5 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Orang tentang Aceh – Terminal Mojok

5 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Orang tentang Aceh

Artikel

Avatar

Sewaktu kuliah dulu, saya sering sekali mendapatkan berbagai macam pertanyaan tentang daerah kelahiran saya. Sebagai informasi, saya lahir dan besar di provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Nagan Raya. Ya saya paham, kalian pasti tidak pernah mendengar nama daerah tersebut kan.

Pada 2012, saya merantau dan melanjutkan pendidikan di kota Malang. Di Bumi Arema tersebut saya sukses bertahan selama delapan tahun, sebelum akhirnya pada 2020 ini memutuskan untuk pulang dan kembali ke Aceh setelah ditinggal nikah menyelesaikan kuliah.

Selama hidup di Malang, saya banyak bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah. Setiap saya memperkenalkan diri dan menyebutkan bahwa saya berasal dari Aceh, selalu ada pertanyaan berikutnya yang keluar dari bibir mereka. Berikut ini lima pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tentang daerah kelahiran saya, Aceh.

Pertanyaan pertama, “Dulu kena tsunami nggak?”

Pertanyaan ini menduduki peringkat pertama dalam chart pertanyaan seputar Aceh. Bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 2004 silam memang cukup menghebohkan. Tidak hanya di Indonesia, tapi ke seluruh dunia. Bencana yang merenggut kurang lebih 200 ribu korban jiwa tersebut sungguh tidak mudah dilupakan begitu saja. Pemberitaan yang tiada henti saat itu dan betapa mengerikannya kejadian tersebut, masih membekas hingga saat ini. Maka tak heran, setiap mendengar kata Aceh, yang langsung terlintas dipikiran orang-orang adalah tsunami. Alhamdulilah, saya dan keluarga tidak terkena tsunami pada saat itu karena rumah kami jauh dari laut. Tapi, beberapa teman dan saudara ada yang menjadi korban.

Pertanyaan kedua, ”Orang Aceh pake ganja nggak sih?”

Sepanjang saya hidup, saya belum pernah melihat ibu saya memasak sayur dengan menggunakan daun ganja. Paling banter ya ibu saya memasak sayur dengan daun singkong/daun ubi yang bentuknya agak mirip dengan daun ganja. Saya juga tidak pernah melihat pedagang di pasar menjual bumbu dapur yang terbuat dari ganja. Jadi kalau ditanya, apakah masakan Aceh menggunakan bahan dari ganja, jawaban saya adalah “tidak tahu” karena saya belum pernah menemukan dan merasakannya.

Saya sebenarnya agak bingung, dari mana orang-orang mengira masakan Aceh ada campuran ganjanya? Dugaan saya, hal ini muncul lantaran banyaknya kasus penangkapan pengedar ganja yang berasal dari Aceh. Sehingga orang menganggap, saking banyaknya ganja, sampai dijadikan sayur. Tapi, itu hanya dugaan saya saja, bisa benar bisa juga salah.

Perihal penggunaan ganja dalam masakan saya memang sempat pernah mendengarnya. Konon, dulu orang Aceh menggunakan biji ganja sebagai bumbu masakan untuk menambah cita rasa. Setelah ditemukannya micin dan kawan-kawannya serta pelarangan penggunaan ganja, orang tidak lagi menggunakan biji ganja sebagai bahan masakan. Kan nggak lucu, kalau nanti  lagi enak-enak masak tiba-tiba datang polisi.

Pertanyaan ketiga, ”kalau nggak pakai jilbab dicambuk ya?”

Pertanyaan ini muncul dari kalangan kaum Hawa. Mereka penasaran dengan aturan berbusana di bumi Serambi Mekkah ini. Apalagi mereka sering melihat pemberitaan di televisi tentang hukuman cambuk yang diterapkan di Aceh. Ya, Aceh memang dikenal sebagai salah satu daerah dengan syariat Islam yang ketat. Bahkan Aceh mempunyai qanun (aturan) yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk mengatur tentang cara berpakaian di tempat umum. Meskipun begitu, Aceh bukanlah daerah yang kaku. Aceh adalah daerah yang cukup mempunyai rasa toleransi dan tidak seburuk apa yang ditampilkan di televisi. Asal bisa menyesuaikan diri, rasanya-rasanya tidak ada yang perlu ditakuti. Toh di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung bukan ?

Pertanyaan keempat, “Aceh aman nggak?”

Masa kelam beberapa tahun silam memang meninggalkan memori tersendiri. Perseteruan antara GAM dan pemerintah membuat daerah ini menjadi salah satu daerah “gawat” di Indonesia. Sehingga banyak orang yang meragukan keamanan daerah di ujung pulau sumatera ini. Tapi, setelah perdamaian, kondisi berangsur membaik. Aceh sudah berada dalam kondisi sangat aman dan nyaman. Masyarakatnya sudah bisa hidup saling berdampingan. Meskipun sesekali terjadi gesekan, tapi itu masih dalam batas kewajaran. Daerah lain pun juga sering begitu bukan ?

Pertanyaan terakhir, “Pulau Sabang bagus nggak?”

Jujur, saya belum pernah menginjakan kaki saya di Pulau Sabang. Jarak yang agak sedikit jauh dari rumah, serta belum adanya waktu yang tepat, membuat saya belum sempat menyambangi lokasi titik kilometer nol ini berada. Sehingga saya tidak bisa menjawab bagus atau tidaknya pulau Sabang. Lagian penilaian bagus atau tidaknya juga relatif ya. Tergantung dari apa yang diharapkan oleh orang yang akan melihatnya. Tapi, Sabang merupakan salah satu tempat wisata yang paling direkomendasikan jika berkunjung ke Aceh.

So, itulah lima pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tentang Aceh. Jika penasaran, langsung saja datang dan main, jangan hanya melihat berita di televisi yang seringkali “tidak sesuai” dengan kenyataan.

BACA JUGA Kesal dengan Teman yang Jualan di Akun Instagram Pribadinya. Norak Sumpah dan tulisan Ardi Ficri Harahap lainnya.

Baca Juga:  Setelah Mencicipi Mi BonCabe, Menarik Jika Merek Lain Ikutan Bikin Mi Instan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5

Komentar

Comments are closed.