Malam Ramadan, Edukasi Seks di Pesantren dengan Ngaji Qurrotul Uyun – Terminal Mojok

Malam Ramadan, Edukasi Seks di Pesantren dengan Ngaji Qurrotul Uyun

Artikel

Avatar

Ramadan menjadi momen di pesantren untuk memperbanyak mengkaji kitab-kitab klasik karya para ulama. Dari sehabis sahur sampai dini hari, banyak digelar pengajian kitab kuning, yang diikuti sesuai jenjang tingkatan sekolah. Kitab Qurrotul Uyun karya Syekh Muhammad Altahami bin Madani, menjadi salah satu kitab yang dikaji saat malam bulan Ramadan. Kitab ini banyak dikaji sebagai kajian edukasi seks di pesantren. Tidak hanya terdapat pembahasan seks perihal tata cara berjima’ (bersetubuh), kitab ini juga membahas tentang pernikahan, bahkan sampai detail bagaimana menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga.

Tidak hanya kitab Qurrotul Uyun, ada juga kitab-kitab lain yang  senada dengan kitab ini, seperti kitab Uqudullujain, Fathul Izar, dan masih banyak kitab-kitab fikih yang tidak detail khusus membahas edukasi seks, tapi ada beberapa bab yang di dalamnya memuat pembahasan tersebut. Kitab Qurrotul Uyun, bisa dibilang kitab paling populer yang digunakan dalam kajian ini.

Lalu, mengapa harus dipelajari pada malam bulan Ramadan?

Sebenarnya bukan karena alasan urgen atau bagaimana. Lantaran lebih tepat dipelajari pada bulan Ramadan, bulannya pengajian kitab, dan bisa satu bulan khatam. Berbeda dengan kitab kajian tafsir Alquran, hadis, fikih keseluruhan, tarikh (sejarah), dan kitab-kitab bidang lain yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan satu kitab.

Memilih malam bulan Ramadan, juga memang waktu yang paling tepat. Karena biasanya ngaji kitab  ini dilaksanakan setelah salat jamaah tarawih di pondok. Kalau biasanya jam segitu santri-santri sudah mulai ngantuk dan agak malas berangkat ngaji, akan lebih semangat dan dijamin melek ketika pengajian kitab Qurrotul Uyun ini berlangsung.

Sewajarnya manusia biasa yang tentunya memiliki hawa nafsu, kalau kitab ini dikaji di siang bolong sedang berpuasa, takutnya jadi membayangkan yang tidak-tidak juga, kan. Hehehe

Ngaji Qurrotul Uyun biasanya diikuti oleh santri-santri mahasiswa, atau santri yang sudah berumur 20 tahun ke atas, karena dihitung sebagai usia yang sudah siap menikah. Beberapa pesantren tidak mewajibkan seluruh santri mahasiswa mengikuti pengajian kitab ini. Biasanya, hal ini menjadikan santri-santri putri yang sudah cukup usia, tapi belum lama tinggal di pesantren tersebut, menjadi malu-malu untuk mengikuti ngaji ini.

Alasan masih belum waktunya, lah. Alasan belum memiliki calon suami, lah. Alasan ikutnya tahun besok saja, lah. Kalau ada yang mau berangkat, disorakin, “Cie, ngaji Qurrotul Uyun.” Wah, pokoknya rame deh, kalau ngaji kitab ini.

Lantaran kitab Qurrotul Uyun bisa dibilang kitab yang sangat vulgar dalam menjelaskan tata cara atau adab dalam bercinta sesuai ajaran Islam. Bahkan sampai detail menjelaskan bagaimana posisi tubuh pasutri dalam bercinta, halal-haram yang dilakukan pada saat bercinta, kapan waktu yang tepat untuk melakukan, sampai terdiri dalam 18 pasal dengan pembahasan yang berbeda setiap pasalnya.

Tidak hanya sampai di situ, ngaji Qurrotul Uyun di masa pandemi ini juga masih berlangsung via ngaji online. Seperti, pondok An-Nawawi, Berjan, yang setiap harinya setelah salat tarawih live streaming pengajian Qurrotul Uyun. Kalau ngajinya online begini kan jadi nggak kelihatan ya, yang ikut ngaji siapa aja. Jadi ya, nggak ada malu-malu kayak pas ngaji langsung di pesantren.

Saya pantau live streaming ngaji tersebut sampai hari ini juga masih aman-aman aja yang mengikuti ngajinya. Kalau pengajian live streaming pesantren kitab-kitab lain, semakin ke sini kan pemirsanya semakin sedikit. Ya, you know lah, namanya juga ibadah~

Tidak hanya umat muslim, sebagai manusia, di mana pun dan apa pun laku kita, harus selalu didasari dengan adab atau akhlak. Termasuk juga, ketika sedang dalam lingkup rumah tangga, bahkan bercinta sekalipun, juga harus tetap menggunakan akhlak yang baik. Terlebih, sesuai ajaran Islam.

Urgensi yang seperti ini juga terlihat dalam kasus-kasus seperti sekarang. Kasus kekerasan seksual tidak hanya didapati pada pasangan pra nikah. Banyak juga kasus kekerasan seksual yang terjadi pada pasutri sah. Jika tanpa dilandasi edukasi seks sebelumnya, atau ilmu-ilmu berumah tangga sesuai porsi agama, tentu kekerasan yang seperti ini akan terus menerus terjadi.

Di situ peran edukasi seks sebelum menikah menjadi penting dan semoga pendidikan yang seperti ini tidak lagi menjadi hal tabu, baik di pesantren maupun di luar pesantren.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Liverpool yang Juara, Kenapa MU yang Dihina? Norak!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.