Membuang Sampah Sendiri Seusai Nonton di Bioskop adalah Perkara Kemanusiaan

Beberapa waktu lalu ramai perdebatan di antara netizen tentang perlunya penonton di bioskop membawa keluar sampah bekas makanan mereka.

Artikel

Beberapa waktu lalu ramai perdebatan di antara netizen tentang perlunya penonton di bioskop membawa keluar sampah bekas makanan mereka. Ada pihak yang setuju dan ada yang tidak setuju pada wacana itu. Awalnya, saya tidak begitu peduli pada perdebatan itu, hingga pada suatu ketika saya menonton film tentang superhero yang tengah digandrungi masyarakat. Tak ada satu pun kursi kosong. Setelah itulah saya merasa bahwa membuang sampah sendiri seusai menonton di bioskop adalah perkara kemanusiaan.

Mungkin judul tulisan ini terkesan berlebihan bagi sebagian orang. Bagi yang tidak setuju  penonton membawa keluar sampahnya sendiri, kebanyakan beralasan bahwa petugas kebersihan bioskop sudah digaji. Jika kita membantu mereka dikhawatirkan malah membuat mereka tidak bisa bekerja lagi, karena pekerjaan mereka sudah diambil alih oleh penonton.

Saya menonton film superhero yang mulai tayang pekan lalu itu di jam prime time. Penonton sangat banyak, benar-benar tak ada kursi kosong di dalam studio, bahkan kursi terbawah dekat layar pun terisi. Hampir semua orang membawa makanan dan minuman. Film itu berdurasi cukup panjang lebih dari dua jam, dan parahnya tayangan paling penting ada di ujung film seusai credit  film. Saya dan sebagian besar penonton harus rela menunggu sembari menahan pipis.

Ketika film benar-benar usai saya segera berlari keluar bioskop untuk ke kamar kecil, karena terburu-buru saya lupa membawa sampah bekas makanan saya. Ketika saya berjalan dengan cepat menuju pintu keluar, saya melihat tiga orang petugas kebersihan dengan peralatan lengkap menunggu di sisi lain studio yang cukup gelap. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan. Saya ke kamar mandi dan menyelesaikan urusan itu hanya dalam waktu sekitar tiga menit.

Baca Juga:  Miskin Enggan, Kaya Tak Mampu

Ketika saya melintasi depan studio tempat saya menonton tadi, ternyata  studio itu sudah kembali dimasuki oleh segerombolan penonton lainnya di jam tayang berikutnya. Seketika saya terenyuh. Gila, bagaimana caranya petugas kebersihan itu bisa membereskan semua sampah di dalam satu studio dalam waktu sekejap? Saya benar-benar merasa sangat bersalah.

Iya, itu memang sudah pekerjaan mereka. Namun mari kita bayangkan mereka harus membersihkan tak kurang dari 200 kursi dalam waktu sekejap, yang saya yakin kurang dari lima menit. Sebelumnya saya tidak begitu merisaukan perdebatan soal membawa keluar sampah. Karena awalnya saya berpikir pasti ada jeda cukup panjang bagi petugas kebersihan untuk menyelesaikan tugasnya. Ternyata saya salah, setelah saya melihat sendiri, ternyata tidak ada waktu yang panjang bagi mereka menyelesaikan tugasnya.

Coba kita bayangkan, misalnya kita bekerja dengan tugas yang sudah jelas, tiba-tiba atasan memberikan tambahan tugas dalam waktu yang sangat singkat dan harus dengan hasil yang bagus. Kebanyakan dari kita pasti gusar dan menggerutu. Apalagi petugas kebersihan yang harus berjuang membersihkan setiap bagian dari kursi agar penonton berikutnya bisa nyaman. Itu memang sudah tugasnya dan bukan merupakan tambahan pekerjaan, hanya saja waktu yang sangat singkat pasti akan membuat mereka menguras tenaga lebih besar dari biasanya.

Sampah di dalam gedung bioskop tidak hanya berupa bekas botol minum atau kertas pembungkus pop corn. Banyak juga remahan pop corn  berjatuhan di sela-sela kursi dan lantai, belum lagi sampah berbentuk cairan. Untuk membersihkan itu semua dituntut kejelian dan ketangkasan yang lebih. Petugas kebersihan itu akan bekerja dua kali lebih keras yang diperberat dengan waktu yang sangat singkat.

Baca Juga:  Menanyakan Motif Plagiasi Status Agus Mulyadi

Saya dan kebanyakan dari kita mudah simpati pada posting-an di media sosial tentang seorang tua renta yang berjualan. Kita akan beramai-ramai membeli di para penjual itu karena merasa iba. Itu tandanya kita memiliki rasa kemanusiaan. Jika melihat petugas kebersihan bioskop yang harus bekerja dengan lebih keras dan dalam waktu yang sangat singkat, apakah tidak bisa mengusik rasa simpati kita?

Begini, tak perlu kita berbuat besar jika rasa kemanusiaan di dalam diri kita terketuk melihat mereka bekerja. Sederhana saja, seusai menonton kita membawa keluar sampah bekas makanan kita masing-masing. Saya yakin sampah itu tidak berat, tidak mungkin sampah bekas makanan yang kita bawa beratnya sampai 50 kilogram, bukan? Toh itu sampah bekas makanan yang kita bawa masing-masing. Petugas kebersihan tinggal membersihkan sampah yang luput dari pandangan kita. Setiap bioskop juga menyediakan tempat sampah yang mudah diakses, kita hanya tinggal membuang sampah di tempat sampah yang disediakan. Selesai perkara!

Iya, sesederhana itu untuk bisa saling memberikan simpati kepada sesama manusia. Setiap pekerjaan memiliki risikonya masing-masing, tapi jika kita bisa membantu orang lain dan sedikit meringankan tugas mereka, tentu semakin baik lagi.

---
642 kali dilihat

21

Komentar

Comments are closed.