Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Memang Tak Banyak Indomaret dan Alfamart di Bantul, tapi, Masalahnya di Mana?

Supriyadi oleh Supriyadi
13 April 2026
A A
Kasihan Bantul Nggak Butuh Dikasihani seperti Namanya, Kecamatan Ini Sudah Overpower alfamart indomaret

Kasihan Bantul Nggak Butuh Dikasihani seperti Namanya, Kecamatan Ini Sudah Overpower (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Memang apa masalahnya kalau Bantul nggak punya banyak Indomaret dan Alfamart? Terbelakang gitu?

Ada satu standar kemajuan “peradaban” suatu kota atau kabupaten yang belakangan ini terasa semakin sederhana, sekaligus semakin aneh: jumlah Indomaret dan Alfamart. Ya, standar tersebut memang tidak resmi, tapi entah mengapa jadi barometer. Semakin banyak minimarket berdiri di suatu daerah, semakin mudah mereka menyimpulkan bahwa tempat itu sudah “maju”.

Mirisnya, kalau pakai ukuran seperti itu, Bantul bakal terlihat kalah. Tidak sulit menemukan daerah lain yang dalam radius beberapa ratus meter sudah punya lebih dari satu minimarket. Sementara di Bantul, keberadaan mereka masih terasa “seperlunya saja”—ada, tapi tidak mendominasi. Hal ini pun dikeluhkan juga oleh orang luar Bantul, yang bilang sulit cari Indomaret dan Alfamart di Kabupaten ini.

Jujur saja, ini sebenarnya hal yang menyebalkan. Kalau sekadar belanja kebutuhan sehari-hari, tidak harus ke Indomaret atau Alfamart. Di Bantul juga banyak toko kelontong, mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari yang swalayan hingga bukan swalayan, mulai dari yang grosir hingga yang retail.

Tapi, entah mengapa istilah belanja itu melekat dengan Indomaret dan Alfamart. Lalu, pelan-pelan muncul perasaan yang tidak selalu diucapkan terang-terangan: apakah ini berarti Bantul tertinggal?

Ya jelas tidak, dong.

Tidak semua tempat harus maju

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya menyimpan asumsi yang cukup besar—bahwa kemajuan harus terlihat sama di semua tempat. Padahal, justru di situlah letak masalahnya.

Bantul tidak pernah benar-benar dirancang untuk menjadi salinan dari kota di sebelahnya; Yogyakarta ataupun Sleman. Ia tumbuh dengan ritmenya sendiri, dengan kepadatan yang tidak dipaksakan, dengan ruang-ruang yang tidak semuanya harus diisi oleh bangunan yang seragam.

Baca Juga:

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

Di beberapa sudut, jalanan masih terasa lebih lega meskipun di titik-titik tertentu ada juga kemacetan ketika jam berangkat sekolah, berangkat kerja, dan pulang kerja. Aktivitas berjalan tanpa harus selalu berkejaran dengan efisiensi. Bahkan waktu, dalam banyak hal, seperti tidak terlalu tergesa-gesa.

Sleman dan Kota Jogja jelas bukan standar baku, karena ya tidak ada yang menetapkan seperti itu. Sah-sah saja misalnya Bantul memilih jalan yang berbeda atau sampai sekarang tidak sama. Yang jadi masalah ya, kita nggak bisa menerima perbedaan. Semua entah kenapa harus seragam.

Kita melihat daerah lain yang dipenuhi minimarket, lalu merasa ada sesuatu yang kurang di tempat kita sendiri. Seolah-olah kalau nggak ada minimarket, atau kelewat dikit, tidak sesuai standar. Tidak mencerminkan kenyamanan.

Padahal, kalau semua tempat harus memiliki wajah yang sama—dengan toko yang sama, tata letak yang sama, bahkan pengalaman yang sama—lalu apa yang tersisa dari sebuah daerah selain namanya di peta?

Bantul jelas beda dan tidak harus sama

Bantul mungkin tidak menawarkan sensasi “kota” dalam pengertian yang paling populer. Tidak semua sudutnya terang benderang di malam hari, tidak semua kebutuhannya bisa dipenuhi dalam satu pintu otomatis. Singkatnya, Indomaret dan Alfamart tidak harus memenuhi Bantul sebagai penyedia kebutuhan masyarakat sehari-hari meskipun kini jumlah keduanya semakin bertambah.

Tapi justru karena sedikitnya Indomaret dan Alfamart, Bantul masih punya ruang untuk bernapas sebagai dirinya sendiri.

Kemajuan sering kali kita bayangkan sebagai sesuatu yang harus terlihat jelas: bangunan baru, sistem modern, dan simbol-simbol yang mudah dikenali. Tapi ada jenis kemajuan lain yang lebih tenang—yang tidak selalu mencolok, tapi terasa dalam cara hidup yang tidak kehilangan arahnya.

Bantul, dalam banyak hal, mungkin berada di titik itu.

Perlu dipahami, Bantul tidak menolak perubahan. Minimarket tetap ada, berkembang, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi mereka tidak sepenuhnya mengambil alih wajah daerah ini. Tidak sampai membuat semua sudut terasa sama.

Standar super aneh macam jumlah Indomaret dan Alfamart sebagai tolok ukur kemajuan sebaiknya tidak kita pakai, atau dijadikan pegangan yang kuat. Sebab, jika hanya itu yang dipakai untuk menentukan harga diri sebuah daerah, itu mencerminkan betapa lemah cara pandang kita melihat suatu kota.

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: alfamartBantulindomaretminimarket
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

5 Kerajaan Jin di Jogja Paling Ikonik yang Menyimpan Kisah Unik (Unsplash)

5 Kerajaan Jin Mengepung Jogja, Bukti Provinsi Ini Memang Ikonik dan Menyimpan Banyak Kisah Unik

4 Juni 2024
Indomaret Kuasai Gunungkidul, Ancam Eksistensi Toko Kelontong (Unsplash)

Indomaret dan Alfamart Menjamur di Gunungkidul Menjadi Ancaman Nyata Bagi UMKM Toko Kelontong

2 April 2024
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Ketidakadilan Bagi Warga Bantul Perihal Jarak Tempuh di Jogja (Unsplash)

Ketidakadilan Bagi Warga Bantul Perihal Jarak Tempuh di Jogja

21 Mei 2023
Warung Kelontong Sulit Disaingi Minimarket, asal Bisa Membenahi Boroknya Mojok.co

Warung Kelontong Sulit Disaingi Minimarket, asal “Boroknya” Dibenahi

26 Mei 2024
Tipe-tipe Pengunjung yang Menyebalkan ketika Berada Di Hadapan Kasir Terminal Mojok

Tipe-tipe Pengunjung yang Menyebalkan ketika Berada Di Hadapan Kasir

20 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

5 Juli 2026
Menyandang Gelar Andi sebagai Perempuan Bugis Itu Membanggakan, tapi Ekspektasi Orang-orang Kadang Kelewat Melelahkan

Menyandang Gelar Andi sebagai Perempuan Bugis Itu Membanggakan, tapi Ekspektasi Orang-orang Kadang Kelewat Melelahkan

2 Juli 2026
Tinggal di Bangkalan Madura Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Bakal Cocok Tinggal di Sini Mojok.co

Jangan Keluyuran ke Bangkalan Madura, Niat Menenangkan Pikiran Malah Dibuat Menyesal karena Perjalanan yang Melelahkan

5 Juli 2026
Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu Mojok.co

Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu

3 Juli 2026
Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat Mojok.co

Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat

2 Juli 2026
Dear Lembaga Les Privat, Tolong Kasih Upah yang Layak ke Pengajar Mojok.co

Dear Lembaga Bimbingan Belajar, Tolong Pekerjakan Guru Les Privat dengan Layak

2 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.