Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Membongkar Nasib Warga Terdampak Proyek Tol Jogja

Anggalih Bayu Muh Kamim oleh Anggalih Bayu Muh Kamim
7 November 2021
A A
Tol Jogja mengorbankan lahan pertanian

Tol Jogja mengorbankan lahan pertanian

Share on FacebookShare on Twitter

Pemberian “ganti untung” proyek tol Jogja sedang menjadi sorotan beberapa waktu lalu seiring upaya percepatan pembebasan lahan. Media massa gencar memberitakan warga terdampak proyek tol yang telah menerima “ganti untung” uang miliaran rupiah. Berkah kesejahteraan pasca-pemberian “ganti untung” proyek tol Jogja digambarkan dengan warga yang mampu membeli berbagai kendaraan pribadi baru, rumah, serta lahan pengganti. Warga terdampak proyek tol Jogja yang telah menerima “ganti untung” juga menjadi sasaran pemasaran dari berbagai produk otomotif.

Sorotan mengenai berkah dari “ganti untung” proyek tol Jogja sebenarnya kembali menunjukan masalah kesejahteraan yang hanya dilihat secara parsial dari perspektif kemiskinan moneter. Besarnya jumlah uang “ganti untung” yang diterima oleh warga terdampak tidak lantas menggambarkan kondisi kesejahteraan yang membaik. Shohibuddin (2019) menjelaskan bahwa melihat masalah ketimpangan semata dari aspek pengeluaran dan pendapatan sama saja mengabaikan penghidupan masyarakat Indonesia yang sangat bergantung pada “sumber daya agraria” yang dimiliki. Sumber daya agraria sendiri dapat berupa lahan pertanian, aset gedung, ruang, dan lain-lain.

Sudut pandang ketimpangan agraria dapat menjadi perspektif lain untuk melihat benarkah proyek tol Jogja mampu memberikan berkah pada warga terdampak melalui pemberian “ganti untung.” Ketimpangan agraria sebagaimana penjelasan Shohibuddin (2019) memiliki dua jenis yakni ketimpangan alokasi dan ketimpangan distribusi yang dapat digunakan untuk melihat masalah kesenjangan di balik proyek tol Jogja.

Masalah ketimpangan alokasi dapat dilihat dari berbagai faktor. Salah satunya kesenjangan antarsektor dalam proyek tol Jogja yang justru semakin bertambah parah dengan adanya gesekan antara kepentingan megaproyek infrastruktur, permukiman, dan keberlanjutan produksi pertanian. Masalah ketimpangan alokasi adalah buah dari tata ruang dan tata kuasa agraria yang tidak berkelanjutan. Penggunaan ruang tidak disesuaikan dengan fungsi ruang, melainkan dengan kepentingan ekonomi yang dengan leluasa dapat mengubah peruntukan yang sudah ada.

Hal tersebut misalnya tercermin dari proyek tol Jogja yang mengorbankan 35,48 hektar area yang sudah ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Berdasarkan pemaparan beritasatu.com menunjukkan bahwa trase Jogja-Solo mengorbankan lahan pertanian seluas 8,64 ha dan trase Jogja-Bawen menggunakan LP2B seluas 26,84 ha.

Tumpang tindih dengan sektor lain juga terjadi dalam peruntukan permukiman penduduk. Proyek tol Jogja sendiri akan mengorbankan lahan permukiman seluas 221,1 ha yang tersebar di enam kecamatan dan 20 desa. Tentu bukan perkara mudah untuk mencari lahan pengganti bagi peruntukan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang harus diikuti dengan mengubah fungsi ruang di tempat lain. Warga terdampak yang harus mencari tempat tinggal dan lahan pengganti dengan menggunakan uang “ganti untung” juga harus mencari tempat sendiri sesuai dengan kemampuan finansial mereka.

Pemerintah telah membiarkan warga harus menanggung masalah penghidupannya berdasar mekanisme pasar. Kalangan elit bahkan cenderung melihat masalah penghidupan warga terdampak tol Jogja sebagai urusan pribadi. Pemberitaan oleh media arus utama bahkan cenderung memposisikan warga terdampak tol Jogja sebagai objek “kuasa bahasa” dari kalangan elit. Kalangan elit dari level desa dan daerah dalam berbagai pemberitaan media justru menempatkan warga terdampak sebagai pihak yang lugu dan perlu dibimbing dalam memanfaatkan uang “ganti untung” pembebasan lahan tol.

Hal tersebut tercermin dalam imbauan kalangan dalam pemberitaan media massa. Yang meminta warga terdampak tol untuk menggunakan uang secara tidak boros dan jangan hanya untuk membeli kendaraan pribadi.

Baca Juga:

Jangan Jadi Dosen dan Guru: Gajinya Irit, Tanggung Jawab Selangit

UMP Jogja Memang Naik, tapi Tetap Saja Tak Ada Efeknya, Tetap Tak Bisa Beli Apa-apa!

Kuasa bahasa juga bekerja dalam pemberitaan media arus utama dengan mem-framing warga terdampak sebagai pihak yang diuntungkan dengan adanya proyek tol. Media arus utama menyebut warga terdampak yang telah mendapat “ganti untung” sebagai miliarder baru, kampung miliarder, mendadak tajir, serta berbagai penyebutan lainnya. Padahal besaran ganti untung yang berbeda-beda di antara warga terdampak menunjukan adanya masalah ketimpangan kepemilikan lahan.

Hal tersebut menunjukan adanya masalah ketimpangan distribusi di antara sesama warga. Warga dengan nilai ganti untung paling besar adalah dia yang selama ini memiliki kepemilikan aset terbesar dibandingkan dengan penduduk lainnya. Realitas tersebut misalnya dapat dilihat dari pemberitaan tribunnews.com memaparkan bahwa warga yang mendapat nilai “ganti untung” yang paling besar di Pundong, Sleman adalah penduduk dengan luasan lahan paling luas dan memiliki berbagai macam aset.

Segi ketimpangan distribusi mampu menunjukan bahwa proyek tol Jogja tidak lantas memperbaiki masalah kesejahteraan warga terdampak. Besaran nilai “ganti untung” yang bergantung pada lokasi lahan tidak dapat semata dijadikan indikator masalah kesejahteraan warga terdampak tol di tengah ketimpangan kepemilikan lahan di antara sesama penduduk. Masalah ketimpangan distribusi di antara sesama warga sendiri adalah buah dari tidak berjalannya reforma agraria sesuai dengan Undang-Undang Pokok Agraria.

Sudrajat (2014) menjelaskan bahwa reforma agraria di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap tanah-tanah di luar Sultan Ground terhenti sejak masa Orde Baru disebabkan minimnya pembiayaan, konflik politik di antara pelaksana, dan tidak adanya kemauan dari rezim Orba untuk melakukan land reform. Hal tersebut menyebabkan masalah ketimpangan distribusi terus terjadi sampai dengan adanya pelaksanaan pembebasan lahan tol Jogja.

Peran pemerintah untuk mengatasi masalah ketimpangan agraria di balik proyek tol Jogja menjadi penting. Pemerintah perlu memfasilitasi dan mendampingi warga terdampak tol untuk memastikan mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Hal tersebut untuk mencegah terulangnya kasus warga terdampak proyek YIA yang tidak mendapatkan penghidupan lebih baik. Khususnya dalam janji-janji kesejahteraan dari megaproyek infrastruktur. Penyelesaian masalah ketimpangan alokasi dan distribusi mengandalkan pada tata ruang dan tata kuasa agraria yang seadil-adilnya.

Sumber gambar: Pixabay

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2021 oleh

Tags: kekayaankesejahteraanlahan pertanianOKBtol jogja
Anggalih Bayu Muh Kamim

Anggalih Bayu Muh Kamim

Orang daerah paling timpang yang tidak mungkin pasrah dengan masalah ketimpangan di tanah kelahirannya.

ArtikelTerkait

Belajar Mengelola Keuangan dari Paman Gober

Belajar Mengelola Keuangan dari Paman Gober

9 Mei 2020
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

UMP Jogja Memang Naik, tapi Tetap Saja Tak Ada Efeknya, Tetap Tak Bisa Beli Apa-apa!

1 Desember 2023
PNS Diizinkan Berwirausaha Adalah Bukti kalau BKN Saja Menyerah Memperjuangkan Kesejahteraan PNS

PNS Diizinkan Berwirausaha Adalah Bukti kalau BKN Saja Menyerah Memperjuangkan Kesejahteraan PNS

8 Mei 2023
Jadi PNS Nggak Melulu Enak, Inilah Hal-hal Pilu yang Harus Dihadapi Terminal mojok

Benarkah Jadi Anak PNS Hidupnya Pasti Sejahtera?

16 Juni 2021
Seretnya Gaji Tenaga Kesehatan dan Konyolnya Rasio Dokter 1: 1.000 Penduduk

Seretnya Gaji Tenaga Kesehatan dan Konyolnya Rasio Dokter 1: 1.000 Penduduk

31 Mei 2023
Investasi bodong mojok

Kiat-kiat biar Nggak Terjebak Investasi Bodong

7 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kampus-Kampus Bangkalan Madura Bakal Jadi "Pabrik" Pengangguran kalau Tidak Mau Berbenah Mojok.co

Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah

6 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
4 Spot Healing Murah Meriah yang Bikin Hidup di Semarang Jadi Mendingan  Mojok.co

4 Spot Healing Murah Meriah yang Bikin Hidup di Semarang Jadi Mendingan 

6 Mei 2026
Bangkalan Madura Nggak Selalu Jelek, Pengalaman Cetak Ulang KTP di Mal Pelayanan Publik Membuktikan Sebaliknya Mojok.co

Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira

5 Mei 2026
Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, kalau Malam Dikuasai Kontainer

Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, Malam Dikuasai Kontainer

5 Mei 2026
5 Keanehan Lokal Jogja yang Bikin Kaget Orang Semarang (Wikimedia Commons)

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

5 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal
  • Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten
  • 5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita
  • Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi
  • 4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok
  • Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.