Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
30 Desember 2019
A A
Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah Kemudian Hidup Kembali

Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah Kemudian Hidup Kembali

Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena channel youtube yang bertema podcast video memang saat ini sedang dinikmati. Terlepas dari tema pembicaraannya yang tidak semuanya bisa dikategorikan berkualitas. Bergantung dari tema yang dibahas dan siapa narasumber yang dijadikan lawan bicara dalam podcast tersebut.

Dari sekian banyak channel yang menyediakan vidoe podcast dengan konsep berdialog santai, channel om Deddy menjadi salah satu pilihan yang sering saya nikmati. Meskipun sebenarnya gak semua bintang tamu atau narasumber dari om Deddy adalah seorang inspirator, atau postive influencer, ada juga dari mereka yang toxic influencer, tapi setidaknya setiap podcast yang dihadirkan mampu memperkaya sudut pandang saya terhadap sebuah polemik sosial yang tengah ramai di masyarakat.

Pada podcast terbaru, om Deddy mengundang seorang komika yang bernama Dzawin Nur Ikram. Kalau kalian gak tahu, Dzawin Nur ini adalah komika yang segenerasi dengan Dodit Mulyanto, jebolan suci 4 kalau tidak salah.

Secara pribadi, saya sendiri tidak tahu-tahu amat sama mas Dzawin ini, karena jujur, saya bukan homo sapiens penikmat stand up komedi. Sebab menurut saya lawakan mereka gak lebih lucu dari lawakan sule atau andre cs. Tapi di sisi lain, saya mengapresiasi bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia stand up komedi merupakan orang-orang cerdas, termasuk cerdas dalam beropini. Kalau gak cerdas, gak mungkin dong diundang di podcastnya om Deddy? Yah kaaan?

Singkatnya dalam podcastnya dengan mas Dzawin ini, om Deddy membagi podcastnya menjadi tiga bagian. Dari tiga bagian tersebut, ketiganya membahas topik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pada podcast yang pertama, tema dialognya adalah seputar isu-isu sosial keagamaan. Pada podcast bagian kedua, dialog di antara mereka berisi kegibahan perihal selebritis dadakan yang starsyndrome dan miskin prestasi. Dan pada podcast bagian terakhir keduanya berdialog mengenai idealisme dalam profesi dan makna kesuksesan.

Sebenarnya semua pembahasan di tiga podcast tersebut menarik, karena di tiga podcast tersebut semuanya saya tonton tiap detiknya tanpa saya skip, dan sampai saat ini, menurut saya, podcast bersama dzawin merupakan yang terasik dan begitu berwawasan. Saya yang aslinya bego jadi merasa agak pinter karena nonton podcast ini.

Tapi terlepas dari itu, entah kenapa pada podcast ketiga, ketika membahas mengenai definisi kaya. Om deddy bertanya kalau gak salah seperti ini “ menurut loe, loe kaya di bidang apa? Dzawin langsung menjawab “kebebasan, karena sekarang gue merasa uang yang gue punya udah cukup, ya kan kebutuhan gue dikit, gue gak punya anak, gak punya istri. Mungkin nanti kelak kalau punya anak prioritasnya beda lagi. Laki-laki mati ketika menikah, kemudian hidup kembali”.

Nah secara personal, saya sedikit tergelitik pada kalimat “Laki-laki mati ketika menikah, kemudian hidup kembali.” Sebagai seorang laki-laki tulen yang berstatus mantan mahasiswa, yang berpredikat sebagai manusia idealis, tentunya statement Dzawin tersebut saya anggap sebagai sebuah cara berpikir yang begitu filosofis.

Baca Juga:

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

Kalimat “mati kemudian hidup kembali” tentunya tidak bisa ditafsirkan dalam arti yang sebenarnya. Karena kalimat tersebut merupakan kalimat metafora yang bebas tafsir yang bisa dimaknai secara bebas bagi mereka yang mendengarkannya. Termasuk saya pun memiliki tafsir filosofis sendiri terhadap kalimat tersebut.

Saat mendengar kalimat itu, saya langsung mengafirmasinya dengan penuh antusiasme. Kalimat tersebut seperti sebuah pembenaran terhadap alasan mengapa laki-laki itu kebanyakan (meski gak semua) agak susah kalau diajak nikah muda. Kalimat itu juga sekaligus sebagai senjata pamungkas ketika dilempari pertanyaan, “kapan nikah?”

Karena secara filosofis, menurut penafsiran saya terhadap kalimat tersebut itu seperti ini, kita sebagai laki-laki, dari kecil diajarkan memiliki cita-cita dan berbagai harapan yang ingin kita capai saat kita menginjak fase pemuda, tepatnya pada umur 20an tahun sebelum menginjak fase berkeluarga. Ketika harapan atau cita-cita, kemudian dibenturkan dengan proses kehidupan sosial yang kita alami akan membentuk kita menjadi mahkluk yang berideologi. Nah ideologi ini yang membuat kita sebagai laki-laki memiliki skala prioritas dalam menjalani kehidupan.

Skala prioritas yang kita ciptakan membuat kita memiliki target dan pencapaian yang ingin kita raih. Pada fase ini, karena kehidupan kita hanya tentang diri sendiri, maka semua hal yang tidak berkaitan dengan ideologi hidup dan di luar dari target-target yang telah ditentukan menjadikan kita sebagai orang yang menjalani hidup dengan sekadarnya dan terkesan spontanitas dan penuh kejutan. Idoelogi yang kita ciptakan menjadikan kita menjadi manusia bebas dan lebih mengedepankan nilai dari pada nominal.

Berbeda ketika telah menikah, kita sebagai laki-laki akan mati dan hidup kembali. Artinya  pola pikir yang mengedepankan skala prioritas pada ideologi yang kita rawat selama ini harus kita matikan dan mulai menghidupkan skala prioritas baru yang bukan lagi mengendepankan idealisme, tapi lebih kepada tujuan hidup bersama. Bahkan terkesan lebih pragmatisme.

Apalagi ketika kita sudah punya anak, maka perihal nilai idealisme akan tinggal kenangan. Yang ada hanya perihal kebutuhan yang sifatnya nominal. Karena dalam memenuhi kebutuhan keluarga terutama anak, kita tidak bisa lagi egois dengan hanya berporos pada nilai, tapi juga nominal. Bukankah sandang, pangan, papan diperoleh dengan cara bertransaksi yang sifatnya nominal?

Maka dari itu, berangkat dari perkataan Dzawani di atas, bahwa memang keputusan untuk menikah merupakan sebuah keputusan berat karena semuanya sama saja membunuh diri sendiri, kemudian dihidupkan kembali. Meskipun pada dasarnya, pernikahan pun bisa saja tidak mematikan idealisme kita secara keseluruhan, namun hal tersebut dengan catatan apabila mendapat pasangan yang memliki kecocokan.

Bila sudah seperti itu, janganlah lagi kalian-kalian para, teman, sedulur, bulek, om lan liyane, selalu menyuruh “ndang rabi lee”. Sungguh seruan itu sama saja menyuruh kami mati. ziahahah lebay amat yah.

Terakhir saya yang ingin menekankan kembali bahwa perkataan Dzawin tersebut mengandung kalimat metafora yang bebas tafsir. Dan mungkin saja ada laki-laki lain di luar sana yang memiliki tafsir yang berbeda. meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan pun bisa saja berpikiran sama dengan apa yang saya tafsirkan.

BACA JUGA Belajar dari Soleh Solihun atau tulisan Muhamad Iqbal Haqiqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2022 oleh

Tags: dzawin nurlaki-laki menikahmenikah
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Buanglah Khayalan Romantis Pernikahan kalau Masih Serumah dengan Mertua terminal mojok.co

Lebih Baik Menikah atau Melajang? Pertimbangan Memilih Hidup Sesuai Kondisi Pribadi

2 Mei 2019
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Adik Saya Duluan Nikah dan Saya Nggak Ada Masalah dengan Itu

15 Februari 2021
dipanggil bu

Rasanya Dipanggil “Bu” Dan Dikira Sudah Menikah Padahal Masih Kuliah

6 September 2019
Nyore Bahagia sambil Mempersiapkan Pernikahan di Festival Kecil Sore Hari

Nyore Bahagia sambil Mempersiapkan Pernikahan di Festival Kecil Sore Hari

8 Agustus 2023
tips menjadi menantu idaman mertua idaman mojok.co

Menjadi Mertua dan Menantu Idaman Tidak Semudah Tips Suksesnya, Sist

10 Agustus 2020
Saya Bukannya Anti Menikah, Tapi Punya Pertimbangan yang Kompleks terminal mojok.co

Saya Bukannya Antimenikah, tapi Punya Pertimbangan yang Kompleks

17 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?
  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.