Menguak Alasan Keluarga Weasley Hidup Miskin padahal Berdarah Murni – Terminal Mojok

Menguak Alasan Keluarga Weasley Hidup Miskin padahal Berdarah Murni

Artikel

Raden Muhammad Wisnu

Ada hal menarik dari tujuh buku dan delapan film Harry Potter, yakni keluarga Weasley yang berdarah murni justru digambarkan sangat miskin sampai selalu jadi bahan olok-olokan Draco Malfoy dan anak-anak Slytherin lainnya.

Mulai dari jubah Ron Weasley yang merupakan jubah lungsuran dari ketiga kakaknya, tongkat Ron yang merupakan tongkat bekas Bill Weasley, kakak sulungnya, sapu terbang Ron yang sangat murah, yang selalu diolok-olok Draco Malfoy dan anak Slytherin lainnya saking bututnya. Bahkan ketika tongkat Ron patah di buku kedua, Ron hanya menambalnya dengan selotip sihir dan baru mendapat tongkat baru di buku ketiga saat keluarga Weasley menang undian sebesar 700 Galleon dari Daily Prophet.

Padahal kepala keluarga mereka, Arthur Weasley ini bekerja di Kementrian Sihir Inggris pada Departemen Penyalahgunaan Barang-barang Muggle. Arthur ini PNS lho, kerja di Kementerian Sihir di London, tapi kenapa sengsara sekali hidupnya? Padahal PNS Kementrian di Jakarta saja hidupnya itu lebih daripada PNS di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Untuk menjawab itu, mari kita telisik satu persatu alasannya.

#Keluarga Weasley terlalu banyak anak

Arthur dan Molly Weasley sebenarnya adalah keluarga berkecukupan yang berasal dari keluarga berdarah murni. Sebagai PNS Kementrian Sihir, saya yakin gaji Arthur ini di atas UMK London. Salah satu faktor utama kenapa mereka malah hidup miskin di The Burrow adalah karena Arthur dan istrinya ini memiliki tujuh orang anak! Bill Weasley, Charlie Weasley, Percy Weasley, Fred dan George Weasley, Ronald Weasley, dan Ginny Weasley.

Tentu saja pada awal mereka membentuk keluarga, kehadiran Bill Weasley dan Charlie Weasley tidak akan terlalu mengganggu keuangan keluarga mereka. Terlihat dari barang-barang yang mereka gunakan selalu barang baru. Keduanya juga menjabat sebagai Prefek dan Ketua Murid di Hogwarts.

Namun, semuanya berubah ketika Percy Weasley lahir, yang kemudian lalu disusul oleh kelahiran Fred dan George Weasley, lalu Ron Weasley, dan terakhir Ginny Weasley, yang membuat keluarga Weasley harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang lain.

Meskipun Hogwarts disubsidi oleh Kementrian Sihir Inggris sehingga biaya pendidikannya gratis, mereka tetap harus memberi makan mereka ketika liburan musim panas di rumah bukan? Belum lagi membeli tongkat untuk masing-masing anak, kuali untuk masing-masing anak, buku, burung hantu, dan sejumlah kebutuhan sekolah lainnya. Ini belum ditambah pajak penghasilan, iuran BPJS, PBB, PDAM dan sejumlah tagihan lainnya yang mungkin ada di Dunia Sihir.

Mereka memiliki banyak anak bukan karena percaya bahwa banyak anak banyak rezeki, tapi Molly Weasley dari dulu menginginkan anak perempuan sehingga mereka terus mencoba membuat anak dan baru terlaksana di anak ketujuh mereka, Ginny Weasley.

#Arthur Weasley terlalu mencintai pekerjaannya

Arthur Weasley dikenal sebagai pecinta Muggle meskipun dia berdarah murni. Sampai-sampai keluarga Weasley dijuluki Darah Pengkhianat oleh Dunia Sihir karena kecintaan Arthur pada Muggle. Dia gemar mengoleksi barang-barang Muggle seperti radio, mobil, dan barang-barang lainnya. Dia begitu suka bahwa Muggle bisa bertahan hidup tanpa sihir sama sekali. Bahkan ambisinya adalah ingin tahu bagaimana pesawat terbang ini bisa melayang di angkasa.

Saking cintanya pada Muggle, Arthur Weasley ini cukup berpuas diri untuk terus bekerja di Departemen Penyalahgunaan Barang-Barang Muggle yang merupakan departemen dengan anggaran yang sangat minim di Kementerian Sihir sehingga gajinya tidak sebanyak departemen lainnya. Bahkan dia tidak menerima upah lembur atau bonus natal. Dia juga tidak mengalami kenaikan gaji sejak pertama kali menjadi PNS di sana sehingga keuangan keluarga Weasley ini benar-benar terpuruk. Ini yang selalu jadi bahan olok-olokan Lucius Malfoy.

Bahkan anak ketiga Arthur, Percy Weasley berani meninggalkan keluarganya demi kariernya dan mengatakan bahwa ayahnya tidak memiliki ambisi sama sekali ketika baru saja lulus dari Hogwarts. Pada tahun pertamanya bekerja sebagai PNS di Kementrian Sihir dia sudah menjabat sebagai PNS di Departemen Kerjasama Sihir Internasional di bawah komando Barty Crouch Senior. Beberapa bulan kemudian, dia menjabat sebagai Asisten Pribadi Barty Crouch Senior. Satu tahun setelahnya, Percy bahkan menjabat sebagai Asisten Muda Menteri Sihir.

Ini jauh sekali dibandingkan Arthur Weasley yang tidak pernah naik gaji dan naik jabatan sejak pertama kali jadi PNS di sana. Hanya di tahun keenamnya saja dia naik jabatan, memiliki gaji yang lebih besar, serta sejumlah anak buah yang melapor padanya setiap hari ketika diangkat sebagai Kepala Kantor Pendeteksian dan Penyitaan Mantra Pertahanan dan Benda Perlindungan Palsu.

#Molly Weasley yang memilih jadi ibu rumah tangga seutuhnya

Tentu saja keuangan keluarga Weasley akan jauh lebih baik jika Molly Weasley memilih untuk bekerja, baik sebagai PNS di Kementrian Sihir Inggris, ataupun jenis pekerjaan lainnya di Dunia Sihir. Tapi, Molly Weasley ini memiliki jiwa keibuan yang sangat besar, tidak saja untuk ketujuh anaknya, tetapi juga dia menyalurkan jiwa keibuannya untuk Harry Potter dan Hermione Granger yang dia sayangi sebagaimana tujuh anaknya.

Molly Weasley memilih untuk menjadi sosok ibu sepenuhnya di rumah agar ketujuh anak mereka dapat diurus dengan baik dan penuh kasih sayang. Molly juga memiliki banyak ide untuk mengakali kebutuhan ketujuh anaknya dengan melungsurkan banyak barang dari anak sulungnya ke anak-anak selanjutnya agar tidak mubazir. Molly juga memilih untuk membeli kuali dan buku-buku bekas untuk anak-anaknya di tengah keterbatasan finansial yang dialaminya.

Bahkan saat menerima uang undian sebanyak 700 Galleon di buku ketiga, Molly memilih untuk menggunakan uangnya untuk berlibur di Mesir, sekaligus mengunjungi anak sulungnya, Bill Weasley yang bekerja di sana. Dia beranggapan bahwa uang tersebut harus digunakan untuk family time yang dapat dikenang selamanya alih-alih membeli sedikit kemewahan yang hanya dapat bertahan sementara saja.

Molly Weasley juga sudah sejak dulu menginginkan peri rumah di rumahnya agar dapat membantu dan meringankan segala macam pekerjaan rumah tangganya, tetapi dengan segala faktor yang saya sebutkan di atas, keluarga Weasley ini tidak mampu mempekerjakan seorang peri rumah meskipun peri rumah seringkali bekerja di keluarga penyihir berdarah murni dan pejabat Kementrian Sihir. Untungnya, Molly Weasley ini sangat jago memasak dan mahir dalam sihir-sihir yang membantunya dalam pekerjaan rumah tangga.

Itulah poin-poin utama kenapa keluarga Weasley ini begitu miskin dan melarat. Meskipun melarat, keluarga Weasley ini hidup penuh cinta dan kehangatan. Dan juga JK Rowling ingin menegaskan bahwa meski di dunia sihir, kita harus tetap bekerja dan memiliki keahlian yang tinggi, karena tidak ada sihir yang dapat memunculkan makanan. Makanan merupakan satu dari perkeculian Prinsip Hukum Gamp tentang Transfigurasi Elemental. Yang intinya, penyihir tidak bisa menyihir agar makanan muncul di hadapan mereka begitu saja.

BACA JUGA Mengenang 7 Tokoh Guru Pertahanan Ilmu Hitam Hogwarts yang Menyebalkan dalam Film Harry Potter dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Baca Juga:  Kelas Menulis Agus Noor: Tips dan Teknik Dasar Menulis Cerpen yang Sangat Mencerahkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
16


Komentar

Comments are closed.