadi yang skeptis terhadap segala sesuatu yang ditambahkan sama produk mi instan.

Saya kecewa ketika ada varian mi yang mengklaim menambahkan kerupuk, padahal pas saya beli dan buka, ternyata yang dikasih adalah bayi-bayi kerupuk dan isinya sangat sedikit. Pun yang konon ada rendangnya. Halah, itu cuma irisan daging kering yang bikin lidah gatel. Ada lagi yang mengklaim ada sosisnya, begitu dibuka emang ada sosisnya, tapi hanya dua biji, nggak kayak di kemasannya yang bertebaran di mana-mana itu.

Meski ya sedikit banyak saya tau niat Pop Mie itu bikin penasaran orang-orang kayak saya. Kalau banyak yang penasaran kan pasti viral. Tetapi, kalau emang biar viral dan banyak yang penasaran, mending bikin varian yang ada hadiah emasnya gitu. Misal konsepnya nemuin huruf di balik kemasan dan disusun menjadi tulisan “P-O-P-M-I-E” tetapi huruf E di bagian akhir dibikin super langka, sama langkanya kayak huruf N di kemasan Yosan yang sejauh ini saya masih curiga nggak pernah diproduksi.

Nah, dari semua problematika itu, setelah mencoba Pop Mie nasi, dengan berat hati saya harus memasukkan varian ini ke daftar inovasi mi instan paling nggak masuk akal. Dalam daftar yang saya buat, ada Sarimi Gelas yang mengklaim ada sosisnya itu, ada pula Bakmi Mewah yang ternyata nggak mewah, dan ada pula Mie Lemonilo yang… ah… sudahlah.

BACA JUGA Pop Mie Adalah Teman Perjalanan Jauh yang Hakiki dan tulisan Riyanto lainnya.

Baca Juga:  Mie Gelas Sebagai Mi Instan Terbaik Adalah Kenyataan yang Tak Banyak Disadari Orang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
92


Komentar

Comments are closed.