Dear Trans7, kalau Menayangkan MotoGP Mbok Ya Sampai Selesai! – Terminal Mojok

Dear Trans7, kalau Menayangkan MotoGP Mbok Ya Sampai Selesai!

Artikel

Avatar

Semakin ke sini gelaran MotoGP yang ditayangkan di Trans7 semakin seru. Faktor penyebabnya adalah selalu ada kejutan di setiap serinya. Berbeda dengan beberapa tahun terakhir yang podium satu selalu dikuasai pembalap Honda yaitu Marc Marquez. Pada musim 2020 ini hampir setiap seri pasti selalu pembalap berbeda yang menduduki podium satu. Nggak peduli pembalap dari tim pabrikan atau tim satelit, semuanya berpeluang memenangkan balapan.

Musim 2020 ini juga menyuguhkan berbagai torehan baru, misalnya ada kejutan saat Mbah Rossi kembali naik podium setelah terakhir didapatkan di tahun 2017. Ada runtuhnya dominasi Spanyol-Italia di Moto GP. Ada juga tim satelit yang menjuarai balapan, yaitu tim Yamaha Petronas dengan pembalapnya Fabio Quartararo. Ada pula kejutan di seri ketiga yaitu untuk pertama kalinya tim KTM bisa podium satu. Bahkan untuk pertama kalinya ada pembalap Afrika Selatan yang podium satu.

MotoGP 2020 memanglah sangat seru dan penuh kejutan. Namun, ada satu hal yang membuat pengalaman saat menontonnya berkurang. Hal tersebut adalah soal kebiasaan buruk Trans7 sebagai Official Broadcaster MotoGP di Indonesia yang seringnya memangkas waktu tayang dari MotoGP itu sendiri.

Hal semacam itu tentu sangat disayangkan. Pasalnya orang-orang yang suka nonton MotoGP ini bukan hanya suka nonton balapannya. Para penonton ini, termasuk saya, juga suka tayangan saat para juara itu melakukan selebrasi. Suka juga pas si juara satu nyanyi lagu kebangsaannya. Terlebih saat para pembalap ciprat-cipratan khamr itu, seru gitu lihatnya. Dan lucunya, setelah balapan itu nggak dibahas lagi soal bagaimana jalannya balapan, nggak dibahas juga statistiknya. Pokoknya selesai balapan, lima menit kemudian dipotong.

Nah, di situ letak kesalahan dari Trans7, sering kali memotong siaran saat pembalap mau nyanyi lagu kebangsaan. Kadang malah belum penyerahan piala sudah dipotong. Dari situ penonton baru mau bahagia, eh malah dipotong, nggak jadi ikut bahagia deh.

Padahal acara yang tayang setelah MotoGP cuma OVJ. Iya, OVJ, yang kata orang-orang sudah nggak lucu lagi itu. Saya jadi bingung sama Trans7 nih. Masa lebih memberatkan OVJ yang tidak terlalu disukai orang-orang daripada MotoGP yang hampir tidak ada celah untuk tidak sukai orang-orang. Saya kasih tahu ya, wahai Trans7. Dari sepuluh orang yang menonton MotoGP, sembilan orang akan mengganti ke saluran lain setelah mengetahui bahwa tayangan selanjutnya adalah OVJ. Dan, dari sembilan orang tadi, ada saya, pakde saya, teman-teman saya, dan juga guru ngaji saya.

Bayangkan! Berapa penonton yang pergi setelah siaran Moto GP berakhir? Saya ada beberapa saran sih, tujuannya untuk membantu Trans7 supaya waktu tayang Moto GP ini bisa paripurna. Biar para penonton nggak langsung meninggalkan Trans7 setelah tayangan MotoGP berakhir.

Saran yang pertama adalah potong saja tayangan Moto2, soalnya ajang Moto2 ini nggak terlalu banyak peminatnya. Belum lagi, balapan berasa tidak terlalu menarik sebab nggak kenal-kenal amat sama pembalapnya. Jadinya, nanti tayangan MotoGP-nya yang dibuat lebih panjang.

Saran selanjutnya adalah pindahkan jam tayang dari OVJ. Tadi kan jam tayang dari Moto2 sudah dipangkas, jadi tayangan OVJ dipindah sebelum MotoGP saja. Kalau durasi dari Moto2 nggak cukup, coba deh potong dari acara sebelumnya sama kayak motong tayangan MotoGP gitu.

Saran ketiga adalah hapus saja tayangan OVJ di hari digelarnya MotoGP. Ini untuk kemaslahatan bersama. Soalnya pada hari itu orang-orang sudah terhibur dengan Moto GP-nya, sudah nggak butuh hiburan lagi. Kalau dipaksakan malah takutnya orang-orang semakin benci sama OVJ, “Halah OVJ iki gaweane motong GP tok!” takutnya pada sambat kayak gitu.

Saran keempat sekaligus yang terakhir. Saran ini bertujuan supaya orang-orang yang baru nonton MotoGP nggak langsung pergi meninggalkan Trans7. Setelah tayangan MotoGP, buatlah program lain yang juga membahas soal MotoGP juga. Jadi nanti isi programnya membahas soal jalannya balapan, bahas statistik para pembalap, bahas konflik-konflik yang terjadi selama balapan, dan hal lain yang berhubungan sama balapan. Kalau nggak bisa buat program baru, setidaknya tambah lagi satu segmen untuk membahas balapan yang baru saja tayang.

Segitu saja kritik dan saran saya buat Trans7. Saya sangat berharap para kru mau mendengarkan dan mempertimbangkan beberapa saran saya tadi. Yakin deh sama saya, orang-orang nggak langsung pergi ninggalin channel kalian. Tapi, kalau masih ngeboti OVJ ya silakan. Saya akan langsung ganti TV lain setelah MotoGP berakhir.

BACA JUGA Balada Program Televisi yang Makin Hari Makin Berisik Saja dan tulisan Imron Amrulloh lainnya.

Baca Juga:  Dilema Program Jejak Si Gundul: Judul Sangar, Ternyata Cuma Acara Kuliner

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.