Mengungsi ke Hotel saat Listrik Padam adalah Kemewahan yang Sulit Kita Lakukan – Terminal Mojok

Mengungsi ke Hotel saat Listrik Padam adalah Kemewahan yang Sulit Kita Lakukan

Artikel

Atanasius Rony Fernandez

Listrik padam massal yang terjadi di sebagian besar Pulau Jawa dan termasuk Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menghebohkan hampir seluruh Indonesia. Banyak orang yang menyebut orang-orang ‘pusat’ itu beruntung karena baru sekali merasakan listrik padam dalam waktu yang lama, sedangkan orang daerah sudah terbiasa merasakan listrik padam. Satu hal yang mengejutkan, ternyata sebagian orang-orang Jakarta yang memiliki kemampuan ekonomi baik mengungsi ke hotel saat terjadi listrik padam. Mengungsi ke hotel adalah satu hal yang sulit dilakukan kita terutama orang daerah, apalagi yang cuma punya gaji sesuai upah minimum daerah masing-masing.

Saya cukup kaget setelah melihat video YouTube Raditya Dika berjudul JAKARTA MATI LISTRIK! BAYI MENGUNGSI KE HOTEL! menduduki trending nomor satu di YouTube. Di video itu diceritakan banyak orang yang mencari hotel untuk mengungsi. Banyak hotel yang seketika penuh, bahkan di lobi hotel dipenuhi oleh orang-orang antri mengungsi sembari mencari listrik  untuk mengisi daya gawai serta mencari pendingin bagi mereka dan anak-anak mereka.

Tentu saja tidak ada yang salah  dari mengungsi ke hotel. Semua orang memiliki hak untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan selagi mereka mampu. Mengungsi ke hotel saat listrik padam, bagaimana pun, tentu sebuah upaya mengungsi yang sangat menarik. Juga harus diakui, tidak semua dari kita bisa melakukannya.

Namun sayangnya, kami atau saya sebagai orang daerah, khususnya yang berkategori kelas menengah—agak ke bawah sedikit—cuma bisa terenyuh sembari menghabiskan kuota internet menonton video YouTube Raditya Dika itu. Seusai menonton video itu, saya dan teman saya yang saya ajak menonton video itu sedikit heran dan kemudian tertawa, karena menertawakan ‘keanehan’ mengungsi ke hotel, sambil menertawakan hidup kami yang ‘pas-pasan’ ini.

Di video itu, Raditya Dika memang tidak ingin memamerkan kekayaan loh, murni karena kebutuhan. Radit pun beberapa kali mengeluhkan biaya hotel yang mahal. Bahkan orang sekaya dia pun tetap merasa menginap di hotel untuk mengungsi termasuk mahal. Artinya, mengungsi ke hotel bukanlah suatu yang lumrah bagi mereka, meski pun tentu bisa kapan saja orang-orang menengah ke atas menginap di hotel. Bisa ditarik simpulan mengungsi ke hotel adalah solusi mereka mengatasi bencana listrik padam dalam jangka waktu yang cukup lama, yang memang sangat jarang mereka rasakan.

Baca Juga:  Perdebatan Penyebutan Mati Listrik Massal Menjadi Mati Lampu yang Tidak Sebanding dengan Dampaknya

Setelah agak heran, kemudian saya bersyukur hidup di daerah. Walau pun sekarang dikatakan tidak ada perbedaan pusat dan daerah, tidak bisa dipungkiri masih adanya ketimpangan antara pusat dan daerah. Masih banyak daerah yang belum teraliri listrik secara merata. Orang di daerah juga sering mengalami listrik padam. Bahkan di awal tahun 2000-an di daerah saya harus merasakan listrik padam berselang satu hari. Di tahun ini pun beberapa kali masih mengalami listrik padam secara bergiliran.

Namun, bagaimana pun, pusat negara memang haruslah dinomorsatukan. Saat terjadi pemadaman listrik secara bergiliran pada malah hari di daerah, sayangnya tidak pernah saya dengar ada kompensasi bagi pelanggan. Padahal saya dan teman-teman saya yang masih sekolah kala itu tidak bisa belajar dengan baik. Kami terpaksa membakar lilin atau lampu minyak untuk sekadar mengerjakan PR. Itu hampir tiap hari dilakukan. Mungkin karena sering membaca dan menulis dengan nyala lilin yang redup membuat mata saya minus. Mata minus yang saya alami tentu saja bukan suatu hal yang begitu penting dipikirkan negara. Mau mengeluh pun saat itu ya percuma, besoknya pun listrik akan padam lagi.

Berbagai kepanikan seperti mencari hotel agar bisa segera mengisi daya gawai dan mencari pendingin, syukurnya tidak kami—orang di daerah—rasakan. Menginap di hotel adalah kemewahan, tapi kemewahan hakiki yang kami rasakan adalah kami tidak perlu mencari ruangan berpendingin karena udara di daerah kami masih segar. Apalagi saat listrik padam, udara seketika lebih mendingin karena paparan cahaya dan panas dari lampu tidak ada.

Memang sih karena sering menghadapi listrik padam, jadi sudah terbiasa menyiapkan solusinya. Kalau listrik padam orang yang sudah terbiasa mengalaminya akan mempersiapkan genset untuk tetap membuat lampu menyala atau sekadar agar ikan koi bisa tetap hidup. Atau bisa menyalakan kipas angin kalau merasa gerah. Anu, dulu keluarga saya tidak mampu membeli genset, jadi ya solusinya cuma dengan lampu minyak atau lampu petromak.

Namun, kadang perdebatan hanya asyik di wilayah orang pusat beruntung dan orang daerah tidak beruntung. Kondisi listrik padam massal yang lalu menegaskan bahwa kondisi ketersediaan energi di negara kita belum baik. Di pusat negara saja listrik bisa padam berjam-jam dan melumpuhkan sebagian aktivitas masyarakat, apalagi di daerah, bukan? Ini tentu menjadi PR berat yang harus dicarikan solusinya oleh pemerintah. (*)

Baca Juga:  Membedah Sistem Kemitraan OYO dari Sudut Pandang Pemilik Hotel

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
7


Komentar

Comments are closed.