Mengubah Kuota Pendidikan Jadi Kuota Utama Itu Bukan Tindakan Korupsi – Terminal Mojok

Mengubah Kuota Pendidikan Jadi Kuota Utama Itu Bukan Tindakan Korupsi

Artikel

Ayu Octavi Anjani

Kalian yang pelajar dan mahasiswa pasti tau dong kalau pemerintah memberikan bantuan atau subsidi kuota sebesar 50GB kepada pelajar dan mahasiswa. Jumlah kuota yang dibagikan besarnya beda-beda. Adik saya yang masih kelas dua SMA hanya dapat kuota sebesar 35GB.

Lantas, apasih gunanya kuota subsidi dari pemerintah yang besarnya nggak nanggung-nanggung itu? Yup, fungsinya untuk mengakses segala macam situs pendidikan dan aplikasi tatap muka daring. Contohnya Ruang Guru, Zenius, Edmodo, dan lain sejenisnya. Sedangkan aplikasi tatap mukanya seperti Zoom dan Google Meet.

Saya pribadi sebenarnya sangat terbantu dengan adanya bantuan subsidi kuota dari pemerintah ini. Hanya saja jujur kuota yang saya peroleh nggak terpakai sama sekali oleh saya karena saya menggunakan paket internet unlimited per bulannya. Kebetulan saya dapat sebesar 50GB. Wah, itu mah bukan lumayan lagi tapi berlebih buat saya.

Saya cukup aktif berselancar di beberapa media sosial seperti Instagram dan Twitter. Dari sanalah saya membaca, mencermati, dan memahami watak para pengguna media sosial alias netizen medsos dengan berbagai opini yang dituangkan melalui cuitan-cuitan mereka. Salah satunya tentang kuota belajar dari Kemendikbud yang berlebih bahkan nggak terpakai.

Kalau menurut saya, kira-kira kuota 50GB itu malah masih bersisa meskipun sudah dipakai sebulan penuh hanya untuk membuka situs-situs belajar dan aplikasi tatap muka.

Jadi, sisanya masih banyak dan sayang dong kalau tidak digunakan dengan semestinya. Lalu bagaimana? Mau dibiarkan mubazir begitu saja? No way!

Akhirnya banyak orang yang mencoba untuk mengubah kuota pendidikan menjadi kuota utama atau kuota biasa. Nggak jarang mereka membagikan tutorialnya juga! Wah, saya kadang percaya nggak percaya sih dengan tutorial semacam ini. Tapi, kalau memang ini berhasil lumayan kuota pendidikannya nggak terbuang sia-sia alias nggak mubazir kan.

Baca Juga:  Siksakubur Jadi ‘Musisi Istana’: Metalheads Kecewa

Silahkan dibayangkan kuota pendidikan sebesar 50GB hanya digunakan untuk mengakses situs-situs belajar dan aplikasi tatap muka. Saya pikir besar kuota yang terkuras tidak akan besar terlebih lagi tidak semua pelajar hanya menggunakan situs belajar dan aplikasi tatap muka itu. Tahu kan kalau pengetahuan itu bisa diakses dari mana saja? Nah, ini dia masalahnya.

YouTube jadi salah satu kanal sekaligus sumber materi bagi para pelajar selain situs-situs belajar yang saya sebutkan di atas. Sebagai contoh, adik saya banyak sekali mendapatkan tugas membuat berbagai macam video lalu diunggah ke YouTube bahkan IGTV. Tugas-tugas semacam itu tidak hanya sekali atau dua kali dilakukan, tapi berkali-kali. Saya sampai mikir kalau kuota pendidikan itu gunanya kecil sekali. Wqwqwqw.

Jadi, sah-sah saja dong kalau kuota pendidikannya diubah jadi kuota utama atau kuota biasa. Banyak netizen yang mengatakan kalau orang-orang yang membuat tutorial semacam ini adalah mereka dengan mental koruptor bahkan dikatakan sebagai bibit-bibit koruptor. Waduh. Kacau! Kok bisa? Padahal mereka niatnya membantu supaya kuota pendidikan nggak terbuang percuma.

Kuota pendidikan ini kan sudah diberikan pada pelajar dan mahasiswa. Semestinya boleh lah kalau digunakan sesuai kebutuhan pelajar dan mahasiswa juga mengingat tidak semua pelajar hanya mengakses situs-situs pendidikan dan aplikasi tatap muka saja. Buktinya ada yang sampai ke YoutTbe demi tugas.

Kalau saya bisa bilang, upaya pemerintah memberikan bantuan atau subsidi kuota dengan jumlah besar itu bagus. Justru sangat bagus. Namun, apakah pembagian untuk pemakaiannya sudah benar? Sudah tepat? Bagi saya sih belum. Mengapa belum? Buktinya masih banyak pelajar dan mahasiswa yang mengeluhkan sisa kuota yang mubazir karena tidak terpakai.

Baca Juga:  Mengungkap Misteri Kenapa Kamar Mandi Suka Jadi Tempat Munculnya Ide-Ide Brilian

Bukankah lebih baik kalau kuota sebesar itu dibagi secukupnya tanpa ada sisa yang terbuang. Ditambah lagi tidak ada salahnya kalau kuota pendidikan diubah menjadi kuota utama agar setiap pelajar yang mengakses sumber pengetahuan lain dapat menggunakannya juga.

Lagian kuota bisanya dipake di mana, tapi mengunggah dan mengunduh tugasnya di mana. Hadeh.

Akhirnya, saya kurang, bahkan hampir tidak setuju jika orang-orang yang memberikan tutorial ini disamakan dengan koruptor karena tidak merugikan pihak manapun. Tinggal bagaimana kontrol penggunaan kuota tersebut tergantung para penggunanya.

BACA JUGA Menolak Lupa pada 10 Permainan GameHouse yang Mewarnai Masa Kecil Kita dan tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
25


Komentar

Comments are closed.