Menebak Asal-usul Istilah ‘Udan Kethek’ untuk Menyebut Fenomena Hujan Saat Panas

Artikel

Avatar

Masa peralihan dari musim panas menuju musim penghujan menyebabkan cuaca menjadi susah diprediksi, cepat sekali berubahnya. Misal hari ini hujan, besoknya panas terik. Paginya hujan, siang panas terik, sore hujan lagi. Lalu muncullah satu fenomena yang cukup unik dan nggateli, yaitu “udan kethek” atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘hujan monyet’. 

Udan kethek adalah hujan yang turun saat matahari sedang terik. Fenomena ini biasanya terjadi pada sore hari, sekitar pukul 14.00-16.00. Hal ini disebabkan oleh awan mendung yang berada tepat di atas kita, namun di saat bersamaan matahari bersinar dari arah barat. Jadilah hujan sambil panas-panasan.

Bicara soal udan kethek, ternyata masih banyak yang bingung soal namanya. Bahkan orang Jawa sekalipun masih nggak ngerti asal-usulnya. Mereka yang bingung beralasan bahwa hujan ini nggak ada sangkut pautnya dengan kethek atau monyet. Lebih baik kita bedah bersama-sama alasan kenapa istilahnya demikian.

#1 Sarana untuk mengolok-olok

Pada zaman dulu, setiap rumah di Jawa memiliki penampungan air bernama gentong yang diletakkan di depan rumah. Fungsi dari gentong ini untuk menampung air. Air kemudian digunakan untuk membersihkan diri sebelum masuk ke rumah. Konon, tradisi ini juga sarana untuk tolak bala. 

Sebenarnya ada fungsi lain dari gentong yang berkaitan dengan perilaku malasnya manusia. Gentong kerap digunakan untuk melihat apakah di luar benar-benar sedang hujan atau tidak. Jika air dalam gentong tenang artinya belum hujan, jika airnya beriak artinya hujan sudah datang.

Lalu, apa hubungannya dengan perilaku malas dan udan kethek?

Sebenarnya gentong bisa digunakan untuk memastikan cuaca tanpa seseorang harus keluar dari rumah dan menengadah ke langit. Ketika hujan datang saat panas terik, orang di dalam rumah hanya bisa melihat panas teriknya. Untuk memastikan hujan atau tidak, orang tersebut tinggal menengok ke luar melalui jendela dan melihat air yang ada dalam gentong. Praktis dan memfasilitasi perilaku malasmu bukan?

Kenapa hal ini disebut udan kethek? Sebab saat ada orang menengok ke luar jendela, yang terlihat hanyalah kepalanya. Mirip dengan perilaku monyet saat bertemu dengan manusia, cuma ngintip-ngintip. Dari situlah masyarakat Jawa mulai menyebut fenomena ini sebagai udan kethek, yaitu hujan saat banyak “kethek” menengok ke luar jendela. Masyarakat seolah sedang mengolok-olok mereka yang pemalas, untuk memastikan hujan saja tidak mau berjalan ke luar rumah.

#2 Perilaku monyet yang sering turun gunung saat kemarau

Alasan kedua berasal dari kebiasaan monyet yang turun gunung ketika persediaan makanan di gunung sudah habis. Tujuan dari monyet-monyet ini adalah mencari sumber makanan di pemukiman warga. Perilaku atau kebiasaan turun gunung ini terjadi ketika musim panas, saat banyak tanaman yang mati kekeringan sehingga memengaruhi stok makanan.

Lalu, apa hubungannya sama istilah udan kethek? Sebab, momen turunnya hujan mirip-mirip dengan momen ketika kethek turun gunung saat cuaca sedang panas. Cukup masuk akal kan?

#3 Pisuhan seseorang

Alasan ini dijelaskan oleh teman saya yang bisa jadi berdasarkan asumsi dia sendiri. Katanya, saat orang sedang sibuk menjalankan aktivitas dan tiba-tiba datang hujan deras tanpa mendung, orang tersebut cenderung akan misuh dengan mengatakan, “Pancen udan kethek!!! Aku gek kerjo iki lho.” Saking kesalnya karena aktivitas terganggu, hujan pun dipisuhi dan dikata-katai “monyet”.

Untuk alasan ketiga ini, saya sih curiga hal ini terinspirasi dari pengalaman pribadi teman saya yang kesal saat beraktivitas, tapi tiba-tiba hujan. Soalnya teman saya ini seorang petani yang kadang membajak sawah. Wajar misuh-misuh waktu lagi asyik ngurusin padi. 

Photo by Min An via Pexels.com

BACA JUGA Kok Bisa ya Arwah di Film Horor Itu pada Sakti? dan tulisan Imron Amrulloh lainnya.

Baca Juga:  Bukan Hanya Bahasa Jawa, Bahasa Sunda Juga Peduli dengan Jatuhnya Umat Manusia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
0


Komentar

Comments are closed.