3 Tebak-tebakan Sunda yang Melegenda walau Super Nyebelin – Terminal Mojok

3 Tebak-tebakan Sunda yang Melegenda walau Super Nyebelin

Artikel

Muhammad Ridwansyah

Saking terkenalnya saya karena jago main tebak-tebakan, saya sering disuruh jadi orang pertama yang memulai permainan ini sama temen-temen saat reunian. Inilah kenapa saya juga paham betul soal tebak-tebakan Sunda. Sebenarnya saya sempat protes kepada mereka, “Kenapa kita udah pada dewasa gini masih aja suka main tebak-tebakan?”

Mereka menjawab, “Siapa bilang kami suka main tebak-tebakan. Justru, kebiasaan kamu lah, entah itu pas waktu SMA atau pas ngampus, kamu suka tiba-tiba ngajak main. Jadi, kami udah kenal kalau kamu memang hobinya begitu.”

Saya akui, pernyataan mereka benar. Sering waktu SMA, kalau guru lagi nggak ada di kelas, suka tiba-tiba nanya ke temen sekelas, contohnya, “Cicak, cicak apa yang nggak bisa nempel di dinding?”

Teman sekelas saya yang lagi asyik menulis, mendadak pada mikir. Ada yang menjawab cicak rowo, cicak yang kakinya buntung, dan lain-lain. Padahal, jawabannya gampang. Cicak yang nggak bisa nempel di dinding yaitu cicak mati.

Lain lagi pas di kampus. Temen-temen saya sampai ngakak banget pas saya ngasih tebak-tebakan begini, “Sayur, sayur naon anu pang ngeunah nna?” (Sayuran, sayuran apa yang paling enak?)

Temen-temen saya, ada yang menjawab kembang kol, buncis, dan lain-lain. Padahal, sayuran yang paling enak itu kangkung. Sebab, kepanjangan kangkung yaitu yang satu ngangkang, yang satunya lagi melengkung.

Selain dikenal, orang yang terbiasa main tebak-tebakan kadang paham betul mana yang bisa bikin ngakak dan mana yang garing. Barangkali, semua orang bisa menilai juga. Tapi, perbedaannya, orang yang nggak biasa main tebak-tebakan suka langsung menilai, “Ah, nggak lucu!” sedangkan orang yang udah biasa mah kalem aja, nggak pernah berkomentar. Paling, kalau ada yang nggak lucu, dalam hati suka bilang, “GITU AJA, BOS!”

Akan tetapi, bagi saya, main tebak-tebakan menggunakan bahasa daerah itu udah paling top. Nah, sebagai orang Sunda, saya menemukan tiga tebak-tebakan Sunda yang sangat menyebalkan. Padahal, tebak-tebakan ini udah basi banget. Tapi, kok bisa turun-menurun, dari generasi saya di 90-an sampai generasi milenials sekarang. Gila. Tebak-tebakan orang Sunda di bawah ini masih laku sampai sekarang.

Naon artina naon?

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tebak-tebakan ini nggak lucu. Arti “naon artina naon” yaitu ‘apa artinya apa?’. Serius, garing, kan? Tapi, bagi orang Sunda, ini lucu banget.

“Naon artina naon?”

“Enya naon”

“Enya, naon artina naon?”

“Enya jawabana naon”

“Enyaa, naon teh artina naon?”

“Enya jawabana teh naon”

“Enya naon teh artina naon, ih”?

“ENYA NAOON!!!”

“ENYA NAON ARTINAAA?”

“ENYA JAWABANA NAON!”

Kalau tebak-tebakan ini lawannya sesama orang dewasa, pasti pas denger, “Naon artina naon?” bakal langsung tersenyum. Tanda udah basi. Berbeda ketika tebakan-tebakan ini lawan mainnya anak kecil. Saking polosnya, anak kecil nyangkut aja gitu sampai nggak selesai-selesai. Memang, tebak-tebakan Sunda ini masih laku buat ngerjain anak-anak kecil di kala lagi gabut. Dan, ada saja sesama anak kecil yang memakai tebak-tebakan ini juga. Gila. Ini gara-gara orang Sunda yang udah pada dewasa sengaja menularkannya.

Hayam jeung endog heulaan mana?

Sekali lagi, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ini nggak lucu sama sekali. Bahkan, dianggap basi. Arti “hayam jeung endog, heulaan mana” kira-kira artinya ‘ayam dan telur, duluan mana?’.

Dulu, pernah ada penelitian terkait tebakan-tebakan ini. Stephen Hawking, orang yang sangat jenius, mengatakan bahwa telur lebih dulu ada. Dan kamu tahu reaksi orang Sunda mendengar penelitian itu? Diketawain sambil mempertahankan argumentasinya kalau ayam lah yang ada lebih dulu.

Di sisi lain, Dr. Colin Freeman dari Sheffield University, setelah melakukan penelitian juga dengan bukti-bukti ilmiahnya mengatakan bahwa ayam lah yang lebih dulu ada. Dan, kamu saya menertawakannya sambil mempertahankan argumentasi bahwa telurlah yang lebih dulu ada. Mana tim telur, nih???

Mari saya ceritakan orang Sunda ketika berdebat terkait tebak-tebakan ini. Ceritanya di pos ronda, bapak-bapak nanya ke saya.

“A, aa kan jago main tatarucingan, cik jawabnya….” (A, aa kan jago main tebak-tebakan, coba jawab, ya….)

“Mangga….” (Silakan….)

“Hayam jeung endog, heulaan mana?” (Ayam dan telur, duluan mana?)

“Ah, basi, Mang!” (Ah, basi, Mang!)

Si Mangnya maksa, “SOK-SOK JAWAB HEULA.” (AYO-AYO JAWAB DULU.)

“Endog” (telur).

“Salah. Nya hayam atuh, lamun teu aya hayam, moal aya endog.” (Salah. Ya ayam atuh, kalau nggak ada ayam, nggak ada telur.)

Harusnya, tebak-tebakan ini selesai sampai di situ. Tapi, gobloknya saya mempertahankan alasan saya dengan jawaban yang serupa.

Jawaban saya, “Nya endog lah. Lamun teu aya endog, moal aya hayam.” (Ya telur lah. Kalau nggak ada telur, nggak ada ayam.)

Gitu aja terus. Tebak-tebakan ini, masih dipakai sama anak-anak kecil di kampung saya. Terdengar di halaman rumah saya, anak kecil sedang main tanah-tanahan. Salah satu di antara mereka nanya sama temennya, “Alya, hayam jeung endog ceuk Alya heulaan mana, sok?” (Alya, ayam dan telur menurut Alya duluan mana, ayo?) Seketika saya pengin bilang kepada mereka, “Deeek, basiii!!!”

Kasur dibalikeun jadi naon?

Waini, tebak-tebakan Sunda yang cukup melegenda. Arti “kasur dibalikeun jadi naon” adalah ‘kasur dibalik jadi apa’. Udah tahu jawabannya, ya? Nggak lucu, ya? Mari saya ceritakan bagaimana orang Sunda melakukan tebak-tebakan goblok ini.

“Kasur dibalikeun jadi naon?” (Kasur dibalik jadi apa?)

Sambil monyong, “Tetep we atuh jadi kasur.” (Tetep aja atuh jadi kasuur.)

“Salah. Kasur dibalikeun jadi rusak lah.” (Salah. Kasur dibalik jadi rusak lah.)

Maksudnya, kata “kasur” dibaca dari belakang ke depan jadi “rusak”. Tapi, masalahnya nggak sampai di situ. Dilanjut dong tebak-tebakannya dengan pertanyaan yang hampir serupa.

“Sop dibalikeun jadi naon?” (Sop dibalik jadi apa?)

Sebab sudah terfokus sama kata “kasur” dibaca dari belakang ke depan, dia menjawab, “Berarti jawabana pos atuh. Kan sop lamun dibaca ti tukang ka hareup jadi pos.” (Berarti jawabannya pos atuh. Kan sop kalau dibaca dari belakang ke depan jadi pos).

“SALAH. SOP DIBALIKEUN JADI BAHE ATUH!” (SALAH. SOP DIBALIK JADI TUMPAH ATUH!)

Maksudnya, sayur sop nih kalau lagi ditaruh di wadah lalu dibalik, ya tumpah.

Untuk menutup tulisan ini, saya mau ngasih tebak-tebakan sama kalian. Begini, tadi saya bilang kalau cicak yang nggak bisa nempel di dinding yaitu cicak mati. Sekarang, coba jawab.

Ikan, ikan apa yang nggak bisa berenang?

 

Baca Juga:  Prank Foto dan Video Hantu: Contoh Kecil Aksi Teror Mental di Era Digital

Bagi yang mau jawab ikan mati, kalian salah! Jawabannya IKAN PAUSE~

BACA JUGA Panduan Memahami Istilah-istilah Main Gaple Orang Sunda dan tulisan Muhammad Ridwansyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
10


Komentar

Comments are closed.