Menerima Sepenuh Hati Jokes Ala Bapak-Bapak yang Menyebalkan

Biar pun so yesterday, tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang kita semua akan merindukan jokes ala bapak-bapak yang sempat fenomenal pada masanya.

Artikel

Seto Wicaksono

Bagi saya, humor itu dinamis dan nggak ada habisnya. Apapun itu, selama kita tahu konteksnya bercanda serta ‘nggak baper’ dan tidak berujar atau mengajak seseorang kepada suatu kebencian yang berkenaan dengan SARA, pasti akan menyenangkan juga menghibur.

Seperti kita ketahui bersama, dari mulai Warkop DKI, Patrio, Cagur, candaan ala OVJ (Opera Van Java), sampai dengan komedi tunggal—stand up comedy—semuanya lucu dan berjaya pada masanya. Walau kata sebagian besar orang humor itu juga termasuk selera yang tidak bisa dipaksakan, namun bagi saya ketika lucu ya lucu dan tidak ada syarat apa pun; entah komedi slapstick, gimmick, pun asalnya dari perkataan yang katanya cerdas. Satu yang pasti: kalau lucu ya lucu aja—saya pasti ketawa.

Yang saya tidak sadari sebelumnya, ternyata melucu dan berusaha menghibur orang lain itu tidak semudah yang saya bayangkan. Entah bagaimana caranya para pelawak atau komedian bisa menghibur kita semua—meski saya tahu hal tersebut butuh usaha serta perjuangan. Saya pernah mencoba menghibur gebetan yang sedang murung. Alih-alih dapat ucapan, “makasi ya sayang udah usaha bikin aku senyum”, eh malah diomeli “kamu nggak usah ngelucu, deh. Kamu bukan pelawak.” Jleb

Pikir saya ketika itu, menghibur satu orang saja perlu perjuangan apalagi memuaskan dahaga humor banyak orang. Memang, apa pun itu selalu dibutuhkan skill paling tidak bakat—tak terkecuali menghibur orang.

Saya sendiri sebenarnya adalah orang yang mudah tertawa, entah karena melihat suatu acara komedi, film, bahkan saat nongkrong dan berbincang dengan teman-teman yang lain. Mau orang bilang candaannya receh atau dark comedy sekalipun. Eh, tapi candaan yang dark itu gimana, sih? Jujur saya belum memahami konsepnya. Lebih menyebalkan lagi saat seseorang berlebihan dalam menggunakan kata tersebut di tiap kolom reply di Twitter—so dark, gelap banget, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Jangankan Bolu, Kondom Pun Harus Halal

Bicara soal mudah tertawa, ada satu jenis candaan yang bukannya membuat saya tertawa dan terhibur malah jengkel yang dirasakan, yaitu jokes ala bapak-bapak yang kini dapat dengan mudah ditemui melalui WhatsApp karena biasa disebar menggunakan aplikasi chat tersebut. Awalnya, saya sempat bertanya-tanya berapa usia candaan itu sampai bisa dikategorikan jokes ala bapak-bapak.

Sampai akhirnya saya mendapatkan salah satu contohnya yang melibatkan percakapan antara pasangan suami-istri, begini kira-kira:

Istri: Pa, kita setelah menikah kok nggak pernah jalan-jalan, sih?

Suami: Coba Mama pikir lagi, kita menikah karena jodoh. Betul? Kan Mama tau, jodoh itu nggak akan ke mana-mana.

Krik-krik. Selain memaksa, candaan ala bapak-bapak ini saya perhatikan seringkali memakai format cocoklogi—yang walaupun nggak nyambung, ya dipaksa nyambung biar dapat sisi lucunya. Sebetulnya candaan tersebut sudah ada sejak lama—bahkan selama saya SD—sekitar 20 tahun yang lalu. Mungkin itu kenapa ada istilah candaan bapak-bapak, karena memang hanya beberapa orang yang paham, khususnya mereka yang berusia memasuki usia 30 tahun. Paling tidak, begitu perkiraan dan gambaran saya perihal candaan bapak-bapak.

Hal tersebut sebetulnya juga bisa dikategorikan candaan receh seperti yang seringkali dikatakan oleh banyak orang. Ya, sejenis candaan yang terbilang sederhana dan seakan tidak perlu banyak usaha dalam meramu materinya. Padahal, dalam hasil yang sederhana biasanya ada proses yang rumit. Tapi, hal itu menjadi tidak penting apalagi orang di sekitar kita sudah terbiasa menerima hasil dibanding menghargai proses. Eh, kok malah jadi serius.

Mau seperti apa pun candaannya—melalui grup lawak, komedi tunggal, atau candaan ala bapak-bapak—selama bertujuan menghibur baiknya dihargai dan beri apresiasi karena menghibur orang lain sudah pasti butuh usaha. Yang menurutmu tidak lucu, belum tentu bagi yang lain dan berlaku juga sebaliknya. Kalau dirasa tidak lucu, ya nggak perlu menghina. Namanya juga usaha.

Baca Juga:  Makan Terasa Hambar Tanpa Ritual Cekrek-Upload

Begitu pula dengan para bapak-bapak yang berusaha menghibur kawan-kawannya di grup Whatsapp dan tak jarang di-forward kembali di chat personal kepada orang lain. Biar pun lawakannya so yesterday, tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang kita semua akan merindukan jokes ala bapak-bapak yang sempat fenomenal pada masanya.

---
672 kali dilihat

10

Komentar

Comments are closed.