Mengulik Film Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw

Pada film Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw, intinya adalah hati. Fokus pada hati manusia. Kita boleh saja punya teknologi canggih.

Artikel

Avatar

Kata guru SMA saya, kalau mau menghemat nonton bioskop, lihat saja spanduk yang tergerai dari dinding bioskop. Itu zaman dulu, ketika masih pakai spanduk melambai-lambai di luar tembok bioskop. Sekarang pun ada yang berpendapat, nonton bioskop kok bayar? Kan nontonnya pakai mata kita sendiri! Ya, kan?

Bagi sebagian orang, menonton bioskop memang bisa jadi hiburan. Melepas penat, cenat bahkan cenut juga. Memanjakan mata dengan film-film keren dan bagus, duduk di kursi empuk dan tidak ada di rumahmu, dibekali dengan makanan dan minuman seadanya. Tidak perlu banyak, sehingga kulkas dari rumah tidak perlu sampai dibawa ke situ.

Namun, memilih tayangan film bioskop itu tidak boleh sembarangan. Kita perlu melihat bibit, bobot, dan bebetnya. Mengulik ulasan di internet, filmnya tentang apa, untuk umur berapa saja, bintang filmnya siapa, kira-kira bagaimana ceritanya, jumlah krunya berapa—halah—dan terakhir adalah harga tiketnya berapa? Mau nonton sendiri atau bersama keluarga. Saya tidak bilang nonton bareng pacar lho ya! Soalnya nanti yang di film bisa jadi malah nonton kamu dan pacar yang mau bikin film sendiri.

Katanya orang, film itu ada beberapa macam. Ada film drama, komedi, horor, petualangan, fiksi ilmiah, dan action atau biasanya berupa berbau kekerasan. Padahal semua film itu pada dasarnya adalah film action. Itu buktinya, ketika akan memulai adegan, sutradara akan mengatakan, “action!

Dalam tulisan ini, akan mencoba untuk membahas satu film balap-balapan, tembak-tembakan, pukul-pukulan dan tentu kepura-puraan yaitu Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw. Bagi yang mengikuti, film itu kan merupakan semacam serial dari film-film Fast & Furious sebelumnya ya?

Film ini memang lebih fokus kepada aksi jalanan, memakai mobil-mobil mewah dan harganya auto-mahal. Bila berpikir, kok bisa ya mobil-mobil semacam itu malah untuk balapan? Bagaimana kalau lecet? Bagaimana kalau rusak? Mungkin itulah sisi dari profesionalitas orang barat. Mereka bikin film memang tidak main-main. Seharusnya ketika kita punya hobi positif, juga mesti ditekuni serius, jangan main-main!

Baca Juga:  Menjadi Aku Tidak Sekadar Menjadi Aku

Musuh Kuat

Agar film action itu terasa lebih menarik penonton dan mendorong semangat mereka untuk terus menonton, maka harus dipasang musuh yang cukup kuat, bahkan sangat kuat. Sejak awal, film ini menampilkan Brixton yang merupakan karakter garang, tenang dan cukup menakutkan. Punya pukulan maut, pokoknya terlihat susah dikalahkan. Dari situ penonton digiring, tokoh jahat ini apakah akan bisa dikalahkan oleh Hobbs dan Shaw?

Pertarungan Teknologi Semua dan Teknologi Samoa

Hattie Shaw yang telah memasukkan virus berbahaya ke dalam tubuhnya ingin mengeluarkan virus itu. Brixton jelas juga ikut mengincar karena formula itu darinya. Orang yang bisa menolong Hattie adalah saudara Hobbs yang tinggal di Pulau Samoa. Nah, Brixton mengetahui dua musuh besarnya ada di pulau itu, makanya dia mengerahkan pasukan canggih.

Berkat kecerdasan Hobbs dan Shaw serta orang-orang Samoa, maka teknologi senjata Brixton dan pasukannya menjadi melempem untuk sementara saja. Pada akhirnya, perlawanan dari Samoa berhasil melumpuhkan serangan pasukan itu. Khas film baratlah, yang protagonis yang menang.

Bangga dengan Teknologi

Pelajaran yang menarik dari film ini justru di endingnya. Atau di bagian akhirnya. Mengapa menarik? Apakah mau segera ke kamar mandi karena menahan buang air kecil? Bisa jadi. Namun, di sini ada sebuah kaidah dari film ini, bahwa rupanya masih ada yang lebih baik daripada teknologi. Apakah itu?

Jawabannya adalah hati. Itu yang dikatakan oleh Hobbs, yang diperankan oleh atlet gulat Smack Down, The Rocks. Brixton merasa bangga dengan semua teknologinya. Tubuh yang kuat, bisa menganalisis kekuatan lawan, bahkan mampu membalikkan serangan. Namun, kerja sama yang baik antara Hobbs dan Shaw, justru berhasil mengalahkan Brixton.

Baca Juga:  Livi Zheng adalah Kita

Pada tubuh Brixton itu mirip dengan film zaman dulu: The Six Million Dollarman, yang bisa lebih cepat dan kuat daripada manusia biasa. Atau mirip dengan Becky yang menjadi musuh Captain America, meskipun pada akhirnya jadi tokoh protagonis juga.

Teknologi dapat membuat manusia menjadi lebih pintar. Gawai misalnya. Betapa banyak di antara kita yang merasa pintar, pandai, cerdas, dan smart karena ke mana-mana bawa gawai. Akhirnya, membaca sedikit, tetapi merasa tahu banyak. Sebar sana, sebar sini, yang belum tentu benar.

Padahal seperti dalam film Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw, intinya adalah hati. Fokus pada hati manusia. Kita boleh saja punya teknologi canggih. Boleh punya handphone keren. Mampu memiliki jaringan internet super lancar. Namun, semua itu mau kita gunakan untuk apa? Untuk kebaikan ataukah kejahatan? Untuk yang berguna ataukah sia-sia?

Berguna misalnya untuk belajar, membaca yang perlu, menambah ilmu, agar kebodohan itu bisa berlalu. Namun, jika tidak berguna, untuk galau-galauan, ngerjain orang, sebar hoax, akhirnya kepintaran pun makin tak beraturan. Jangan sombong bila punya teknologi canggih! Karena bila hati si pemakai belum bisa baik, maka teknologi itu juga akan menjadi masalah pelik. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
---
639 kali dilihat

14

Komentar

Comments are closed.